Berperang Melawan Kejahatan

0
45

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

Mikha 4:1-5

 

(1) Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, (2) dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem.” (3) Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. (4) Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya. (5) Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.

 

Isi perikop ini sangat indah. Manusia dipanggil untuk hidup dalam damai. Damai tidak akan tercipta lewat perang. Tuhan tidak lagi menghendaki perang di antara manusia. Yang Ia kehendaki adalah hidup berdampingan. Kenapa Tuhan tidak menghendaki perang? Alasannya adalah sebagai berikut: (1) Kebenaran tidak mungkin dapat ditegakkan dengan perang. Perang, dalam kenyataannya, hanya menabur dusta; (2) Perang menciptakan kebencian; (3) Perang menghancurkan ekonomi (kebutuhan pokok manusia); (4) Perang merendahkan martabat manusia; (5) Perang mematikan hati nurani; (6) Perang menghancurkan nilai-nilai peradaban; (7) Perang selalu mengorbankan orang-orang yang tidak berdaya; dan (8) Perang tidak sesuai dengan ajaran Yesus.

Baca juga  Pdt. Weinata Sairin: "Ab alio expectas alteri quod facis. Apa yang engkau harapkan dari orang lain adalah apa yang kau lakukan kepada orang lain".

 

Pada ayat 3 tampak jelas penolakan Tuhan terhadap perang. Ia justru menghendaki alat-alat perang ‘didaur’ ulang menjadi alat yang menyejahterakan kehidupan bersama. Pendek kata, kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama. Kita harus memperjuangan kedamaian agar nyata dan tumbuh di antara kita.

 

Ketika kita dipanggil untuk menciptakan kedamaian, maka kita dierhadapkan dengan sebuah ‘perang’ yang harus kita lakukan. Perang itu adalah perang melawan kejahatan. Ini adalah perang iman. Senjata-senjata yang digunakan adalah senjata-senjata rohani seperti yang tertera dalam Efesus 6:14-18. Senjata rohani itu adalah ikat pinggang kebenaran, bajuzirah keadilan, kasut kerelaan, perisai iman, ketopong keselamatan, pedang Roh, dan doa. Itulah senjata-senjata yang kita perlukan untuk menciptakan damai dan sejahtera.

 

Orang yang berjalan di jalan Allah akan memakai senjata-senjata itu. Jika kita sedang memakai senjata lain, waspadalah, kita mungkin sedang berada di jalur lain. Jangan teruskan, itu hanya akan mendatangkan petaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here