Hepatitis C, Sang Pembunuh Massal yang Diabaikan

0
34

Jakarta,, Gramediapost.com

Setiap tanggal 28 Juli dunia memperingati Hari Hepatitis Internasional. Perjalanan penanganan penyakit ini di Indonesia dapat dikatakan masih sangat hijau. Mengapa dikatakan begitu oleh Koordinator Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), Edo Agustian. Karena Sub Direktorat Hepatitis, ada di Kementerian Kesehatan baru sejak tahun 2015. Hal tersebut tidak lepas dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Persatuan Bangsa – Bangsa (PBB) atau lebih dikenal dengan istilah ‘Sustainable Development Goals’ (SDGs) yang diadopsi oleh semua negara pada tahun 2015 dan juga tahun 2016 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadopsi strategi sector kesehatan Global untuk hepatitis virus 2016 – 2021, yang menetapkan tujuan untuk mengeliminasi virus hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.

Sembilan dari 10 orang yang hidup dengan hepatitis virus tidak menyadari bahwa mereka memiliki virus hepatitis – itu lebih dari 290 juta orang di seluruh dunia. Hanya 20% orang yang hidup dengan hepatitis C mengetahui kondisi mereka dan kurang dari 10% orang yang hidup dengan hepatitis B. Sementara di Indonesia diperkirakan 2,5 juta penduduk terinfeksi virus Hepatitis C. Tujuan yang ingin dicapai adalah 30% orang yang terinfeksi untuk mengetahui status mereka pada tahun 2020 dan 90% pada tahun 2030 (WHO, 2016).

Jadi, tanpa menemukan ‘jutaan angka yang hilang’ ini, meningkatkan pengetahuan masyarakat dan meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan diri, menyediakan akses terhadap tes yang mudah serta terjangkau secara finansial tujuan dari SDGs akan mustahil dapat dicapai, menurut Edo Agustian.

Pada 19 Oktober 2017 lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan izin akses obat DAA (Direct Acting-Antiviral) untuk dapat diakses secara umum. Pengobatan dengan DAA ini merupakan temuan paling mutakhir yang dapat memberikan harapan hidup yang tinggi bagi mereka yang hidup dengan virus Hepatitis C, kata dr. Sedya Dwisangka, Kasubdit Hepatitis Kementerian Kesehatan.

Baca juga  Press Release: Badan Advokasi Hukum Partai NasDem

Obat DAA yang tersedia di Indonesia saat ini menurut beliau adalah Sofosbuvir sebagai obat utama. Simeprevir dan Daclatasvir yang nerupakan obat pelengkap Sofosbuvir agar pengobatan terhadap Hepatitis C dapat efektif juga sudah tersedia di Indonesia. Namun Daclatasvir jauh lebih efektif dan efisien dibanding obat lain karena dapat digunakan untuk semua tipe virus Hepatitis C, tingkat kesembuhan yang tinggi diatas 96%, lebih sedikit efek samping, durasi pengobatan yang singkat yaitu 3-6 bulan (tergantung kondisi), serta dapat digunakan oleh pasien ko-infeksi HIV yang sudah ikut terapi karena tidak ada kontra indikasi dengan obat anti-retroviral HIV yang tersedia di Indonesia, menurut dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes yang juga menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sayangnya, sampai saat ini harga Sofosbuvir di Indonesia masih sepuluh kali lebih mahal daripada harga pembelian pemerintah di India. Data September 2017, harga Sofosbuvir di India hanya $14 atau sekitar Rp. 200.000,- sementara di Indonesia harganya masih berada dikisaran Rp. 2.200.000,-. Harga Sofosbuvir yang lebih terjangkau seperti referensi harga di India tentunya dapat meningkatkan pengobatan Hepatitis C di Indonesia. Selain harga, pedoman dan tata cara dalam penanganan Hepatitis C juga sangat penting diperhatikan. “Pedoman dan tata cara serta jalur logistik untuk pasien harus disederhanakan,” tutur Caroline Thomas, manajer program PKNI saat presentasinya di International AIDS Conference2 018 di Amsterdam.

Regards,

Nabilla Kenyaswasti

Media and Communication Officer

PKNI-Indonesian Drugs User Network

p:6221 837 978 25

m: 6281574578029

f:6221 837 978 26

a:Jl. Tebet Timur Dalam XI no.94 Tebet Jakarta Selatan 12820, Indonesia

w:www.pkni.org

e: media@pkni.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here