PANGLIMA TNI MENERIMA AUDIENSI MPH PGI

0
37

 

 

SIARAN PERS
PERTEMUAN MPH PGI DENGAN PANGLIMA TNI

 

Jakarta, Gramediapost.com

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, pada hari ini, Kamis (21/3) menerima MPH-PGI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Adapun pokok-pokok pembicaraan antara MPH-PGI dengan Panglima TNI adalah:
1. Ketua Umum PGI, Pdt Dr Henriette Lebang, menyampaikan apresiasi atas kehadiran TNI dalam menjaga tetap tegaknya Pancasila dan UUD 45. Gereja-gereja menaruh harapan besar pada Panglima dalam menindak tegas kelompok-kelompok yang berupaya membenturkan Pancasila dengan ideologi lain. Lebang juga mengapresiasi netralitas TNI menyambut Pemilu 2019 seraya mengharapkan sikap tegas TNI dalam menjaga keamanan dan ketertiban menjelang, selama dan paska Pemilu.
2. Meresponi hal ini, Panglima menyebutkan, sebagai pesta demokrasi Pemilu harus dilaksanakan dengan sukacita. “Untuk ini TNI hadir untuk memberikan jaminan rasa aman”, kata Panglima. Selanjutnya Panglima menyatakan bahwa TNI mengajak warga untuk berbicara dengan hati, agar tak seorang pun menjadi golput hanya karena hoax atau rasa takut. Panglima juga menegaskan TNI akan menghadapi dengan tegas para penumpang gelap yang ingin hancurkan NKRI. “Hanya karena kepentingan sesaat, kita dipecah-pecah melalui penyebaran hoax dan ujaran kebencian. Saya sudah perintahkan untuk hadapi ini dengan tegas”, demikian Panglima.
3. Ketua Umum PGI mengutarakan upaya-upaya yang dilakukan oleh PGI dan gereja-gereja dalam mempersiapkan warga menyambut Pemilu 2019 ini.
4. Terkait masalah Papua, Lebang menyampaikan beberapa pokok pikiran PGI tentang masalah Papua. Di antaranya disampaikan harapan dan aspirasi masyarakat dan gereja di Papua sebagai hasil perkunjungan pastoral PGI ke Papua pada Januari 2019 lalu. Selanjutnya Pdt Bambang Wijaya, Ketua PGI, menyampaikan perlunya memperhatikan dan menghargai harkat diri masyarakat asli Papua. “Dari aspirasi yang kami serap ada perasaan diabaikan dalam pembangunan Papua selama ini. Bahkan ada yang mengatakan, ‘tanah kami sudah habis diambil, yang tersisa hanya adat dan agama kami, dan ini pun sekarang sedang diobok-obok’. Oleh karenanya, masyarakat Papua sangat gembira bila orang atau kelompok yang membawa kerisauan di Papua bisa diamankan”.
5. Masih tentang masalah Papua ini, Ketua Umum PGI, menegaskan perlunya menyelesaikan luka-luka lama masyarakat Papua, dengan menyelesaikan pelanggaran HAM dan ragam kekerasan di masa lampau.
6. Pdt Albertus Patty, Ketua PGI lainnya, menyampaikan perlunya diusut tuntas kehadiran kelompok garis keras yang merisaukan masyarakat Papua. Menurutnya, hal ini menjadi penting karena masyarakat trauma dengan konflik Ambon dan Poso di masa lampau yang banyak melibatkan kelompok garis keras tertentu.
7. Patty juga menyampaikan kegelisahan masyarakat Papua dengan pembangunan infrastruktur yang ada sekarang ini, yang bertanya-tanya, untuk siapa ini semua? Ada semacam kekuatiran bahwa ini bisa makin meminggirkan masyarakat. Pdt. Patty juga mendorong Panglima untuk lebih banyak mengajak dialog para pimpinan gereja di Papua, terutama dengan GKI di Tanah Papua, sebagai gereja terbesar di Papua.
8. Meresponi masalah Papua ini, Panglima menyambut baik beberapa aspirasi yang disampaikan dan berjanji untuk menindaklanjutinya.
9. Selanjutnya, Pdt Gomar Gultom, Sekum PGI, menyampaikan tiga hal penting yang perlu dibicarakan lebih detil di masa depan, yakni: pertama, perlunya dikembangkan lebih lanjut kerjasama TNI dan gereja-gereja dalam pembinaan mental prajurit TNI. Menurutnya, selama ini PGI baru melakukan kerjasama dengan Disbintal yang ada di TNI AD, sementara dengan AU dan AL belum ada. Kedua, perlunya dipercakapkan lebih serius tentang rekrutmen dan pengadaan pendeta di tubuh TNI. Gultom mengingatkan bahwa pendeta adalah jabatan gerejani, dan olehnya harus ada kerjasama antara TNI dan gereja dalam pengadaan pendeta tentara ini. Menurut Gultom, hingga akhir 80-an kerjasama ini berjalan baik, namun belakangan ini menjadi tak terlalu jelas. Ketiga, Perlunya diselaraskan pengaturan pelayanan dan pengorganisasian POUK-POUK di kompleks TNI. PGI memiliki SOP tersendiri dalam pengelolaan POUK, dan TNI juga punya mekanisme sendiri tentang pengelolaan POUK di kompleks TNI. Menurut Gultom, hal ini perlu diselaraskan, bila perlu dalam bentuk MoU antara TNI dan PGI.
10. Panglima menyambut baik ajakan ini dan bisa dilanjutkan dengan percakapan yang lebih detil bersama Pusbintal TNI.
11. Pada pertemuan ini, Panglima didampingi oleh Aster TNI, Mayjen George Elnadus Supit, dan Kapusbintal TNI, Laksma Budi Siswanto. Sementara rombongan MPH terdiri dari Pdt Henriette Lebang, Pdt Bambang Wijaya, Pdt Albertus Patty, Pdt Gomar Gultom, Pdt Krise Gosal, Pdt Julianus Mojau, Beril Huliselan dan Herman Agustinus Lumbantoruan.

Baca juga  GAPKI: Greenpeace Usik Kedaulatan NKRI

Jakarta, 21 Maret 2019
Humas PGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here