MENGAPA BANYAK EKSEKUTIF/MANAJEMEN DAN KARYAWAN TIDAK MEMBERI KONTRIBUSI MAKSIMAL BAGI PERUSAHAAN??

0
35

Oleh: Drs. P. Adriyanto, MBA.

Ada dua faktor penting yang merupakan penyebab utamanya :
I. Kebijakan perusahaan yang keliru
II. Sikap mental, perilaku dan akhlak para eksekutif/manajemen dan para karyawan yang jelek.

Ditinjau dari sikap mental, perilaku dan akhlak:

√ *Mereka tidak memiliki budi pekerti yang menunjang tingginya produktivitas mereka.*

Apakah budi pekerti itu ? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi pekerti adalah tingkah laku, perangai, dan ahlak.
Saya tidak membahas budi pekerti ini secara mendalam, hanya memberi beberapa contoh dalam penerapannya di dunia kerja.

Karena budi pekerti ini sudah dilupakan oleh banyak orang, maka *sense of ownership/rasa memiliki* juga sangat tipis. Itulah sebabnya banyak manajemen/eksekutif dan karyawan yang tidak merawat asset yang dimiliki oleh perusahaan seperti kendaraan dan komputer dengan baik. Sebagian orang malah melakukan *fraud/kecurangan* dengan melakukan korupsi dan mencuri asset-asset milik perusahaan.

Bekerja tidak fokus karena *tidak mencintai pekerjaannya* sehingga banyak yang main game dengan yang komputer perusahaan, browsing iklan lowongan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak produktif seperti *horse playing* yakni mengunjungi teman sekerja untuk ngobrol. Sikap ini juga mencerminkan kurangnya rasa tanggungjawab.

Bekerja hanya untuk *mendapatkan gaji,* jadi orang-orang ini mempergunakan besarnya gaji sebagai ukuran seberapa besar produktivitas yang harus disumbangkan kepada perusahaan. Orang-orang ini tidak punya visi untuk meningkatkan potensi dan kemampuan/ kompetensinya.

Bahkan *grooming program/program penampilan profesional/professional image melalui program pemberdayaan* dan *coaching & mentoring* yang diselenggarakan oleh perusahaan, ditanggapi secara dingin.

Banyak di antara mereka yang tidak menghormati orang-orang yang posisinya di atas mereka terlebih CEO (karena takut atau memang kurang adat), atau orang yang lebih tua, karena bukan atasannya. Rasa hormat harusnya ditunjukkan dengan salutation : selamat pagi/siang/malam dan tegur sapa sebagai sesama karyawan di perusahaan. Ini menjadi salah satu penyebab tipisnya kohesivitas di antara sesama karyawan.

Baca juga  Nota Kesepahaman Komnas Perempuan dengan Lemhannas RI

Akibatnya juga tidak ada rasa kebersamaan terutama bila perusahaan dalam kondisi kritis.

✓ *Tingginya rasa kompetensi bukan kolaborasi/kooperasi.*
Sebagian besar walaupun tidak diakui, lebih menunjukkan sikap kompetensi dalam meniti karier mereka. Orang-orang ini ingin menonjolkan diri sendiri dengan merendahkan orang lain. Dalam rapat, berusaha mendominasi pembicaraan dan cenderung menyalahkan pendapat orang lain. Akibatnya, terjadi pengkotak-kotakan di antara departemen yang ada. Tidak adanya kerjasama akan merusak sendi-sendi keharmonisan organisasi. Orang-orang ini ingin menjadi *informal leader.* Persaingan memang baik, asal merupakan persaingan yang sehat dan terkontrol.
Sikap ini juga merupakan penghalang utama bagi terbentuknya *collective leadership* yang bisa saling menunjang dalam peningkatan produktivitas karyawan berdasarkan *shared purpose yang terbentuk*

✓ *Kebijakan jam kerja yang panjang (lebih dari 12 jam/hari) dan 6 hari dalam seminggu.*

Jam kerja yang panjang akan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental yang akan mengganggu tingkat produktivitas. Perusahaan merasa rugi bila menerapkan
*Quality of Work (ing) Life/QWL* Akibatmya para eksekutif/manajemen dan karyawan akan memderita unbalanced life di mana mereka akan kehilangan kehidupan keluarga, kehidupan sosial, kehidupan spiritual akibat lamanya jam kerja. Bila perusahaan bersedia menerapkan QWL, maka akan timbul rasa kebanggaan terhadap perusahaan. Dengan demikian, motivasi mereka akan meningkat karena mereka bekerja tidak hanya untuk memenuhi ambisi perusahaan.

¹✓ *Tidak/kurangnya trust dari para karyawan dan rasa inconfidence dari pimpinan*
Kondisi ini akan merusak citra perusahaan dalam jangka waktu tertentu yang harusnya dijaga agar tetap sustainable. Bagaimana mereka dapat memberi kontribusi maksimal bagi perusahaan dalam kondisi dimana antara karyawan dan manajemen saling mencurigai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here