PDT.WEINATA SAIRIN: “MANUSIA : MAKHLUK SOSIAL YANG HIDUPNYA SALING MEMBANTU”

0
33

Oleh: Weinata Sairin

_”Bis dat qui cito dat. Memberi (bantuan) dengan cepat artinya memberi( bantuan) dua kali”_

Menjalani kehidupan ditengah dunia yang sedang mengalami perubahan cepat dan dinamis, tidak pernah bisa dilakukan sendiri. Bahkan menghidupi kehidupan dalam sebuah dunia yang tenang, dunia yang damai, hidup itu tidak mungkin dilaksanakan sendiri. Hidup manusia adalah hidup yang tergantung kepada orang lain, hidup yang secara sadar dan konsisten mengartikulasikan dimensi relasional.

Salah satu “materi” nasihat dari orangtua kita pada zaman baheula saat kita kecil adalah bagaimana hidup kita harus saling membantu. Membantu Bapak Ibu Guru, membantu orangtua kita sendiri, membantu sahabat, membantu masyarakat, membantu siapapun adalah bagian yang harus kita lakukan selama kita hidup.

Orangtua kita saat itu sangat berpesan agar kita mengungkapkan sikap baik hati kepada orang lain, tanpa mempertimbangkan kesiapaan orang itu. Hidup orang yang beragama itu harus saling bantu dan mengungkapkan kebaikan hati kepada setiap orang. Hal itu yang selalu dinyatakan orang tua pada zaman itu kepada anak-anaknya. Sikap baik hati sejak dulu kala memang telah menjadi hal yang diberi perhatian oleh banyak orang. Ada cerita menarik tentang kebaikan hati seorang Gandhi di zaman baheula. Pada tahun 1922 Gandhi dihukum 6 tahun penjara dan dikirimkan ke Yeravda, Gaol.

Kepala penjara Gaol tahu bahwa Gandi sangat dicintai baik oleh orang Hindu maupun Muslim. Oleh karena itu ia memilih nara pidana Afrika untuk melayani Gandhi. Orang Afrika tidak bisa berbahasa India dengan baik sehingga bisa mengurangi bahaya bila orang Afrika itu “disuap” oleh “musuh kerajaan”. Dengan demikian si terhukum dan pelayannya mau tidak mau harus menggunakan bahasa isyarat.

Baca juga  Hidup Bermartabat

Suatu hari orang Afrika itu disengat kalajengking dan ia berlari mendatangi Gandhi sambil memegang tangannya yang sakit. Tanpa menyia-nyiakan waktu Gandhi mengisap keluar racun dari sengat itu. Lelaki malang itu merasa lebih baik. Gandhi juga kemudian melakukan berbagai macam pengobatan agar orang Afrika itu lepas dari rasa sakitnya. Itulah pertama kali dalam hidupnya orang malang yang bernasib sial itu menerima banyak kebaikan dari seseorang. Setelah peristiwa itu ia melayani Gandhi dengan semangat serta kesetiaan tak kunjung padam.

Memberi bantuan merupakan wujudnyata dari kebaikan hati dan memiliki keterkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial. Dalam dunia modern kebaikan hati dan saling membantu tetap penting. Hidup manusia tidak sepenuhnya bisa diselesaikan dengan teknologi; digitalisasi. Jika seseorang meninggal dunia dan dibawa ke TPU atau ke Sandiego Hill itu tak bisa selesai dengan teknologi tapi perlu kebaikan hati dan perbantuan sehingga jenazah bisa dikebumikan dengan lancar dan standar. Hidup di rusunnawa, apartemen; cluster, perumnas, beteen tetap saja membutuhkan bantuan orang lain. Tatkala negeri ini didera bencana alam: banjir, gempa; tsunami, dsb maka bantuan itu amat urgen. Para koruptor telah menodai agamanya sendiri ketika dana bantuan bencana alam, dengan nafsu besar ia korupsi juga, sambil tersenyum bangga.

Bantuan untuk bencana, ternyata acap tak cepat pengirimannya. Memberi bantuan cepat, berarti dua kali memberi bantuan, kata pepatah. Bantuan cepat; langsung, sesuai dengan kebutuhan sangat menolong korban bencana. Kecepatan memberi bantuan, sama dengan bobot dan konten bantuan yang dua kali lipat.

Umat beragama yang beriman teguh adalah mereka yang setia dalam membantu dan mewujudkan kebaikan di dunia nyata. Mari lakukan itu dengan setia. Bantu para korban TSunami Anyer yang terjadi semalam.

Baca juga  Memilih Melampaui Hoaks

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here