MERAJUT HIDUP BERMAKNA

0
16

Oleh:  Weinata Sairin

_”Longae est vita si plena est. Hidup itu (akan terasa) panjang apabila penuh (dengan perbuatan yang bermakna)”._

Sebagai umat beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita bersyukur kepada Tuhan karena kita dianugerahkanNya kehidupan. Kehidupan adalah sebuah ruang, momen dan kesempatan yang didalamnya manusia mengekspresikan kemanusiaannya secara seutuhnya melalui kata-kata dan perbuatannya. Hidup adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, hidup adalah _privilege_, hidup adalah sesuatu yang istimewa, spesifik, yang tiada bandingnya yang dianugerahkan Tuhan bagi manusia. Hidup adalah ciptaan Tuhan, sebab itu hidup berada dalam frame time, dalam bingkai waktu, bahkan berada _didalam waktu_ dan memiliki limitasi. Oleh karena hidup itu anugerah, istimewa, sementara, berlimit maka hidup itu mesti diiisi dengan hak-hal yang produktif, konstruktif, kontributif sehingga hidup ini mewariskan sesuatu yang bermakna bagi zamannya.

Hidup yang dikuasai kefanaan dan limitasi itu semestinya diisi dengan hari-hari penuh dedikasi kepada sesama, sikap ketaatan dan _ketundukan_ kepada Tuhan Yang Maha Esa (surrender to The Lord). Dedikasi dan pengabdian yang kita wujudkan dalam rentang kehidupan akan terus membekas dalam ruang-ruang sejarah, bahkan tatkala maut datang menjemput. Lord Shaftesbury, bangsawan dari Shaftesbury yang ketujuh adalah seorang pekerja sosial yang amat aktif. Ia meninggal tahun 1885. Pada saat pemakamannya banyak sekali orang memadati daerah Trafalgar. Empat puluh ribu buruh pabrik berkumpul disana untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Disepanjang rute yang dilalui prosesi pemakamannya itu berdiri sekelompok orang yang pernah ia tolong dengan berbagai cara.

Pada saat kereta jenazah mendekat kelompok pedagang sayuran maka pemimpin mereka mengangkat spanduk dan bertuliskan “Aku adalah orang asing tapi ia mengizinkan aku menginap!”. Sejumlah anak yatim piatu yang pernah ia tolong memegang spanduk yang bertuliskan “Aku sakit dan kau kunjungi aku!”. Ditempat lain sekelompok besar buruh perempuan membawa selembar spanduk yang bertuliskan “Begitu banyak yang telah kau lakukan untuk saudaraku seperti juga yang telah kau lakukan untukku!”

Baca juga  Sopir Taksi dan Testimoninya

Hari-hari kehidupan yang dipenuhi dengan pengabdian dan dedikasi, solidaritas, simpati dan empati akan terus bermakna bagi seseorang bahkan tatkala ia telah didekap sang maut. Kebajikan yang ditaburkan akan terus hidup dan tidak akan pernah mengenal kematian.

Seorang Stephen Grelet pada awal abad ke-19 menyatakan : “Aku hanya akan menjalani hidup di dunia ini sekali saja. Oleh karena itu sesuatu yang baik yang bisa kulakukan atau suatu kebaikan yang bisa aku perlihatkan pada setiap umat manusia biarlah kukerjakan saat ini juga. Jangan biarkan aku _menunda_ atau mengabaikannya karena aku ‘tidak akan melintasi jalan ini lagi’. Ungkapan Stephen ini adalah sebuah komitmen untuk melakukan tindakan positif dan terpuji disepanjang perjalanannya menuju terminal yang penghabisan.

Setiap orang mestinya memiliki komitmen seperti yang diungkapkan Stephen Grelet baik tertulis maupun didalam hati. Hal yang menarik dari Stephen adalah penegasannya bahwa ia menjalani hidup didunia ini _sekali saja_. Oleh karena itu suatu kebaikan yang ia lakukan akan ia kerjakan saat itu juga tanpa harus _menunda_. Perasaan kesementaraan, dan keinginan melakukan secepatnya tanpa menunda adalah sebuah sikap terpuji dan cerdas dari Stephen yang membuktikan bahwa ia memiliki “sense of time” bahkan “sense of emergency” yang amat kuat.

Ada banyak orang yang, alih-alih mengungkapkan komitmen seperti Stephen, tetapi justru melihat kesementaraan hidup itu untuk mengembangkan sikap mumpungisme. Sikap seperti itu terwujud dalam berbagai bentuk perilaku negatif yang melawan hukum dan bertentangan dengan ajaran agama. Misalnya mumpung ada pada jabatan itu maka ia minta semua mereka dari golongan etnik tertentu melamar untuk menjadi pegawai di kantor itu. Atau juga mumpung seseorang ada dalam jabatan “basah” maka ia lakukan tindakan korupsi dalam berbagai bentuk.

Baca juga  Catatan Kritis Atas Buku "Yubileum 50 Tahun, 1964-2015 GKPI" (Bagian II)

Kita harus terus menerus melakukan hal-hal yang positif, menabur kebajikan, menyemai perdamaian dan kerukunan disepanjang hidup kita. Kita tak boleh lelah mengasihi orang tanpa membedakan Sara, kita harus mengampuni orang lain, kita terpanggil mengasihi musuh dan mereka yang membenci kita. Kita mesti mengisi waktu kita, rentang kehidupan kita dengan pikiran positif dan perbuatan bermakna.

Menurut pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini hidup akan terasa panjang jika diisi dengan hal-hal bermakna. Mari menabur kebaikan dan kebajikan tiada jemu hingga maut merenggut.

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here