SEHARUSNYA, INDONESIA BISA MENJADI  MITRA YANG BAIK DAN STRATEGIS DENGAN ISRAEL.

0
116

 

 

Oleh: Kamaruddin Simanjuntak,S.H. 

 

“Kita Tidak Akan Bisa Menjadi Mediator Perdamaian Israel dan Palestina, Jika Kita Tidak Mengenal Israel, Untuk Itu, Kita Harus Dekat Dengan Israel Maupun Palestina. ”

 

Tahun 2017 yang  lalu, penerbangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dari Australia ke Singapura diperpanjang dari biasanya delapan setengah jam menjadi 11 jam, karena pemerintah Indonesia dibawah Pemerintahan Joko Widodo tidak mengizinkan pesawatnya memasuki wilayah udara teritorial Indonesia, yang membentang sepanjang tiga Zona Waktu, yaitu : WIB, WITengah dan WITimur.

 

Bahwa meskipun Israel selalu mendukung dan mengakui Negara  Indonesia sejak tahun 1950, namun kedua negara ini masih tidak memiliki hubungan diplomatik yang resmi, dan akibatnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus terbang dua setengah jam lebih lama menuju negara Singapura.

 

Bahwa seperti negara Israel, negara Indonesia adalah negara bekas jajahan, namun Indonesia hanya dijajah oleh kerajaan  Belanda sekira 350 tahun dan  oleh kaisar Jepang 3,5 tahun, sementara Israel dijajah dan dibantai sekira 2000 tahun oleh berbagai Negara / Bangsa didunia seperti Mesir, Babilonia/Irak, Romawi, Khalifah Usmania, Palestina, Jerman, Uni Soviet, dll  hingga Israel berdiaspora hampir keseluruh belahan Negara didunia.

 

Adapun  Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, sementara Israel baru Merdeka pada tanggal 14 Mei 1948. Bahwa  Pasca Kemerdekaan Indonesia di Proklamirkan oleh Ir Soekarno, Indonesia  langsung diserbu oleh Pasukan Sekutu “NICA”  seperti peristiwa 10 november 1945,  Janur Kuning Jogya Karta, dll, demikian juga dengan Israel pasca memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 14 Mei 1948, sehari sebelum berakhir Mandat Britania raya, Perwakilan  Jahudi memproklamasikan kemerdekaannya  dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai “Israel” dan  Sehari kemudian, gabungan 7 negara Arab – Mesir, Suriah, Jordania, Lebanon dan Irak serta Palestina, langsung menyerang Israel yang belum memiliki Tentara sama sekali, sehingga menimbulkan Perang Arab-Israel tahun 1948, namun biar pun Israel dikeroyok oleh 7 tentara negara profesional, akan tetapi bisa dilumat habis oleh rakyat Israel, dengan pertolongan Elohim.

 

Indonesia menganut sistem pemerintahan demokrasi, demikian juga dengan Israel, satu-satunya Negara paling demokratis yang ada di Timur Tengah, yang paling multi-budaya dan bebas berpolitik diwilayah masing-masing,.

 

Bahwa Menorah terbesar di dunia, dengan tinggi hampir 19 meter, adalah terletak di Manado, Indonesia, dengan sinagoga yang menyertainya. Saat ini, sekitar 200 orang Jahudi Indonesia, sebagian besar keturunan Jahudi Irak dan Belanda, tersebar di Jakarta, Surabaya, Manado dan lokasi lainnya.

 

Bahwa terlepas dari kurangnya hubungan bilateral formal dan  interaksi antara Israel dan Indonesia, tetapi selama ini ada hubungan terbatas yang sangat positif. Sebagai contoh, setiap tahun, antara 11.000 dan 15.000 orang Indonesia selalu mengunjungi Israel secara berkelompok. Menurut perkiraan resmi, perdagangan bilateral Indonesia dan Israel secara diam-diam mencapai kisaran $ 400 juta hingga $ 500 juta pada tahun 2015.

 

Bahwa akibat peristiwa  tsunami Aceh  tanggal 26 Desember 2004, Israel mengirim sukarelawan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan dan obat-obatan ke provinsi Aceh di Indonesia.

Baca juga  UU Program Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial

 

Pada tahun 2008, delegasi resmi dari 23 dokter Indonesia dikirim ke Tel Aviv untuk dilatih dalam “Manajemen Insiden Multi-Korban,” sebagian besar dalam persiapan untuk potensi serangan teroris, bencana dan krisis lainnya. Ada banyak contoh lain dari hubungan baik para pemimpin agama Indonesia dan Israel, pembuat kebijakan, atlet, jurnalis, mahasiswa, kerjasama militer, intel,  dan warga biasa lainnya yang mengunjungi negara satu sama lain selama beberapa dekade ini.

 

Bahwa pada bulan Maret 2016, setelah menerima delegasi wartawan Indonesia ke Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa ia ingin negaranya membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia, dan bekerja dengan warganya di berbagai bidang seperti technology air dan teknologi tinggi lainnya. “Hubungan antara Israel dan Indonesia perlu berubah,” katanya.

 

“Saya  memiliki beberapa teman Indonesia di Facebook. Waktunya telah tiba untuk mengubah hubungan, dan alasan yang mencegahnya di masa lalu tidak lagi relevan.  Demikian kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu”

 

Perubahan itu sangat mungkin. Saat ini, ada beberapa grup Facebook Indonesia dan sekitar setengah juta Facebook disukai oleh warga negara Indonesia yang mendukung kemajuan hubungan Indonesia-Israel. Jelas ada peluang untuk peningkatan hubungan tersebut.

 

Jadi, apa yang bisa Israel lakukan untuk membuat kontak yang lebih baik dan efektif dengan Indonesia?

Pertama, kedua Negara harus berpikir positif dan logis, selanjutnya orang-orang Israel dan Indonesia  harus secara proaktif menjangkau orang-orang Indonesia, mungkin melalui Internet dan media sosial, untuk menyambut WNI dan Israel dengan cara yang hangat, mengundang dengan cara  yang hormat menuju masyarakat modern, guna meninggalkan pola pikir primitif / masa lalu.

 

Memulai kewirausahaan, musik, bioteknologi, air, agribisnis, kesehatan universal, pelestarian mode dan warisan budaya adalah semua bidang potensial kerjasama bilateral  di mana masyarakat kedua negara kemungkinan besar akan menemukan tujuan dan kesuksesan bersama.

 

Bahwa 158 dari 193 negara anggota PBB sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, termasuk sejumlah besar sesama anggota Organisasi Kerjasama Islam  (OKI) dan negara-negara Gerakan Non-Blok,  membuka diri dengan hubungan diplomatik resmi dengan Israel seperti Turki, Mesir, Arab Saudi, UEA,  dan Jordania.

 

Mengingat kebijakan luar negeri pemerintah Trump, Israel dan Otorita Palestina juga harus mengklarifikasi kepada Indonesia bahwa solusi dua negara tidak dapat dengan mudah dinegosiasikan hanya dengan salah satu pihak.

 

Oleh karena itu, harus dikomunikasikan kepada masyarakat Indonesia bahwa penegakan perjanjiannya, tata negara, advokasi, pembangunan kapasitas dan kekuatan mediasi pihak ketiga lebih mungkin efektif jika Indonesia memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan juga dengan Palestina, akan tetapi tidak mungkin mediasi bisa berjalan mulus dengan cara Indonesia merangkul Hamas dan memusuhi Israel.

 

Bahwa setahu saya, belum ada mamfaat apapun yang didapat masyarakat Indonesia dari Hamas atas dukungan Indonesia secara mati-matian membela sepihak Hamas / Palestina, untuk melawan israel.

Baca juga  Menguji 6 Klaim Rizal Ramli: Mitos atau Fakta?

 

Semoga dalam perjalanan selanjutnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke wilayah Asia Tenggara, delegasi Israel bisa  mendarat mulus di Indonesia untuk memulai dialog yang sudah lama ditunggu-tunggu, dan tidak dipaksa untuk memutar di sekitar negara dan kepulauan Negara Indonesia.

 

Israel sangat banyak memberkati dunia dengan berbagai Ilmu Pengetahuan dan Tehnology, termasuk Indonesia, jadi adalah salah jika negara Indonesia  mengorbankan hubungan yang baik dengan Israel hanya demi kepentingan politik Hamas, sebab Palestina Cq Fatah sangat dekat dan memiliki hubungan yang  sangat baik dengan pemerintah Israel, dengan mengingat bahwa negara Indonesa berdiri bukanlah sebagai  negara bayangan dari Hamas maupun Palestina.

 

Adalah aneh, jika Indonesia bisa mengampuni dosa-dosa kejahatan penjajah kerajaan Belanda dan kaisar Jepang yang nyata-nyata memperkosa dan menjajah Indonesia ratusan tahun, akan tetapi Indonesia bisanya memusuhi Israel bangsa pilihan Tuhan yang selalu mendukung kemerdekaan dan kedaulatan negara Republik  Indonesia di forum internasional, dan permusuhan itupun  tanpa sebab yang jelas, dan lebih aneh lagi Indonesia bisa membuka hubungan diplomatik yang baik dengan negara Komunis Cina dan Rusia serta Korea Utara yang nyata-nyata “Atheis” “Tidak ber-Tuhan” sementara dengan Anak Cucu Abraham, Isak, Jakub, Musa, Daud, Salomo yang menyembah Tuhan “Elohim” justeru bersikap bermusuhan.

 

Bahwa belakangan ini hubungan Israel dengan Indonesia bukannya membaik akan tetapi justeru semakin memburuk, sebab ada kabar beredar bahwa TERHITUNG MULAI TANGGAL 9 JUNI 2018, TURIS BERPASPOR WNI, AKAN DILARANG MEMASUKI NEGARA ISRAEL, mengapa  bisa demikian ?

 

Bahwa diduga akibat sikap tindak pejabat politisi Indonesia, yang sangat berpihak kepada Hamas dan menangguhkan perjalan Visa Turis Warga Israel ke Indonesia, maka Pemerintah Israel, saat ini sedang  membalas sikap tindak pejabat politisi Indonesia tersebut, dengan cara terhitung sejak tanggal 9 juni 2018, WNI berpaspor Indonesia tidak akan boleh lagi masuk ke Negara Israel (politik tabur tuai). Keputusan tersebut, tentu akan menghambat dan akan sangat merugikan hak-hak umat Jahudi, Protestan dan Katolik Indonesia, yang ingin berziarah ke kota suci Jerusalem.

 

Keputusan ini, timbul sebagai respons atas sikap bermusuhan pejabat negara kita, yang mengakibatkan terbitnya keputusan negara Israel tersebut. Tindakan ini, tentu sangat tidak bijaksana, mengingat bahwa Jerusalem di Negara Israel menjadi sebuah kota suci penting bagi tiga agama yaitu : Jahudi, Kristen Katolik dan Kristen Protestan, yang sangat penting dikunjungi oleh pemeluk ketiga agama tersebut, guna menambah dan menguatkan iman percayanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Peristiwa ini harus menjadi pelajaran  sangat berharga dan pemikiran buat kita semua Warga Negara Indonesia, khususnya umat Jahudi,  Katholik dan Protestan untuk tahun politik 2019, agar kita bisa mencari dan memilih pemimpin yang moderat dan tidak suka bermusuh-musuhan dengan Negara lain khususnya dengan Negara Israel umat pilihan Tuhan kita itu.

 

Bahwa  seyogyanya pemimpin negara haruslah bisa bersikap adil dan benar serta bersahabat dengan Negara manapun didunia ini, khususnya dengan Negara Israel maupun Palestina, dengan “TIDAK MENGORBANKAN HAK-HAK & KEPENTINGAN WARGA NEGARA INDONESIA DEMI KEPENTINGAN HAMAS Cq. Palestina.

Baca juga  Fundamentalisme Protestan dan Lobby Pro-Israel

 

Betapa pentingnya sosok figur pemimpin yang baik dan benar serta adil tersebut adalah, agar negara kita bisa membuka hubungan baik dan diplomatik dengan Negara Israel, tanpa harus mengurangi hubungan baik negara kita dengan Palestina, demikian juga dengan negara Taiwan, tanpa merusak dan/atau memutus hubungan baik / diplomatik kita dengan negara Cina.

 

Bila perlu pemimpin tersebut, diharapkan mampu dan bersedia mendorong dan memfasilitasi perdamaian Negara Israel dan Palestina, sebagaimana diamanatkan oleh Deklarasi Balfour, demikian juga dengan negara Taiwan dan Cina, seperti yang kita lakukan selama ini dengan negara Korea Selatan dan Korea Utara.

 

Deklarasi Balfour adalah sebuah pernyataan sikap politik kepada publik oleh pemerintah Britania / Inggris Raya, pada saat Perang Dunia I meletus, yang mengumumkan dukungan untuk pembentukan “Negara Bagi Orang Jahudi Dan Palestina”, yang saat itu merupakan sebuah kawasan jajahan oleh pemerintahan Utsmaniyah (Turki : Sekarang).

 

Bahwa  memang ketika itu yang terbentuk hanyalah  satu Negara Israel, karena pada saat itu Arab Palestina melakukan penolakan atas adanya usul  dua negara, yang lebih memilih dijajah oleh Pemerintahan Utsmaniyah, berbeda dengan negara Arab Saudi, yang memilih merdeka daripada dijajah oleh pemerintahan Utsmaniyah, kemerdekaan Arab Saudi itupun adalah atas peran dan prakarsa Pemerintah Inggris Raya juga, yang berdampak pada persekutuan mereka dengan Eropa dan Amerika Serikat hingga sekarang.

 

Bahwa selain umat Jahudi, Kristen Katholik dan Kristen Protestan, sebenarnya umat Muslim juga memiliki kepentingan tersendiri untuk masuk ke wilayah Israel, guna  mengunjungi / beribadah/Ziarah ke Masjid Al Agsa, sehingga tidak pantas apabila peminpin negara kita, bersikap bermusuhan dengan Pemerintah Negara Israel, karena Israel tidak pernah bersikap bermusuhan dengan Pemerintah dan Negara Indonesia, malahan Israel selalu mengakui Indonesia sebagai Negara berdaulat, maka  akan lebih baik jika Indonesia bersahabat dengan Israel daripada memilih bersikap bermusuhan sehingga merugikan Warga Negara Indonesia.

 

Salah satu korban pertama dan utama dari Peristiwa ini adalah Perusahaan Travel khususnya “Travel  Holyland dan karyawan-karyawannya”, selanjutnya umat beragama Jahudi, Protestan, Katholik dan Muslim, juga akan mengalami kerugian materil dan Immateril, jika tidak bisa menunaikan Ibadah dan/atau ziarah ke Jerusalem sebagai kota tersuci didunia ini.

 

Mari kita  berkati Israel, dengan mengingat firman Tuhan yang tertulis dalam bilangan 24 ayat 9 : “Diberkatilah   orang yang memberkati  Israel, dan terkutuklah  orang yang mengutuk Israel” sebab banyak sekali berkat Israel berupa ilmu dan Pengetahuan, yang seharusnya bisa buat Indonesia, akan tetapi jatuh ke Negara tetangga semisal ke negara  Singapura dan negara pihak ketiga lainnya, akibat sikap bermusuhan dari Negara kita.

 

Untuk itu, STOP memusuhi Israel, Umat pilihan Tuhan itu !

 

Demikian agar menjadi maklum,

 

Horas

 

Penulis : Kamaruddin Simanjuntak,S.H. – Advokat Di Jakarta.