Jokowi Kerja Nyata, Pembenci Tetap Ada

0
203

 

 

Oleh : Asep Erwin

 

 

 

Konstelasi politik yang begitu tajam di masyarakat dan elit di Indonesia, khususnya yang terjadi di medsos (media sosial) yang hingga kini belum berakhir, bermula sesungguhnya sudah cukup lama, yaitu sudah sejak pilkada DKI ketika baru munculnya sosok pasangan Jokowi-Ahok.

 

Ketika itu, masyarakat DKI calon pemilih sudah mulai dan sering disuguhi provokasi dengan menerima sms masif yang menyesatkan, berupa fitnah-fitnah terhadap Jokowi, antara lain Jokowi dituduh keturunan China, dituduh kalau Jokowi-Ahok yang jadi Gubernur dan Wagub, di DKI akan banyak dibangun Gereja, penghancuran mesjid-mesjid, dan masih banyak issue lainnya yang dihembuskan untuk menyudutkan Jokowi.

 

Betul saja, semua issue yang dialamatkan ke Jokowi hanyalah fitnah, karena pada kenyataanya setelah Jokowi-Ahok menjadi Gubernur-Wagub DKI, justru yang terjadi di DKI malah banyak di bangun Mesjid, diantaranya Mesjid yang di bangun di Balai Kota yang sebelumnya tidak ada, Jokowi-lah yg menginisiasi membangun Mesjid di Balai Kota, Mesjid Raya Betawi di Jelambar Jakarta Barat, dan penerusnya Gubernur Ahok pun malah sudah membangun dan mencanangkan disetiap kecamatan akan dibangun Mesjid.

 

Tapi sayang, belum sampai selesai 100 % Ahok merealisasikan janji tersebut.. kini Gubernur DKI telah berganti, dan pupus sudah harapan warga DKI akan realisasi pembangunan Mesjid-Mesjid di setiap kecamatan. Yang ada, DKI kini malah menjadi mundur kembali seperti era seblum Jokowi-Ahok jadi Gubernur.

 

*Pilpres 2014*

Masuk ke masa pilpres 2014. Saat itu, 1 hari sebelum diumumkan oleh MK (Mahkamah Konstitusi) bahwa pemenang pilpres itu siapa, saya kebetulan sedang berada di tengah-tengah pertemuan para elit partai Koalisi Rival Jokowi di Hotel Bidakara, Pancoran Jakarta.

 

Baca juga  Menimbang Sosialisasi Revisi UU KPK

Ada yang saya ingat dari ucapan para elit di pertemuan tersebut yang memang ternyata menjadi biang keributan terus menerus perpolitikan kita sampai saat ini.

 

Kira-kira yang diucapkan para elit Rival Jokowi saat itu, bahwa: “.. kalau saja sampai keputusan MK menyatakan Jokowi sebagai pemenangnya, maka sampai kapan pun kita akan terus menerus mengganggu Jokowi, kalau perlu tidak perlu menunggu sampai 1 tahun menjabat, Jokowi harus sudah tumbang.. ” kira-kira seperti itu ucapan para elit tersebut yang saya ingat waktu itu.

 

Betul saja, setelah itu dan setelah dinyatakan Jokowi sebagai pemenangnya, maka di media sosial mulai bermunculan media-media online abal-abal dengan memakai label muslim yang dimotori partai tertentu, dengan terus menerus memroduksi atau membuat berita-berita hoax dan fitnah terhadap Jokowi, yang hingga sampai saat ini pun masih jalan terus.

 

Jadi, berawal dari situlah yang menyebabkan kegaduhan perpolitikan Indonesia khususnya di medsos hingga sampai sekarang tidak pernah berhenti, karena memang semua itu sudah direncanakan jauh-jauh hari dalam upaya untuk menjatuhkan Jokowi.

 

*Siapa dan Faktor apa yang Membuat Mereka Tetap Membenci*

Saya melihatnya ada 5 faktor yang menyebabkan mereka yang kontra terhadap Jokowi masih begitu membencinya, sekalipun hasil kerja pemerintahan Jokowi begitu nyata.

 

5 faktor yang menyebabkan kelompok masyarakat atau elit masih tetap membenci Jokowi, disebabkan mereka menganggap :

1. Jokowi karena orang PDIP, artinya disini masih ada masyarakat yang berpikir kalau yang jadi presiden dari PDIP, maka komunis/PKI akan bangkit lagi, negara akan dikuasai China/aseng, dan asing. Ini memang dihembuskan oleh para elit politik busuk dalam mempengaruhi publik.

 

Dan hal ini, memang yang sering menjadi doktrin disetiap kampanye pilpres di era order baru yang ditujukan untuk menyerang partai Megawati, PDI.

Baca juga  Zionisme Kristen: Rintangan untuk Perdamaian Timur Tengah?

 

Padahal jika publik cerdas, komunis di berbagai negara utamanya di China dan Rusia itu sudah bubar karena konsep negara komunis di banyak negara ternyata tidak menguntungkan, melainkan gagal.

 

Maka, kalau bicara di Indonesia masih ada masyarakat yang berpikir PKI akan bangkit lagi, itu artinya sangat bodoh sekali,  selain sudah jelas kalau PKI itu dilarang di Indonesia dan itu sudah ada aturan Tap MPR-nya.  Juga sekarang ini era keterbukaan, negara dan rakyat Indonesia ini bukan sperti di era thn 60 atau 65-an yang belum begitu maju dan rakyatnya masih lugu-lugu, sehingga mudah dibohongi oleh para kaum penjajah atau penghianat bangsa.

 

Ini era terbuka, dan negara kita punya aturan dan UU, sehingga sudah tidak mudah lagi orang luar/asing atau aseng apalagi PKI untuk berani masuk atau muncul lagi di Indonesia. Karena, bangsa kita akan sangat mudah menumpasnya.

 

Yaa.. terkecuali, asing, aseng dan PKI itu jadi-jadian, alias mereka yang ribut-ribut nuduh PKI bangkit, TKA China merajalelalah dll adalah sebetulnya mereka sendiri yang buat.

 

Coba kalau kita ingat, ketika Megawati-Prabowo berpasangan sebagai capres-cawapres   apa ada issue akan bangkitnya PKI, tentu tidak ada kan..  jadi jelas ya.. bangkit atau munculnya PKI hanyalah issue yang membodohi masyarakat..

 

2. Jokowi yang dianggap wong ndeso dan secara fisik tidak pantas jadi presiden, artinya masih ada masyarakat yang melihat sosok pemimpin dari tampilan fisik, ini biasanya di dominasi kaum perempuan dan remaja. Dan ada yang berpikir kalau presiden itu harus keturunan tokoh-tokoh besar, atau keturunan darah biru. Padahal, kalau kita sebagai warga negara yang coba lebih dewasa cara berpikir, bahwa jadi pemimpin negeri ini bukan monopoli keluarga atau tokoh-tokoh besar nasional saja, tapi setiap warga negara Indonesia apa pun status sosialnya punya hak menjadi no 1 di negeri ini, dan kita tidak pernah tahu mungkin saja anak cucu kita kelak yang akan menjadi presiden di negeri ini.

Baca juga  Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman: Injil itu Sosial Holistik; Gereja Harus Semakin Terlibat dalam Pelayanan Keadilan Sosial!

3. Jokowi bukan dari TNI. Masih ada orang yang berpikir kalau yang jadi presiden di Indonesia itu harus dari TNI, karena akan dianggap lebih tegas dan wibawa. Sebagian yang masih berpikir sperti itu, adalah dari kalangan TNI atau keluarga TNI. Padahal sejak bergulir reformasi 98, bahwa dikotomi militer-sipil sudah tidak berlaku lagi. Presiden sipil pun, untuk saat ini yang penting dari Jawa dan menjalankan pemerintahan betul-betul amanah, tegas dan merakyat dia akan kuat Dan sukses sebagai presiden, buktinya Jokowi itu sendiri.

4. Jokowi bukan orang Muhammadyah melainkan cenderung NU dan mungkin Jokowi memang orang NU. Ini diakui atau tidak, bahwa antar Muhammadyah dan NU terlihat ada persaingan dalam memperebutkan kepemimpinan no 1 di negeri ini. Utamanya, sebagian elit-elit Muhammadyah sangat kentara ketika selalu menyerang Jokowi untuk menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Jokowi. Mungkin dikalangan Muhammadyah masih ada yang berpikir kalau presiden di Indonesia itu harus orang Muhammadyah, karena Soekarno dan Soeharto saja Muhammadyah. Sementara, politik NU terlihat lebih tenang, mungkin karena untuk menjaga marwah, bahwa NU bukan organisasi partai yang berpolitik praktis.

5. Para koruptor atau politisi busuk. Ini adalah musuh Jokowi yang juga paling gencar melakukan upaya untuk menjatuhkan Jokowi. Para koruptor dan politisi busuk ini ada di mana-mana termasuk di banyak partai.