I Learned That Courage Was Not That Absence of Fear, But The Triumph Over It. The Brave Man Is Not Who Does Not Feel Afraid But He Who Conquers The Fear (Nelson Mandela)

0
40

 

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

 

Di zaman tatkala para murid Sekolah Rakjat masih diberi tugas menghafal peribahasa Indonesia, ada puluhan bahkan ratusan peribahasa Indonesia yang mesti dipelajari dengan baik. Pada zaman itu para peserta didik ditugaskan untuk menghafal beberapa peribahasa dan dalam kegiatan pelajaran Bahasa Indonesia mereka diminta untuk menguraikan arti peribahasa itu dalam bahasa mereka sendiri. Isi peribahasa itu tidak hanya terfokus pada kemahiran berbahasa Indonesia tapi sekaligus juga sebagai media pembinaan watak dan karakter bagi para peserta didik. Salah satu peribahasa itu berbunyi “Berani karena benar, takut karena salah”. Ada juga peribahasa yang populer di saat itu misalnya “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

 

Dari segi isi, peribahasa itu jelas memiliki makna yang amat penting tidak saja sebagai himpunan “kata-kata hikmat” dari para pendahulu, tetapi juga sebagai sebuah model pembelajaran budi pekerti bagi para peserta di didik. Disinilah kekayaan makna dari sebuah peribahasa, tatkala aspek kebahasaan dan etika menjadi benang merah dari sebuah peribahasa itu.

 

Kedua ┬ácontoh peribahasa yang tadi dikutip telah mendorong peserta didik untuk tampil ke depan dengan berani, tanpa takut tatkala mereka merasa ada di pihak yang benar. Kebenaran harus mengemuka, mengedepan, tak bisa ditutup dan disembunyikan. Kebenaran harus dikatakan, kebenaran harus dinyatakan tak boleh ada takut untuk membela dan menyatakan kebenaran. Peserta didik dan bahkan setiap orang juga diingatkan agar mereka menjalani sebuah proses yang bisa saja menyakitkan, sebelum mencapai sesuatu yang lebih baik. Tak boleh ada sesuatu yang instant, yang “sim salabim” dalam kehidupan ini. Ada proses dan mekanisme yang harus ditempuh ; ada berakit-rakit, ada berenang-renang. Ada sistem dan prosedur yang mesti ditempuh dan dilalui.

Baca juga  Mengasihi Musuh Kita

 

Ungkapan Nelson Mandela tokoh dan pejuang Afrika Selatan yang dikutip diawal tulisan ini bukanlah sekadar sebuah pernyataan teoritis-filosofis tentang apa makna dan hakikat *keberanian* itu tetapi sebuah refleksi yang amat bernas yang diangkat berdasarkan pengalaman empirik. Ia pejuang yang berani melawan arus, ia berjuang bagi persamaan hak yang menolak pembedaan warna kulit. Kata-kata, sikap dan keyakinan terhadap apa yang ia gagas, ia ungkap dengan berani walau kondisi itu mesti mengantarnya kedalam penjara. Ia telah menaklukkan rasa takut dan ia menang.

 

Sebagai umat beragama kita telah dituntun oleh ajaran agama kita masing-masing agar kita berani untuk menyatakan yang benar. Keberanian itu perlu ditengah dunia yang dicekam ketakutan. Orang yang berani kata Mandela adalah orang yang menaklukkan rasa takut itu. Mari enyahkan rasa takut, jadilah manusia pemberani, juga berani mengakui kesalahan kita !

 

Selamat Berjuang! God bless.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here