VISI TANPA AKSI, HANYA MIMPI DI SIANG BOLONG

0
350

Oleh: Pdt. Maarjes Sasela

Akhir-akhir ini kondisi negeri kita sedang dihangatkan dengan hashtag #2019 ganti presiden. Namun, yang menarik buat saya bahwa isu ini sama sekali tidak membuat Jokowi terganggu. Di mata saya Jokowi adalah sosok pemimpin yang stabil dan sangat dewasa menyikapi setiap serangan yang ditujukan kepadanya. Ia hanya sedikit melirik saja pada hashtag tersebut, kemudian melanjutkan tugasnya tanpa sedikitpun menunjukkan wajah kesal. Hashtag itu sama sekali tidak menciutkan nyalinya dan tidak sedikitpun menurunkan kinerjanya. Jokowi menjadikan gerbong hashtag #2019gantipresiden, hanya seperti seorang sopir yang melirik ke kaca spion. Seorang sopir hanya melirik sedikit untuk melihat apakah ada kendaraan lain yang berada di belakangnya atau hanya sekadar memastikan tidak ada kendaraan ketika akan berbelok arah. Rupanya bagi Jokowi kerja, kerja dan kerja, jauh lebih penting daripada sekadar memperhatikan hashtag murahan seperti itu.

Mengapa Jokowi tidak terlalu mengambil pusing dengan kondisi di sekitarnya? Karena beliau lebih mementingkan pencapaian tujuan yang ingin dicapai dalam masa kepemimpinannya bagi bangsa dan negara, bagi rakyat yang sangat dicintainya. Bahasa sederhanya, ia memiliki visi yang jelas untuk bangsa yang dicintainya ini. Visi yang melekat di hatinya, telah menjadi sebuah kekuatan bak lokomotif yang menarik gerbong kereta, terus melaju, maju, dengan semangat kerja, kerja dan kerja bagi kemaslahatan rakyat Indonesia yang sangat dicintainya.

Visi yang jelas dan kuat itu membuat dirinya, tahan terhadap serangan hoax, cercaan, hinaan, dan fitnahan yang dilancarkan oleh mereka yang cemburu dan takut terhadap geliat kepemimpinannya yang bersih dan tidak pernah kenal kompromi dengan para opurtunis korup.

Pertanyaan saat ini bagi kita semua baik yang ingin mengganti maupun mempertahankan presiden adalah “pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh bangsa sebesar Indonesia ini?”

Baca juga  Pdt. M. Ferry H. Kakiay, M.Th.: Mari Mengubah Dunia dengan Kuasa Roh Kudus!

Sesungguhnya, Indonesia membutuhkan seorang visioner, yaitu seorang pemimpin yang memiliki pandangan atau wawasan yang jelas ke masa depan. Seorang visioner tidak hanya mengincar kursi kekuasaan, apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga atau kelompoknya. Ia juga tidak akan pernah  memanfaatkan kesempatan memimpin hanya untuk melampiaskan nafsu berkuasa serta hasrat untuk mendapatkan kekayaan dari kekuasaan itu. Seorang visioner, semata-mata hanya akan memikirkan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya dan untuk jangka waktu yang panjang.

Mengapa visi penting bagi seorang pemimpin? Nabi Soleman, seorang yang dikaruniai hikmat melebihi siapapun di dunia ini, dimana Alkitab dengan tegas berkata bahwa sebelum masa hidupnya, maupun sesudah masa hidupnya, tidak ada orang seperti dia. Dalam hikmatnya itu, Nabi Tuhan ini menulis: “Where there is no vision, the people perish: …” (Di mana tidak ada visi, orang-orang binasa). (Alkitab King James Version, Amsal 29:18) Seorang pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya tanpa visi, seperti orang yang sedang berjalan di jalan yang lurus, tetapi tanpa sadar sesungguhnya diujung jalan itu terbentang jurang yang menganga dan sangat berbahaya bagi dirinya dan bagi orang-orang yang berjalan bersamanya.

Pemimpin yang memiliki visi, mengerti betul kemana ia akan membawa orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin dengan visi yang jelas seperti ini, tahu bahwa visi yang kuat lahir dari mereka yang dapat melihat jauh ke depan dan menariknya kemasa kini, melakukan semua hal yang dapat membawanya menuju pada pencapaian impiannya itu, rela berkorban dan berani membayar harga. Tidak demikian dengan mereka yang hanya ambisius untuk mendapatkan kedudukan.

Seorang visoner, tidak akan pernah mengukur apa yang ingin diperjuangkannya dari posisinya dan kepentingannya, melainkan pemberian hidup yang total kepada rakyat yang dipimpinnya. John Maxwell berkata, “Keberanian seorang pemimpin besar untuk memenuhi impiannya adalah berkat semangatnya, bukan posisinya.” Banyak orang ingin menjadi pemimpin negara dan pemimpin daerah, atau pemimpin lembaga, tetapi mereka mengejar posisi bukan semangat untuk membangun bangsa. Jika mereka mencapai posisi itu, biasanya ditempuh dengan menghalalkan segala cara. Itu sebabnya, hasil kerjanya pun pasti amburadul, bahkan dapat mendatangkan kesulitan dan kesusahan bahkan penderitaan bagi rakyat.

Baca juga  Self-Disruption

Tahun 2019 adalah tahun pesta rakyat yang bukan saja akan menunjukkan kemeriahannya, melainkan akan menentukan jalan hidup bangsa ini untuk tahun selanjutnya. Sebagai anak bangsa, saya hanya dapat berkata “mari kita manfaatkan peluang ini untuk memberi yang terbaik bagi bangsa yang kita cintai ini dengan cara menyalurkan aspirasi dengan tepat. Jadilah pemilih yang cerdas, yang tidak akan mempertaruhkan hak suaranya hanya dengan selembar uang kertas berapapun nominalnya, tetapi yang memberikan pilihan dengan memperhitungkan rekam jejak dan karya nyata yang sudah jelas dalam membangun Indonesia menjadi semakin baik dari sebelumnya. Salam damai!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here