ORANG YANG MENANTI-NANTIKAN TUHAN MENDAPAT KEKUATAN BARU

0
39

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Yesaya 40:25-31

(25) Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. (26) Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat. (27) Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” (28) Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (30) Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, (31) tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

 

Jika Anda kelelahan karena seharian bekerja, maka Anda perlu beristirahat. Istirahat yang cukup akan memulihkan tubuh yang penat. Tapi, bagaimana kalau psikis Anda yang capek? Tidur cukup tak mungkin mengobatinya. Jangan-jangan malah gak bisa tidur. Kita harus mencari akar masalahnya, barulah kita dapat memikirkan cara pengobatannya.

Nabi Yesaya berhadapan dengan orang-orang yang menderita, baik fisik maupun psikisnya. Mereka memandang dirinya sebagai orang malang, gagal dan tak punya masa depan yang baik. Kondisi ini membuat mereka kecewa terhadap Allah. Mereka lama terkurung dalam perasaan ini sehingga sulit bagi mereka untuk menerima berita dan janji kelepasan dari Tuhan. Mereka tidak dapat percaya lagi dan tidak berani mengambil resiko iman. Mereka lebih suka tinggal dalam keadaannya yang merana. Biarlah seperti ini, dari pada kita menaruh harap kepada Tuhan, tapi pertolongan-Nya tak kunjung datang.

Baca juga  Pernyataan Sikap PGI Terkait Teror Bom Kampung Melayu Jakarta

Nabi Yesaya memahami penderitaan orang-orang ini. Ia tidak mempersalahkan mereka. Yang dilakukan adalah membuka pikiran mereka dengan memberitahukan siapa Allah itu sebenarnya (ay. 1). Allah tidak dapat disamakan dengan apa pun. Dia adalah Khalik Pencipta segala yang ada. Setiap orang harus menyadari hal ini. Tanpa kesadaran ini, kita kehilangan pegangan untuk mengakui Allah sebagai Tuhan. Dia adalah Pencipta. Segala sesuatu ada karena kuasa dan kehendak-Nya. Termasuk diri dan hidup manusia, berada dalam “kendali” tangan-Nya. Sekalipun kita menolak untuk percaya kepada-Nya, tapi kita tidak dapat menyangkal bahwa hidup kita bergantung kepada-Nya.

Selain sebagai Pencipta, Allah juga menjamin kehidupan manusia. Ia dapat memberikan masa depan yang lebih baik. Tuhan kita adalah Tuhan yang berjanji, bahwa barangsiapa mau bersandar dan berharap kepada-Nya, Ia akan memperbarui kekuatannya setiap kali. “Orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: … mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Janji ini kita temukan lagi dalam Matius 11:28 di mana Yesus membuka diri dan berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Janji Tuhan itu, ya dan amin. Semua orang dapat mengalaminya. Ya, Tuhan akan memberikan semua itu, kepada mereka yang menanti-nantikan Tuhan dengan sabar dan penuh pengharapan. Dia akanmemberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (ay. 29).

Bagaimana Tuhan menyatakan pertolongannya sesuai janjinya, dapat kita lihat dalam diri Paulus. Paulus sungguh mengimani jani Tuhan, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor. 12:9). Didorong oleh keyakinannya yang kuat akan janji dan pertolongan Tuhan ini, Paulus rela menderita. Katanya, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10).

Baca juga  Dr. Abidinsyah Siregar: Pembangunan Nasional Berbasis Revolusi Mental Nawacita Harus Terus Didukung Oleh Seluruh Komponen Bangsa!

Sampau sekarang janji dan jaminan Tuhan di atas masih berlaku. Dalam sejahar pertumbuhan gereja, telah banyak kesaksian orang beriman yang menunjukkan kenyataan dari janji Tuhan tersebut. Mereka mengalaminya, ketika mereka, dalam iman yang teguh, setia menantikan-nentikan Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here