PDT.WEINATA SAIRIN: *”PENGHARAPAN KEPADA TUHAN SUMBER KEKUATAN”*

0
57

 

_”Dum spiro, spero. Selama aku masih bernafas aku masih berpengharapan.”_

Pengharapan, _hope_ adalah hal amat penting dalam kehidupan umat manusia. Mereka yang dirawat inap di Rumah Sakit, mereka yang dipenjara puluhan tahun, memiliki pengharapan yang amat kuat bahwa satu saat mereka akan sembuh, bahwa satu saat mereka akan bebas dari jeruji besi.

Pengharapan adalah sebuah energi yang ada dalam diri manusia yang memungkinkan seseorang berani, sabar dan tekun dalam menapaki hari-hari yang ia miliki dengan berbagai tantangan didalamnya. Orang yang memiliki pengharapan itu bisa dikenali melalui _raut muka_ dan pilihan diksi yang ia ungkapkan dalam dialog. Wajah ceria, penuh senyum dan tertawa kecil, ungkapan-ungkapan ayat kitab suci tentang kuasa dan mujizat Tuhan, menandakan citra diri seorang yang hidupnya dikuasai pengharapan. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki pengharapan. Wajahnya ‘kusut’, ada roh pesimisme yang mengaliri dirinya, pilihan diksinya juga berkaitan dengan complain; nasib dan takdir yang bermuara pada sikap menyerah kepada keadaan.

Kita semua punya pengharapan dalam hidup ini. Kita berharap kepada anak kita, cucu kita, kantor kita, komunitas kita, pemerintah kita, politisi dan banyak orang atau institusi di sekitar kita. Ya pengharapan agar kesemua mereka yang kita harapkan itu akan melahirkan suasana baru yang memberikan kehidupan yang aman, adil, damai dan sejahtera bagi masyarakat umum.

Sejak kita kecil kita telah dididik oleh orangtua kita agar kita tidak cepat putus asa, tetapi mempunyai harapan. Misalnya kita waktu kecil sangat ingin sepatu baru. Biasanya orangtua tidak mengabulkan keinginan kita pada saat itu secara langsung. Beliau berkata : “Tunggu bulan depan ya jika panen berhasil kita harapkan bisa membeli sepatu baru”. Kita saat itu sangat berharap agar ‘bulan depan’ itu segera tiba.

Baca juga  TANDEM BONA CAUSA TRIUMPHAT. PADA AKHIRNYA YANG BAIK AKAN BERJAYA

Ya pengharapan itu mengajar kita agar kita tekun menanti hal-hal yang akan terjadi di masadepan. Agama, ajaran agama adalah sesuatu yang memberikan dasar kuat bagi kita untuk memiliki pengharapan. Semua umat beragama adalah orang yang memiliki pengharapan, orang yang tidak pernah putus asa. Umat beragama selalu menyatakan esok hari Tuhan akan menganugerahkan berkatNya.

Jika tidak hari ini, ya esok, jika tidak esok, ya esoknya lagi. Itu selalu yang diucapkan oleh setiap umat beragama dalam semangat optimisme dan iman kepada Tuhan.

Itulah sebabnya agama sangat fundamental maknanya bagi manusia modern. Di zaman now; era digital, era milenial, era disruption, era Post Truth, era apapun namanya, agama itu tetap penting maknanya bagi manusia fana, ciptaan Allah yang amat mulia.

Agama memang tidak boleh hanya menjadi status dalam KTP, agama harus mewujud dalam praksis kehidupan umat manusia; agama tidak boleh hanya menjadi narasi-narasi dogmatis dalam intelektualitas manusia. Agama harus hadir dalam kenyataan hidup manusia.

Sangat penting ungkapan Menteri Agama dalam Penutupan Konsultasi Pimpinan Gereja dan Pimpinan Perguruan Tinggi Kristen di Jakarta 26 Oktober 2018. Menteri Agama mendorong agar dalam kita beragama penting dikedepankan aspek _esoteris_ agama. Dimensi dalam dari keberagamaan mesti diberi perhatian. Beliau mengkonstatasi ada semacam yang “tidak nyambung” dalam keberagamaan kita. Kita tahu dan taat ritual agama, tapi kita abai terhadap persoalan sosial. Menurutnya kesalehan personal harus juga berlanjut pada kesalehan sosial. Jika aspek esoteris ini kurang mendapat perhatian, demikian juga kesalehan sosial, maka hal ini bisa mengancam keutuhan NKRI yang majemuk.

Didepan sekitar 200 orang peserta konsultasi Menag juga mengingatkan agar kita mengamalkan keagamaan dalam konteks Indonesia. Kita beragama dalam frame dan roh Indonesia. Tidak boleh ada paradoks antara keberagamaan kita dengan keindonesiaan kita. Antara “kita beragama” dan “kita berindonesia” tidak boleh ada pemisahan dan kontradiksi. Pemikiran cerdas bernas dari seorang Menag seperti ini akan memberi energi dan roh baru dalam kehidupan beragama di Indonesia.

Baca juga  REFLEKSI AKHIR TAHUN POLITIK

Pepatah yang dikutip di bagian awal tulisan ini menyatakan “selama aku masih bernafas aku masih berpengharapan”. Selama kita masih hidup, masih ada nafas kehidupan maka pengharapan itu masih ada. Kita harus memiliki pengharapan : terhadap pileg, pilpres, politisi, tokoh masyarakat, presiden-wakil presiden, akademisi, NKRI yg berPancasila. Ungkapkan narasi-narasi berpengharapan, narasi prospektif tentang NKRI, tentang masyarakat majemuk Indonesia.

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here