Standard Chartered Bank Sumbang Retina Camera untuk Pemeriksaan Mata Bayi Lahir Prematur

0
35

 

 

Data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menunjukkan kurang dari 10% bayi lahir prematur memperoleh pemeriksaan untuk Retinopathy of Prematurity (ROP)

 

 

JAKARTA, Suarakristen.com

 

 

Standard Chartered Bank(“Bank”) hari ini menyerahkan satu buah kamera retina, alat yang dipergunakan untuk memeriksa retina bayi lahir prematur, kepada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (“RSCM”). Acara serah terima yang diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan buka puasa bersama Bank ini dilakukan oleh Chief Executive Officer Standard Chartered Bank, Rino Donosepoetro, kepada Dr. dr. Nina Kemala Sari, SpPD-KGer, MPH, Direktur Pengembangan dan Pemasaran RSCM. Turut menyaksikan acara serah terima adalah Dr. Satya Praba Kotha,Senior Program Manager Eye Health Helen Keller International.

 

Penyerahan kamera retina ini merupakan bagian dari Seeing is Believing(SIB), sebuah komitmen global Bank yang dilaksanakan sejak 2003 dan bertujuan untuk mencegah kebutaan dan gangguan penglihatan. Salah satu fokus dari program ini adalah penyediaan program deteksi dini bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata yang dapat dihindari serta pemberian akses bagi pemeriksaan dan pengobatan mata dengan harga terjangkau.

 

 

Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia Rino Donosepoetro menyampaikan bahwa,“Bekerjasama dengan Helen Keller International, sebagai salah satu mitra program SIB, Bank memiliki komitmen untuk mencegah sejak dini gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dihindari. Salah satu bentuknya adalah pemberian bantuan kamera retina kepada RSCM yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bayi prematur yang diduga menderita Retinopathy of Prematurity (ROP/Retinopati Prematuritas).”

 

 

Retinopati Prematuritas/ROP adalah kelainan pada mata yang terjadi pada bayi lahir prematur. Kelainan ini disebabkan adanya pertumbuhan pembuluh darah retina abnormal yang dapat menyebabkan perlukaan atau lepasnya retina. Data dari RSCM menunjukkan pada 2013, kurang dari 10% bayi lahir prematur di rumah sakit

Baca juga  Kunjungi Ponpes At-Taufiqy, Presiden Jokowi Ajak Para Santri Sebarkan Nilai Kesantunan di Masyarakat

selain RSCM memperoleh pemeriksaan ROP. Hal ini disebabkan karena kurangnya pelatihan, kapasitas, dan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bayi berisiko. Ada juga kasus dimana bayi lahir prematur diluar RSCM terlambat dirujuk untuk diperiksa di RSCM. Namun demikian, dalam sejumlah kasus, bayi prematur dengan

risiko ROP masih dapat diobati.

 

Program SIB dilaksanakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sejak 2003. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan diantaranya pelaksanaan operasi katarak, pemeriksaan mata dan pemberian kacamata, peningkatan capacity building bagi tenaga kesehatan mata, diabetic retinopathy, serta pembuatan fasilitas pendukung pemeriksaan mata di beberapa wilayah di Indonesia. Sejak tahun lalu, Bank bermitra dengan Helen Keller International dan konsorsiumnya untuk periode 2015-2020 dengan fokus utama penyediaan pemeriksaan dini bagi anak-anak dengan gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata yang dapat dihindari. Beberapa hasil yang telah dicapai sejak tahun lalu diantaranya pembangunan pusat pemeriksaan mata khusus anak di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Makassar, pertama kalinya ada di wilayah Indonesia Timur. Selain itu juga,tercatat beberapa kegiatan seperti 25 orang anak menerima bantuan operasi mata, 346 anak dengan keterbatasan fisik memperoleh kacamata gratis, dan sekitar 1.539 anak dengan keterbatasan fisik juga telah menerima edukasi kesehatan mata dan beberapa kegiatan capacity building bagi para tenaga kesehatan mata.

 

Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer SCB Indonesia, dalam kata sambutan singkatnya menyatakan,”SCBI optimis dengan perekonomian Indonesia. Kami baru saja menandatangani perjanjian dengan BKPM untuk menarik FDI ke Indonesia.”

 

Sementara itu, dalam kata sambutan yang lain,”Ruddy Wangsawidjaja, Country Head of Commercial Banking, menegaskan,”SCBI telah beroperasi selama 154 tahun di Indonesia. Selama kami beroperasi, kami berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satu yang kami lakukan ada menjadi satu-satunya rating advisor untuk pemerintah Indonesia dimana saat ini Indonesia telah berhasil masuk ke dalam investment grade. Dengan jaringan yang luas, kami juga berupaya untuk menarik investor masuk ke Indonesia.

Baca juga  Siaran Pers, Hendardi, Ketua SETARA Institute

 

Ditambahkan oleh Michael Sugirin, Country Head of Transaction Banking,” Melalui Transaction Banking, SCBI telah meluncurkan sejumlah layanan seperti (1) memfasilitasi pembayaran premi Allianz melalui Indomaret untuk menjangkau kelompok unbanked; (2) layanan direct debit bersama MPMF; (3) layanan e-wallet bersama Indosat. SCBI berkomitmen untuk terus berinovasi menawarkan layanan yang sesuai dengan pasar Indonesia.”

 

Mengapresiasi dukungan SCBI tersebut, DR. dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA(K) Departemen Medik Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, memaparkan,”Indonesia merupakan negara ke-lima dengan kelahiran bayi prematur terbesar di dunia.Angkanya mencapai sekitar 1 juta per tahun. Bayi kelahiran prematur berpotensi untuk mengalami kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah. Kami menunggu selama 15 tahun untuk bisa mendapatkan alat retina kamera yang hari ini diberikan oleh SCBI. Alat retina kamera yang diberikan SCBI adalah mobile, sehingga dapat disirkulasikan ke RSUD di Jakarta. Dengan dukungan SCBI ini, kami bisa berbagi ilmu dengan RS lain dan menolong lebih banyak bayi prematur di Indonesia.

 

 

 

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, harap hubungi:

Dody Rochadi, Country Head, Corporate Affairs

Iie Sri Rejeki, Sustainability Manager, Corporate Affairs

STANDARD CHARTERED BANK, INDONESIA

Email: Corporate: Affairs_Indonesia@sc.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here