Historia Magistra Vitae: Sejarah adalah Guru Kehidupan

0
45

 

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

Dalam menapaki jalan kehidupan yang panjang, penuh tantangan dan amat krusial kita sangat memerlukan guru. Guru dalam kapasitas dan kompetensinya akan memetakan dengan jelas lika-liku perjalanan, rumus atau kiat dalam menghadapi berbagai persoalan yang hadir ditengah perjalanan, menguatkan dan menghiburkan kita, memotivasi hingga akhirnya kita tiba ditempat tujuan dengan selamat.

 

Guru secara formal adalah sosok seorang pendidik, pengajar yang ada diruang-ruang kelas untuk membantu para peserta didik memahami dunia yang dihidupinya melalui serangkaian proses belajar-mengajar sebagaimana yang ditetapkan dalam kurikulum.

 

Dalam benak para peserta didik di zaman beheula, guru adalah figur paripurna kebanggaan murid yang tiada tertandingi karena komitmennya yang amat kuat untuk mendidik para murid menuju masa depan yang lebih baik. Seperti juga tenaga kesehatan, maka dedikasi dan kontribusi para guru dalam membuka mata warga masyarakat di pedalaman dan daerah terisolasi amat kuat dan signifikan

 

Itulah sebabnya baik guru maupun tenaga kesehatan sejak dulu merupakan profesi yang amat dikenal oleh masyarakat karena peran mereka yang amat dirasakan bagi kemajuan yang dicita-citakan masyarakat. Kita tahu bahwa lembaga-lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Katolik, dan lembaga-lembaga agama yang lain memiliki persekolahan dari berbagai jenjang, institusi kesehatan dalam upaya mereka untuk memberikan pelayanan yang prima bagi masyarakat sesuai dengan tugas panggilan agama-agama.

 

Cukup menarik pepatah yang dikutip diawal tulisan ini bahwa ‘sejarah adalah guru kehidupan’. Para sejarawan kita menulis buku-buku sejarah dalam perspektif mereka masing-masing untuk menjadi bahan pembelajaran bagi para peserta didik dan mahasiswa kita. Mereka mempelajari sejarah, lebih dalam konteks memenuhi imperatif kurikulum. Dari pengalaman empirik, kisah-kisah sejarah belum sepenuhnya diposisikan sebagai “guru kehidupan” tetapi sebagai serpih-serpih memori masalalu yang terkadang memiliki romantisme yang kuat.

Baca juga  Kesungguhan Hati Meminta kepada Tuhan

 

Pepatah ini mengajak dan mengingatkan kita agar menjadikan sejarah sebagai guru kehidupan. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, jangan abaikan dan lupakan sejarah. Jadikanlah sebagai guru agar kita tidak  mengulangulang kesalahan.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here