Kehidupan Manusia Menuju Hari Penghakiman

0
80

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

 

2 Petrus 3:1-10

(1) Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, (2) supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. (3) Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. (4) Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” (5) Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, (6) dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. (7) Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. (8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. (9) Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. (10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

Baca juga  Pdt. Weinata Sairin: "Happines is not something ready made. It comes from your own actions" (Dalai Lama)

 

Lagi, kita akan berbicara tentang hari penghakiman. Biar pikiran kita diyakinkan bahwa hari itu benar ada, dan iman kita terus dikukuhkan untuk selalu mempersiapkan diri. Telah disinggung dalam beberapa renungan sebelumnya bahwa kita sekarang ini sedang berada dalam ‘zaman akhir’ yang permulaanya ditandai dengan kehadiran Kristus ke dunia. Kita sedang bergerak menuju ‘akhir zaman’ (Hari Penghakiman).

Pada zaman akhir ini kita akan diperhadapkan dengan banyak tantangan yang dapat saja menggoncangkan dan meluluhkan keteguhan iman kita kepada Yesus. Kata penulis 2 Petrus dalam bacaan ini, akan tampil para pengejek yang meragukan janji kedatangan Kristus. Mereka akan beragumentasi tentang keadaan dunia yang biasa-biasa saja sejak mulanya. Semuanya sama saja. Lalu mereka akan menyodok jiwa dan perasaan para pengikut Kristus dengan pertanyaan: Kapan kedatangan-Nya terjadi?

Terus terang, banyak orang Kristen merasa gundah bahkan tawar hati menerima pertanyaan seperti itu. Mungkin ada yang terengaruh lalu berkata dalam hatinya: ya, kapan ya?

Kita harus yakin bahwa apa yang telah disampaikan Tuhan tidak akan pernah berubah. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya demikian (ayat 90). Anggapan Tuhan lalai menepati janji-Nya umumnya karena melihat waktu yang telah berjalan sekian lamanya namun Hari Kedatangan itu tak kunjung tiba. Memang, penantian seperti ini dapat membuat orang ragu, apakah betul-betul itu akan terjadi. Persoalannya adalah apakah kita memandang waktu dari sudut pandang manusia atau sudut pandang Tuhan? Jika dari sudut pandang manusia, wajar saja jika kita merasa terlalu lama. Tapi dari sudut pandang Tuhan waktu yang panjang adalah singkat dan waktu yang singkat adalah panjang. Lho, koq begitu? Ya karerna masing-masing sudut pandang tadi dipengaruhi oleh keinginannya. Masalah intinya adalah, apakah keinginan Tuhan sama dengan keinginan manusia? Tidak kan? Dan sangat jauh berbeda! Keinginan manusia dipengaruhi oleh keinginan daging sedangakan keinginan Allah penuh dengan kasih. kasih menjadi dasar dari sudut pandang Allah. Kalau Ia membutuhkan waktu yang lama itu karena ia mengasihi manusia. Ia masih memberi kesempatan bagi manusia untuk mengalami kasih-Nya. Tetapi adakalanya Ia bertindak cepat. Manusia memperkirakannya lama, ternyata Tuhan sudah bergerak. Dalam ‘gerak-cepat’-Nya pun Tuhan tetap berangkat dari sudut pandang kasih-Nya.

Baca juga   Aku Yakin Tak Ada Yang Tak Mungkin Bagi Allah

Oleh karena itu kita, manusia, bila terlalu lama menunggu tindakan Tuhan, janganlah tawar hati. Dan juga, jika merasa Tuhan Tuhan terlalu cepat bertindak jangan kelimpungan lalu kehilangan arah hidup karena dalam keduanya itu Tuhan sedang menyatakan `keinginannya yang penuh kasih.

Menyangkut Hari Penghakiman, barangkali ada yang berpikir bahwa manusia sudah lama menunggunya. Sejak dari zaman para rasul (bahkan sebelumnya oleh Yesus sendiri) ‘gagasan’ tentang hari Tuhan telah digaungkan. Lalu kapan itu akan terwujud? Janganlah bertanya kapan itu akan terwujud, karena itu bukan hak kita. Bisa jadi Tuhan belum mewujudkannya karena ‘tidak sampai hati’ menyaksikan manusia yang hidup dalam kejahatan masuk dalam kebinasaan nantinya. Ia ingin menyatakan kasih-Nya kepada mereka. Akan tetapi jika saatnya Ia merasa cukup, maka hari itupun akan terjadi.

Sekali lagi, jangan tanyakan kapan itu akan terjadi, sebaliknya bertanyalah pada diri sendiri sudah siapkah saya menghadapi Hari Tuhan sebagai hari penghakiman?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here