Mengenal Dia Yang Benar Dengan Hati Tenang

0
91

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Efesus 1:15-23

(15) Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, (16) aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, (17) dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. (18) Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, (19) dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, (20) yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, (21) jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. (22) Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. (23) Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

 

Betapa bahagia hati Paulus mendengar kabar tentang iman dan kehidupan kasih dari orang-orang Kristen di Efesus. Ia bersukacita atas kemajuan mereka dalam memelihara persekutuannya. Itulah sebabnya, secara pribadi, ia mengucap syukur dan terus mendoakan mereka. Paulus mendoakan mereka agar iman dan kasih mereka tidak terbatas pada masa itu saja, tetapi terus berlanjut pada masa selanjutnya. Jalan masih panjang. Mereka harus terus berjuang untuk mempertahankan kehidupannya di dalam iman dan kasih. Dalam hal ini Paulus memohon agar Allah berkenan memberikan mereka Roh hikmat dan wahyu-Nya. Tujuannya? Supaya mereka makin mengenal Dia dengan benar.

Baca juga  OREMUS PRO INVICEM. MARILAH KITA SALING MENDOAKAN

Pengenalan yang baik akan Allah hanya dimungkinkan jika Roh Kudus menghinggapi manusia. Roh inilah yang membuat orang mengerti bahwa Yesus itu Tuhan. Roh itu juga yang akan membuat kita mengaminkan karya keselamatan Allah yang telah diwujudkan lewat jalan penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus. Bahkan, Roh itu akan memberikan kita hikmat sehingga mata hati kita menjadi terang untuk mengenal Allah dengar benar. Selain oleh Roh, pengenalan yang baik akan Allah juga dapat terjadi melalui wahyu yang datang kepada seseorang. Dengan wahyu ini dimaksudkan supaya apa yang tersembunyi menjadi jelas baginya. Wahyu merupakan tanda di mana misteri keselamatan Allah dibukakan bagi manusia. Jadi, dengan adanya Roh dan wahyu dalam diri manusia, ia dapat melihat kebenaran Allah dalam setiap kenyataan, termasuk dalam kesengsaraan sekalipun.

Tanpa Roh dan wahyu manusia tidak dapat membuang selaput-selaput yang menggelapkan mata hatinya. Ada begitu banyak “selaput” di dunia ini yang membuat mata hati kita tidak dapat melihat kebenaran dengan jelas. Selaput itu antara lain adalah keterikatan hati kita kepada Mamon (simbol keserakahan). Karena itu Yesus meminta kita untuk waspada terhadap Mamon (Mat. 6:19-24). Mamon bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Pada gilirannya, adanya selaput tersebut, membuat kita kita tidak dapat memaknai hidup ini secara tepat. Ini dapat berakibat, misalnya, pada menurunnya etos kerja. Tampaknya kita bekerja dengan keras, tapi sebenarnya tidak. Secara kasat mata, kita tampaknya telah melakukan hal-hal baik, tapi sebenarnya tanpa kejujuran dan kearifan.

Selain Mamon, selaput lain yang dapat menggelapkan mata hati kita adalah kekayaan dan kekuasaan. Pada orang yang pikirannya dan hatinya terikat kepada kekayaan dan kekuasaan, kepekaan dan ketajaman nuraninya menurun dan bahkan hilang. Selaput berikutnya, dan ini sering tidak disadari, adalah tekanan karena penderitaan. Jangan heran, orang yang didera kemiskinan dan kesengsaraan dalam waktu yang lama sering kalap atau bertindak tanpa pertimbangan yang matang.

Baca juga  UBI CARITAS ET AMOR, DEUS IBI EST: DIMANA ADA KASIH DAN CINTA, DISITULAH ALLAH BERADA

Untuk melawan selaput-selaput tersebut, kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Lewat doa kita dapat memohon kepada Tuhan untuk memberikan Roh dan wahyu-Nya supaya mata hati kita menjadi terang (ay. 18). Ingat: jangan mencari pencerahan hati lewat filsafat atau hikmat dunia, semuanya akan sia-sia. Hanya Roh dan wahyu dari Allahlah yang dapat membuat hati kita menjadi baru.

Hari ini kita memperingati turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid. Tanda sejati untuk pembaruan hidup dan hati manusia telah dinyatakan Allah. Artinya, dengan adanya Roh Kudus hidup murid-murid mengalami pembaruan, hati mereka dicelikkan dan semangat mereka “dibangkitkan” kembali. Mereka makin mengenal Allah dan makin memahami tujuan dari pekerjaan-Nya di dunia ini. Pengalaman murid-murid ini terbuka juga bagi kita yang mau menyambut hadirnya Roh Kudus dalam hidup sehari-hari. Setiap orang yang menerima Roh Kudus akan mengalami pembaruan hati dan jiwa. Tapi ini tidak terjadi secara otomatis. Semua harus melalui penyerahan diri yang sungguh-sungguh disertai ketulusan dan kerendahan hati. Dengan kata lain, melalui hubungan yang terus dipelihara dalam doa dan keinginan untuk melakukan kehendak-Nya setiap hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here