Film “Kuambil Lagi Hatiku” Memadukan Budaya Indonesia Dengan Kisah Pencarian Arti Keluarga

0
9

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Produksi Film Negara (PFN), BUMN yang berkiprah di bidang perfilman kembali memproduksi film setelah 26 tahun. Film berjudul “Kuambil Lagi Hatiku” (Borobudur Love Story) menggandeng Wahana Kreator Nusantara dan pihak Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan yang merupakan BUMN yang bergerak di bidang pariwisata. Film ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan Salman Aristo menjadi produser. Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono bertindak sebagai penulis.

Film bercerita tentang Sinta seorang India keturunan yang tengah merencanakan pernikahan dengan Vikas. Namun menjelang pernikahannya, Widi sang ibu mendadak kabur ke Indonesia. Sinta yang didesak untuk mempercepat pernikahan oleh calon mertua, terpaksa mencari tahu ibunya pergi kemana. Setengah mati Sinta memutar otak mengira-ngira kemana tujuan sang ibu. Dia teringat dengan kotak tua kenangan ibunya dan mendiang sang ayah. Di kotak itu, Sinta menemukan fotofoto lama orang tuanya di Borobudur. Tanpa pikir panjang, Sinta nekat pergi menyusul Widi untuk membawanya pulang. Vikas awalnya bersikeras untuk menemani, namun Sinta butuh Vikas supaya bisa mengalihkan perhatian keluarganya. Semua demi rentetan upacara pernikahan mereka. Vikas setuju, dengan syarat, Sinta harus selalu mengabari Vikas setiap waktu. Sinta mengiyakan. Bermodalkan beberapa foto lama orang tuanya, Sinta pergi ke kampung sang ibu, yang bahkan tak pernah dia ceritakan sebelumnya, Desa Borobudur.

Dibintangi oleh Lala Karmela, Cut Mini, Dimas Aditya, Ria Irawan, Sahil Shah, Dian Sidik, dan Ence Bagus. Film ini siap ditayangkan pada 21 Maret 2019.

Lala Karmela mengatakan untuk memahami karakternya, ia belajar dua budaya yaitu budaya Jawa dan India, “Karakter yang aku mainkan, Sinta lahir dan besar di India. Aku harus belajar bahasa, tarian, dan bagaimana orang India dalam keseharian bersikap. Selain itu, belajar budaya Jawa juga karena kebanyakan film diambil di sekitar Borobudur.”

Baca juga  Yasonna H. Laoly Pada Dies Natalis Ke-52 dan Natal PIKI 2015: "Tanggung-Jawab Moral PIKI Untuk Pro-Aktif Memajukan Bangsa"

Mengambil latar keindahan Candi Borobudur, film ini hendak memperlihatkan tentang kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia. Pemilihan Borobudur bukan sekadar setting film, namun juga merupakan sebuah aspek penting dari film. Patut diingat bahwa Candi Borobudur adalah bangunan yang termasuk dalam World Heritage Site oleh UNESCO.

Mohamad Abduh Aziz, Direktur Utama Produksi Film Negara menjelaskan, “Cerita film ini berasal dari ide PFN yang kemudian dikembangkan bersama Wahana Kreator Nusantara dan Taman Wisata Candi. Sebagai perusahaan film, kami harus memahami perkembangan zaman dan berperan dalam menghidupkan industri.”

Film “Kuambil Lagi Hatiku” merupakan produksi terbaru dari PFN setelah terakhir melakukannya di era 90an. PFN merupakan salah satu perintis industri film di Indonesia pada saat terbentuk. Berdiri di tahun 1934, sejarah perfilman Indonesia tak lengkap jika tidak membahas PFN. PFN adalah saksi sejarah perjuangan bangsa dan salah satu perusahaan perfilman yang tetap bertahan hingga sekarang.

Pada masa aktifnya, PFN memproduksi film dokumenter bertema kepahlawanan, lalu berkembang membuat film cerita yang bertema pendidikan dan penerangan yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dua film terakhir yang digarap adalah “Pelangi di Nusa Laut” (1992) dan “Surat Untuk Bidadari” (1994).

Selain TWC, sejumlah BUMN juga turut mendukung proses produksi film ini di antaranya Pertamina, Pelindo 3, Garuda Indonesia, Jasa Raharja, Wijaya Karya, Perusahaan Gas Negara, Bank Mandiri, Bank BTN, Bank Negara Indonesia, Patra Jasa, dan Pupuk Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here