BERBUAT BAIK : CIRI UTAMA MANUSIA CIPTAAN ALLAH

0
44

Oleh:  Weinata Sairin

“Male parta male dilabuntur.
Apa yang diperoleh dengan cara yang jahat akan hancur menyengsarakan”.

Keserakahan, ketamakan, sikap konsumtif yang bertentangan dengan sikap ugahari telah memenjara manusia sekuler dan bahkan mengerdilkan manusia sebagai ciptaan Allah yang amat mulia. Teks-teks kitab suci yang memberi peringatan bahwa cinta akan uang adalah _akar_ segala kejahatan, bahwa harta benda duniawi bisa menjadi berhala yang menjauhkan manusia dari Sang Khalik tidak mampu mengubah hasrat dan nafsu manusia yang dinafasi oleh roh sekulerisme. Agama diposisikan hanya sebagai simbol status, yang selalu ada pada KTP, CV, data base, tetapi yang nilai dan rohnya tidak _built in_ pada kedirian manusia. Manusia modern dan sekuler hidup dengan topeng-topeng hipokrisi yang dengan penuh bangga dipertontonkan dalam pentas kehidupan.

Dalam beberapa waktu terakhir ini media memberitakan beberapa kali dan dibanyak tempat pejabat publik “tertangkap tangan” oleh lembaga anti korupsi negeri ini tatkala sedang melakukan aksinya. “Tertangkap tangan” adalah sebuah istilah hukum yang menyatakan peristiwa tertangkapnya seseorang ketika sedang melakukan tindak kejahatan pidana.

Dari segi bahasa memang ada perbedaan nuansa antara kata “tertangkap tangan” dengan “tangkap tangan”. Keberbedaan makna akan jelas dalam contoh kalimat berikut.
“Seorang pejabat _tertangkap tangan_ ketika sedang menyerahkan amplop berisi uang…..”
Kalimat ini ingin menegaskan bahwa sang pejabat kepergok, pada saat ia menyerahkan amplop uang itu kepada pihak lain. Ada yang melihat, ada saksi mata yang menyaksikan peristiwa itu.
Akan beda nuansa dan maknanya pada kalimat berikut.
“Seorang aparat _tangkap tangan_ pencopet di kereta api ketika penumpang berdesak desakan”.
Kalimat ini secara jelas ingin menyatakan bahwa tangan si pencopet ditangkap, sehingga pencopetan digagalkan. “Tertangkap tangan” adalah istilah hukum, sedangkan kata “tangkap tangan” adalah kalimat biasa dan bukan sebuah ‘terminus tehnikus’ dari bidang hukum.

Baca juga  Toyota Launching New Avanza dan New Veloz dengan Desain Lebih Mewah dan Stylish

Dalam dunia yang makin modern, peradaban yang makin maju, hasrat umat manusia untuk memperoleh harta dunia yang fana ini makin menguat. Sejatinya hasrat semacam itu bisa difahami karena memang ada kedekatan manusia fana dengan harta benda duniawi. Sayangnya upaya untuk memenuhi hasrat itu terkadang tidak dilakukan sesuai dengan norma, kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku.

Sebagai warga dari sebuah bangsa yang amat kental keberagamaannya, secara jujur kita prihatin menghadapi kenyataan seperti itu. Kenyataan bahwa upaya memperkaya diri dengan cara-cara yang melawan hukum dan atau menafikan ajaran agama yang dipeluknya. Kita sedih. Kita prihatin, tatkala agama yang sering kita agungkan itu hanya menjadi apendiks dan kosmetik dalam kehidupan kita memasyarat, membangsa dan menegara.

Maraknya korupsi dari pusat hingga ke daerah, penipuan, lembaga keuangan abal-abal dan perusahaan bodong, pembunuhan, penculikan dan berbagai tindak kriminal lainnya yang hampir kesemuanya dalam konteks memburu uang dan harta benda; penyalahgunaan wewenang, perjalanan DN dan LN yang fiktif, membuktikan secara sempurna kerapuhan spiritualitas warga bangsa kita. Dari berbagai pengalaman empirik kita menyaksikan bahwa harta yang diperoleh dari kejahatan berujung pada kehancuran. Koruptor harus masuk penjara karena keputusan pengadilan yang sudah inkracht, karirnya berakhir, keluarga berantakan, aset disita, derita dialami secara sempurna, nama baik pupus dari catatan sejarah. Kehancuran benar-benar dialami oleh mereka yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta.

Sebagai umat beragama yang taat kita akan terus berupaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan kita. Hal itu memang tidak mudah dan sederhana. Rekan saya pak Kyai menyatakan yang penting adalah *nawaitu*, niat baik untuk mewujudkan hidup yang berkenan kepada Tuhan. Bahwa hal itu memerlukan perjuangan ya pasti.

Baca juga  Keluarga Besar Marhaenis Gelar Halal Bihalal dan Haul Bung Karno 

Pepatah kita mengingatkan secara implisit agar kita memperoleh sesuatu itu harus dengan cara yang baik yang mengindahkan kaidah moral dan agama.

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here