Jangan Biarkan Anak Anak Jadi Korban Martir BOM

0
110

 

 

Jakarta, Gramediapost.com

 

 

 

_Untuk Menolak Sikap Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme, Kita Tidak Perlu Menunggu Sampai Keluarga dan Anak Anak Kita Menjadi Korbannya. #prayforsurabaya_

 

Tidak selayaknya anak anak disertakan dalam peristiwa ledakan bom Gereja di Surabaya. Anak adalah anugerah dan amanah Tuhan yang harus dimuliakan. Menjadi tanggung jawab kita untuk melindungi dan memberi tempat yang lebih layak bagi mereka. Apalagi menempatkan anak anak dalam situasi berbahaya. Yang ia tidak pernah tahu resikonya.

 

Berita di detik.com memberitakan, dua anak bersama Ibunya yang membawa 2 tas meledak (https://m.detik.com/news/berita/4018006/saksi-bom-gki-surabaya-pelaku-peluk-petugas-dan-meledak)

 

Anak anak menjadi martir dan calon martir atau diajak meledakkan diri, tentu saja tidak terima oleh siapapun. Beberapa orang tua yang telah kehilangan anak akibat menjadi martir atau disertakan menjadi pengantin bom, tentu diliputi kesedihan yang tak berujung, akibat tidak bisa menyelamatkan jiwa anak anak mereka.

 

Untuk itu Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan Panti Sosial Asuhan Anak yang menjadi wadah satu satunya konsolidasi panti se Indonesia,  sejak awal tegas dan komit menolak anak anak panti dilibatkan dalam sikap intoleran dan radikal. Karena salah satu panti kami sudah pernah kedatangan Densus 88 akibat didalam Musholla panti sudah berhari hari ada orang yang menetap dan mengajak anak anak. Yang belakangan orang tersebut ditangkap Densus 88.

 

Karena anak anak panti, potensinya sangat besar direkrut. Dengan latar belakang kondisinya yang sewaktu waktu menghadapi jiwa yang kosong. Anak anak masih mengalami kejiwaan yang tidak stabil akibat perkembangan tumbuh jiwanya yang masih membutuhkan dukungan. Karenanya kondisi tersebut dapat mengancam jiwa anak anak dan menjadikan anak anak berada dalam situasi yang rentan. Untuk itu kita wajib mencegah keterlibatan anak dalam perang melawan teroris.

Baca juga  YASONNA LAOLY MENANDATANGANI PERJANJIAN MLA DENGAN MENTERI KEHAKIMAN SWISS, KARIN KELLER – SUTTER

 

Untuk itu saya berharap Negara tidak kecolongan lagi, anak anak menjadi martir dalam peristiwa keji. Begitu juga anak anak disekitar peristiwa ledakan bom tersebut dan anak anak yang berada di lingkaran keluarga teroris harus menjadi perhatian Negara. Kami menghimbau agar para bomber jangan melibatkan mahluk suci ini, mereka belum paham, mengapa mereka yang harus menjadi korban?

 

Oleh karena itu memperhatikan berbagai potensi tersebut, Forum LKSA PSAA yang menaungi 6161 Panti sebagai pusat koordinasi dan saling terhubung panti se Indonesia, dalam mencegah anak anak menjadi martir dan korban.

 

Disamping itu Panti se Indonesia siap mengasuh dan melindungi anak anak rentan dalam pengasuhan akibat orang tuanya berkonflik dengan hukum, atau terlibat menjadi teroris, menjadi orang yang dicari cari Polisi. Kami menghimbau agar anak anak mereka dititipkan saja kepada jaringan LKSA PSAA se Indonesia.

 

Menjadi tanggung jawab kita semua mencegah anak anak menjadi korban, martir ataupun pengantin bom. Untuk itulah Musyawarah Nasional I LKSA PSAA memiliki agenda penting memberi pemahaman meluasnya ajaran intoleransi dan radikalisme yang sewaktu waktu dapat mengancam anak anak yang berumbuh kembang dalam waktu sementara di dalam Panti.

 

Kami berharap Bapak Presiden Jokowi memberi perhatian besar kepada anak anak panti, setelah kami menghadap Staf Khusus Presiden Bapak Teten Masduki dalam rangka Munas I LKSA PSAA 24 s.d. 27 Juli 2017 di Bandung. Karena ini akan menjadi sejarah pertama kalinya sekitar 5000 panti akan berkumpul, bermusyawarah.

 

CP. *Yanto Mulya Pibiwanto* Ketua Umum Forum Nasional LKSA PSAA 0811 226 412