Menjaga Indonesia Tetap Indonesia Pada Tahun 2019

0
15

Oleh: Marthin Laurel Siahaan

Slogan dan semangat “Make America Great Again” yang diusung oleh Trump menghasilkan kondisi yang sangat memperihatinkan. Kampanye ini telah berhasil menghasut para remaja di negara itu rasial dan intimidatif terhadap masyarakat adat Idian.

Konflik rasial dan intoleran dilaporkan banyak pihak semakin tinggi setelah Trump memakai slogan “Make America Great Again”. Sayangnya pemerintah Amerika yang telah berdosa besar terhadap masyarakat adat di Negara nya tidak ingin memperbaiki kesalahan terbesar mereka di masa lalu.

Dalam catatan sejarah, pemerintah Amerika sering sekali ikut campur dalam politik domestik pada suatu negara. Bahkan juga ada dalam domumen sejarah Indonesia dan dokumen resmi pemerintah Amerika.

Slogan sejenis Make America Great Again saya yakini akan ditularkan juga di Indonesia, karena Indonesia akan menghadapi pemilihan Presiden. Dalam beberapa tahun slogan ini meningkatkan konflik intoleran semakin tinggi di sana. Wajar saja bila itu terjadi, mantan Presiden Amerika Bill Clinton sudah memperingatkan bahwa Amerika Great Again adalah slogan Rasis.

Paham “Make America Great Again” bisa dikatakan merupakan bentuk transformasi dari paham yang lahir buntut dari Perang Dingin. Perang Dingin dahulu kala, Amerika sangat kewalahan menghadapi lawan terberatnya Uni Soviet. Untuk menghidupkan kembali semangat superior dari warga negara nya, Ronald Reagen akhirnya mempopulerkan “Let’s Make America Great Again” pada pemilihan Presiden 1980.

Saya sangat mengkhawatirkan dengan slogan “Make Indonesia Great Again”, berkaca dari tempat lahirnya paham tersebut. Paham tersebut bukanlah paham asli bangsa Indonesia, karena paham asli bangsa kita tidak menganut superioritas. Tercatat dalam sejarah, paham superioritas menghantarkan dunia dalam perang, seperti perang Dunia ke II.

Sangat penting menjaga ke-aslian pemikiran kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa Indonesia lahir bukan karena paham Superior, melainkan lahir dari pemikiran pembebasan dari penindasan dan kolonialisasi bangsa Eropa dan juga bangsa Indonesia bukan bangsa budak yang nasibnya ditentukan oleh siapa yang memenangkan perang Dunia — pemenangnya yang akan menguasai tanah Indonesia — bangsa Indonesia bukan bangsa budak yang mempunyai tuan.

Baca juga  Gerakkan Pengusaha Kristen Untuk Mentransformasi Bangsa Kita!

Orisinalitas pemikiran bangsa Indonesia yang lahir dari pergumulan, perjuangan, dan banyak memakan nyawa. Bukanlah sesuatu yang sederhana untuk dipertaruhkan atau bukan hal murahan. Masa awal-awal Revolusi Kemerdekaan, dia menjadi barang yang tak ternilai harganya.

Pemikiran yang akhirnya melahirkan Bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat bukan diambil dari bangsa lain, apa lagi slogan kampanye dari Pemilihan Presiden di negara lain. Bangsa Indonesia lahir dari rahim Ibu Pertiwi bukan lahir di negara lain.

Konstruksi berpikir Persaudaraan Sebangsa berpijak pada tiang-tiang pondasi senasib-sepenanggungan. Senasib-sepenanggungan adalah kemerataan, “jika saya bisa memakan buah yang segar, maka saudara saya dimanapun berada juga harus bisa memakan buah yang segar.”

Senasib-sepenanggungan dalam manusia yang merdeka, “jika saya bisa dengan bebas berbicara sendiri tanpa ada yang mengusik, maka saudara saya yang dimanapun berada juga harus bisa mendapatkan kemerdekaan mereka untuk berbicara sendiri tanpa ada yang mengusik.”

Pikiran orisinal bangsa Indonesia yang lahir dari semangat senasib-sepenanggungan lah yang menjamin diskriminasi di negara ini tidak menjadikan kita bangsa berbahaya. Semangat tersebut lah yang akhirnya mengizinkan kita tetap terus bergandengan tangan sebagai saudara sebangsa, walau saat ini pemikiran orisinal dari ibu dan bapak bangsa terus berusaha digerus oleh pedagang-pedagang paham.

Jika publik tengah ditakut-takuti dengan bangkitnya paham PKI, itu sebenarnya kedok yang dipasang untuk menutupi paham superioritas sedang digalakkan, dengan tujuan yang pasti yaitu, membuat bangsa Indonesia semakin melupakan bahwa kita ini semua senasib-sepenanggungan.

Jika pemikiran senasib-sepenanggungan ini semakin terkikis, maka yang ada hanyalah paham kebencian terhadap yang berbeda, terhadap yang minoritas, terhadap sesama anak bangsa yang merantau ke suatu daerah lain karena pekerjaan atau hal lainnya.

Baca juga  30 Tahun GKI : Bersama Mengukir Narasi  Bagi Bangsa

Paham Superioritas ini dahulu sempat dihidupkan, akhirnya muncul pertikaian antar suku, antar kelompok dan antar agama. Indonesia pada saat itu bisa bangkit walau menyisakan luka yang berbekas. Tidak ada kata lain, selain kita harus menolak paham-paham dari luar yang nantinya akan menghilangkan keaslian identitas kita sebagai Bangsa Indonesia.

*Pertarungan Paham pada Pilpres*

Rasa senasib-sepenanggungan adalah barang mewah yang kita miliki saat ini di tengah gempuran paham-paham superior yang dibawa masuk ke dalam negeri. Bagi saya, tahun 2019 bukan sekedar politik elektoral, bukan sekedar siapa yang menjadi penguasa. Tahun 2019 adalah pertarungan paham, apakah paham yang kita anut sebagai bangsa yang senasib-sepenanggungan yang menang? Jawaban saya, “ya harus menang!”

Pikiran atau paham asli yang lahir dari Ibu Pertiwi yang harus menang. Tidak ada tempat bagi pikiran dan paham asing untuk boleh berkembang biak dan menjadi pondasi di negeri ini, karena negeri ini dibayar oleh nyawa ibu dan bapak bangsa.

Negeri ini merdeka bukan ditentukan oleh para pemenang perang Dunia II. Negeri ini merdeka karena rasa senasib-sepenanggungan sebagai orang terjajah. Paham superior akan mendatangkan kesombongan, lupa diri, eksploitatif. Sementara paham senasib-sepenanggungan akan mendatangkan keindahan, kedamaian, ketentraman dan kerukunan sesama Bangsa Indonesia.

*Marthin Laurel Siahaan*
Ketua Umum DPP – Barisan Rakyat Satu Juni (Barak 106)
Hp: 0812-7645-135

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here