APKIP AKAN MENGGELAR SEMINAR PENGARUH PORTUGIS DI INDONESIA

0
25

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

Tepatnya tanggal 20 Januari 2019 di Tahun Baru, Asosiasi Persahabatan dan Kerjasama Indonesia Portugal (APKIP) atau Indonesian Portugal Friendship and Coorporation Association akan menggelar Seminar yang bertajuk Pengaruh Portugis di Indonesia, yang  direncanakan diadakan di Gedung Yayasan Bung Karno, Jl. Proklamasi Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan persiapan Seminar tersebut Ketua APKIP Bapak Harry P. Haryono mengatakan : “Masih banyak masyarakat Indonesia dan dunia yang belum mengetahui Pengaruh Portugis di Indonesia, maka dengan seminar ini kiranya akan memberikan wawasan betapa banyaknya pengaruh Portugis.” Hal ini senada dengan pendapat Antonio Pinto da Franca dalam buku Influence Portugues in Indonesian.

Beberapa daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh di Indonesia misalnya daerah : Larantuka, Ternate, Sika, Lamno dan lain-lain. Pengaruh baik kebiasaan keagamaan yang menggunakan Bahasa Portugis masih berlaku sampai sekarang dalam acara Semana Santa di Larantuka yaitu dengan membawa arakan patung Jesus Kristus pada setiap Hari Paskah.

Dari sisi Bahasa mungkin pengaruhnya lebih terasa karena kurang lebih 300 kosa kata Bahasa Portugis diserap menjadi Bahasa Indonesia. Misalnya : Sapato (sepatu), bandeira (bendera), igreja (gereja), porta (portal artinya palang atau pintu), meja, kemeja dan lain sebagainya.

Di Kampung Tugu sendiri kata Tugu merupakan asal kata dari penggalan kata portuguesa menurut pernyataan sejarawan Belanda Prof. De Graff. Dalam reportoar lagu/musik Keroncong Tugu tersisa beberapa lagu dari kata-kata dari Bahasa Portugis yang sudah menjadi bahasa Kreol Portugis Tugu atau Kreol Tugu terdapat dalam syair lagu Yan Kagaleti, Cafrinho (Bate-bate Porta), Nina Bobo, Gatu Matu.

Sejak 1661 kedatangan Orang-orang Tugu yang ditempatkan di Kampung Tugu masih berbahasa Kreol Portugis Tugu yaitu Bahasa Portugis yang sudah bercampur dengan Bahasa Melayu. Namun sayang dalam perkembangannya Bahasa Kreol Tugu punah karena memang secara politis ideologi Belanda berhasil berupaya menghilangkan pengaruh Portugis dalam Komunitas Tugu dari sisi bahasa termasuk juga mengalihkan agama Katolik bangsa Portugis menjadi agama Protestan bangsa Belanda serta nama-nama Belanda diberikan kepada orang-orang Tugu.

Baca juga  Jokowi Teken Aturan Pelapor Korupsi Diganjar Rp200 Juta

Pengaruh Bahasa Kreol Tugu di Kampung Tugu selesai pada tahun 1940 menurut peneliti Bahasa Belanda Mona Lohanda yang aktif di Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia meskipun ada upaya-upaya menghidupkan kembali pada tahun 1970an melalui Escola Papia Cristao oleh Jacobus Quiko, tokoh Tugu yang konsisten menumbuhkembangkan Sejarah, Seni dan Budaya di Kampung Tugu termasuk menghidupkan kembali Keroncong Tugu Moresco.

Berbicara tentang Keroncong Tugu terdapat benang merah bahwa musik tersebut terilham dari alat musik gitar kecil Cavaquinho yang oleh seniman-seniman Tugu dibuat Gitar Kecil Berdawai Lima dengan ukuran dan nama Jitera, Macina dan Prunga tetapi kini justru yang lebih populer adalah Ukulele yang dibuat oleh masyarakat di Pasifik yang juga masuk ke Maluku.

Itu baru sedikit cerita dari pengaruh Portugis di Indonesia. Diharapkan dengan Seminar yang akan digelar itu akan banyak kisah lain lagi yang dapat kita dengan nara sumber lainnya. Harapannya melalui seminar itu akan lebih lagi dihidupkan kerjasama dalam bentuk event lain yang tentunya akan mendukung Pariwisata Indonesia sebagaimana yang kita harapkan. Semoga!

(Johan Sopaheluwakan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here