Dari FGD Persatuan Cendikiawan Protestan Indonesia (PCPI): Perkawinan Sejenis itu Destruktif dan Kontra-Produktif Bagi Keluarga, Masyarakat dan Gereja: Tolak Legalisasi Perkawinan Sejenis!!!

0
44

 Jakarta,Suarakristen.com Oleh: Olavio Lutherson PL

Frans Ansanay.jpg
Frans Ansanay.jpg

“Mahkamah Agung AS baru-baru ini (26/6/15) telah mengesahkan sebuah keputusan hukum dan konstitusi yang melegalkan perkawinan sejenis di seluruh (50) negara bagian AS. Negara-negara bagian AS, seperti Michigan, Kentucky, Ohio, dan Tennessee, yang sebelumnya menetapkan dan mendefinisikan perkawinan  sebagai antara laki-laki dan perempuan, kini dipaksa untuk meredefinisikan perkawinan tidak hanya antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga antara pasangan sejenis, yaitu antara laki-laki dan laki-laki, dan antara perempuan dengan perempuan. Legalisasi perkawinan sejenis di AS dan di beberapa negara lain telah membuka babak baru diskursus tentang seksualitas dan perkawinan.

 

Karena masa depan gereja juga sangat ditentukan dari menang-kalahnya pertarungan gereja dalam isu perkawinan sejenis, dan karena masa depan peradaban umat manusia bergantung pada perkawinan biblikal, maka Gereja-gereja Protestan di Indonesia khususnya, harus segera mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi problem dan gerakan LGBT ini. Bagaimana Gereja-gereja Kristen Protestan merespons isu perkawinan sejenis (samesex marriage) ini dari dalam dan luar tembok gereja dan dari mimbar gereja dengan percakapan yang sehat, imani dan ajaran yang benar (biblikal)?”demikian papar Ketua Majelis Tinggi dan salah satu pendiri Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Willem Frans Ansanay, S.H., S.Th., M.Si, dalam Focus Group Discussion (FGD) bulanan Persatuan Cendikiawan Protestan Indonesia (PCPI) (22/7/15) di Jakarta. Diskusi tersebut berthema,”Bahaya Perkawinan Sejenis Bagi Keluarga, Gereja dan Masyarakat: Suatu Tinjauan Alkitab”, dan dipandu Pdt. Bob Leimena, M.Th.

 

Papar Frans Ansanay lebih lanjut,

“Apa yang Alkitab ajarkan tentang seksualitas dan praktek homoseks?”

“Kesaksian Alkitab tentang seksualitas manusia telah sangat jelas dan tetap tidak berubah. Rancangan dan rencana Allah bagi seksualitas dan perkawinan manusia sudah sangat jelas dinyatakan dalam Alkitab.

Kej. 1:27: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Kejadian 2 : 18-25 :TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

 

Jadi, tegas Frans Ansanay, “Ketika Tuhan Allah menciptakan seorang rekan atau mitra bagi Adam, Tuhan menciptakan seorang perempuan (Hawa), bukan Adam yang kedua atau Adam yang lain. Ini berarti bahwa kemitraan yang sempurna memerlukann suatu tingkat perbedaan dan juga suatu tingkat kesamaan yang agung sehingga Adam sampai berteriak dengan kuat,”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” (Kej 2:23)

 

Jadi, Alkitab mengajarkan dan mendukung hetetoseksualitas dari sejak penciptaan manusia..Alkitab menegaskan, satu-satunya hubungan yang dapat diterima dalam mata Allah atau dianggap normal bagi masyarakat adalah hubungan yang heteroseksual.

Karena itu Alkitab merupakan kitab heteroseksual. Alkitab hanya mengajarkan hubungan/ perkawinan heroseksual yang monogamis yang berkomitmen (terikat),- bukan perkawinan homoseks monogamis yang berkomitmen.Karena itu maka praktek homoseksual itu tidak sesuai dengan Firman Tuhan dan terkutuk sifatnya.

 

Umat manusia hanya bisa berkembang dan eksis dalam persatuan seks secara heteroseksual. Keintiman seksual antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan merupakan cara pertalian/ikatan laki-laki-perempuan yang lazim (secara fisikis dan emosional), karena metode ini sesuai dengan desain tubuh manusia dan karena merupakan cara lazim untuk bisa melahirkan keturunan.

Sekiranya Tuhan Allah memang menciptakan umat manusia sebagai makhluk homoseks, dan jika Tuhan Allah mengizinkan perkawinan sejenis, Dia pasti sudah mendesain tubuh kita sedemikian rupa sehingga bisa bereproduksi melalui hubungan homoseks maupun hubungan heteroseks, dan, Dia pasti sudah membuat praktek homoseksualitas itu sehat dan alami.”

 

Urai Frans Ansanay lagi,”Rasul Paulus dengan jelas menegaskan hubungan heteroseksual manusia dalam Efesus 5:22, 25, dan 31″

Efesus 5:22 (TB) “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan

Efesus 5:25 (TB)  Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

Baca juga  Natal Lembaga Indonesia Cerdas: Jadikan Pendidikan Kristen Sebagai Pilar Kemajuan Bangsa dan Agen Transformasi Sosial

Efesus 5:31 (TB)  Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Hanya jenis hubungan romantis dan seksual ini (antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan) yang dirancang, dipikirkan dan dimaksud Tuhan.Hanya perkawinan jenis ini yang Tuhan akui atau berkati: seorang laki-laki dan seorang perempuan datang bersama ke hadapan Tuhan mengucapkan janji dan komitmen untuk bersatu seumur hidup.

Sifat saling melengkapi dan mengisi antara seorang laki-laki dengan seorang  perempuan (antar jender) merupakan bagian penting dari rancangan ilahi Tuhan bagi manusia.

Kita lihat dalam Kejadian 1-2, dari Adamlah Tuhan membentuk Hawa. Mereka berdua saling melengkapi. Ketika Adam melihat penolong, pasangan dan lawan jenisnya (lawan mainnya), Adam langsung berseru dengan sangat gembira dan dengan puitis, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”(Kej. 2;23)

Kej. 2:24 yang tidak boleh kita lupakan. Karena perempuan dibentuk dan diambil dari laki-laki, Firman Tuhan tegaskan,”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Kitab Kejadian mengajarkan kita bahwa karena perempuan diambil dari laki-laki, keduanya akan dipersatukan kembali sebagai sebuah kesatuan, pasangan yang serasi dalam desain perkawinan antar beda jenis, dimana masing-masing  individu akan saling melengkapi. Sehingga dari persatuan tersebut manusia bisa berkembang-biak (bereproduksi) atau prokreasi.

Dari segi biologis, Tuhan merancang kodrat biologis manusia sebagai makhluk yang bisa berkembang-biak atau bereproduksi. Tuhan menciptakan potensi dalam diri Adam dan Hawa (laki-laki dan perempuan) kemampuan reproduktif yang saling bergantung satu sama lain. Tanpa ada pasangan yang lain/berbeda, tidak akan pernah ada reproduksi dan prokreasi.  Adam tidak bisa memperoleh keturunan tanpa Hawa, demikian juga sebaliknya. Hanya dengan persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, ada reproduksi dan perkembangbiakan umat manusia.  Di luar hubungan heteroseksual, umat manusia akan punah, binasa dan tamat riwayatnya di muka bumi, di alam semesta ini.

Persatuan seorang laki-laki dengan seorang laki-laki, atau persatuan seorang perempuan dengan seorang perempuan tidak sama seperti persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Karena persatuan seksualitas yang sejenis tidak memperlihatkan kesamaan dan perbedaan pokok yang mendasar.

Meminjam judul buku John Gray “Men are From  Mars and Women are from Venus; maka Mars + Mars atau Venus + Venus, tidak akan pernah bisa sama dengan Mars + Venus.

Secara anatomi fisik, seksualitas laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, saling mengisi dan saling menyempurnakan.Ini adalah kodrat seksualitas manusia.

 

Daya kreatif Allah dan citra ilahi Allah dalam diri laki-laki dan perempuan terpancar dari persatuan antara laki-laki dan perempuan.Natur moral Allah, anugerah kehidupanNya dan pemberian diriNya terpancar sempurna dalam persatuan ilahi tersebut.”

 

Lalu tanya Frans Ansanay lebih bersemangat lagi. “Apa yang Tuhan Yesus ajarkan tentang perkawinan sejenis?

Tuhan Yesus memang tidak pernah menyinggung secara langsung tentang perkawinan sejenis. Akan tetapi ketika ditanya tentang perkawinan, Dia langsung mengacu pada kitab suci Kejadian yang memberi definisi dan ketetapan ilahi tentang perkawinan. Perkawinan menurut Tuhan Yesus merupakan persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dan dimaksudkan untuk seumur hidup. Inilah konsep dan prinsip kita tentang perkawinan dan juga tentang praktek LGBT.

 

Matius 19 : 4

Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

Matius 19 : 5

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Matius 19 : 6

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Markus 10 : 6

Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.

 

Apalagi yang Alkitab ajarkan?

Roma 1 : 26-27

“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.

Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”

 

1 Korintus 6 : 9-10.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci (homoseks), orang pemburit (sodomis) pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

 

1 Timotius 1 : 9-10

yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat

Baca juga  Pesan Pastoral PGIW DKI Jakarta Dalam Rangka Menyongsong Pemilihan Gubernur Jakarta 2017: “Mencari Pemimpin DKI Jakarta Yang Dapat Dipercaya”

Ketiga acuan firman Tuhan tersebut menyatakan bahwa hasrat-hasrat dan perbuatan-perbuatan homoseks itu tidak lazim, tidak alami, sangat memalukan, bertentangan dengan ajaran sehat, terkutuk dan membuat orang tidak bisa masuk ke dalam kerajaan Allah. Karena itu, perkawinan sejenis tidak mungkin bisa Gereja terima, apalagi legalkan. Gereja ada untuk menyelamatkan orang, bukan untuk memberkati perbuatan yang dikutuk oleh Tuhan, bukan untuk menyesatkan orang.’

Tegas salah seorang fungsionaris  PCPI ini,”Perkawinan sejenis bukanlah perkawinan biblikal dan bukan perkawinan ilahi.Perkawinan sejenis itu penipuan yang cantik dari Iblis.

 

Orientasi seksual antara seorang laki-laki dengan perempuan inilah yang dirancang dan ditetapkan bagi manusia. Walaupun para pendukung praktek homoseks menambahkan alasan homoseksualitas dapat diterima secara Alkitabiah asal dilakukan dalam ikatan perkawinan atau komitmen hidup bersana dan setia sampai mati, kita tetap menolak argumentasi ini karena persatuan yang dirancang Tuhan untuk ikatan dan komitmen perkawinan hanya antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Hubungan seks antara sesama jenis dilarang dan ditentang oleh Tuhan. Mempraktekkan hubungan sejenis adalah dosa dan terkutuk.

Alkitab, yang isinya menggambarkan hati dan kehendak Allah atas ciptaanNya, sangat jelas melarang semua bentuk praktek homoseks. Hanya orang-orang yang menolak otoritas penuh Alkitab yang mau membenarkan praktek homoseks dan menjustifikasi kekristenan gay.

Firman Tuhan melarang praktek homoseks. Alkitab juga tidak mengijinkan hubungan seesama jenis yang berkomitmen. Alkitab sudah jelas menolak praktek homoseks/lesbianisme.”

 

Tambah Frans Ansanay,”Hubungan homoseks secara anal sangat beresiko menyebabkan banyak penyakit, ini ditekankan oleh Alkitab , dimana orang-orang homo/lesbi disebutkan tubuhnya akan menerima hukuman yang seharusnya atas kesalahan-kesalahan mereka (Rom 1:27)

 

Banyak hasil penelitian ilmiah memperlihatkan bahwa praktek homoseks membuat laki-laki homo dan biseks lebih rentan terserang penyakit HIV/AIDS/hepatitis, kanker dubur/anal, kencing nanah (gonorrhea) dan infeksi-infeksi perut dan usus di sepanjang hidupnya, juga lebih rentan mengalami depresi dan ketidakstabilan mental. Sedang perempuan-perempuan lesbi rentan terkena”bacterial vaginosis, kanker payudara dan kanker indung telur” daripada perempuan heteroseksual”.

Sekitar 50% pelaku LGBT menurut riset medis tidak (akan) hidup sampai usia 65 tahun.

Perkawinan-perkawinan sejenis tidak bertahan lama. Kurang dari 5% orang gay yang bisa mempertahankan hubungan mereka sampai 3 tahun atau lebih. Jadi seks tidaklah cukup.

 

Jadi, Praktek homoseks itu pasti destruktif dan kontra-produktif bagi masyarakat, bagi gereja dan bagi hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Karena itu juga, perkawinan sejenis juga membahayakan keberlangsungan dan perkembangbiakan umat manusia (pelaku LGBT), masyarakat dan kebudayaan. Perkawinan sejenis membahayakan sebuah keluarga dan bangsa.

 

Bagi Kekristenan, perkawinan merupakan anugerah Allah yang paling mendasar dan pokok bagi umat manusia agar manusia bisa berkembang biak.Sebuah perkawinan itu lebih dari sekedar pusat kesenangan seks  Sebuah perkawinan merupakan satuan sosial yang saling terkait dengan kehidupan sosial lainnya.

Perkawinan merupakan institusi sosial yang utama yang tidak hanya ada untuk kepuasan emosi dua individu, tetapi untuk kebajikan masyarakat yang lebih luas.

Homoseksualitas dan perkawinan sejenis bukanlah bagian dari ramuan atau resep Allah bagi umat manusia. Kalau ada pendeta atau pemimpin gereja yang mendukung kekristenan yang homoseks dan legalisasi perkawinan sejenis berarti dia tidak memahami bahwa Tuhan hanya menciptakan, mendesain dan merestui hubungan dan perkawinan berbeda jenis kelamin.

Tuhan pasti menghakimi masyarakat yang mengijinkan dan mengesahkan perkawinan sejenis.

 

Karena Protestantisme selalu bertitiktolak dari Alkitab saja, kita tidak boleh mengikuti orang-orang yang menafsirkan Alkitab dari kaca mata orang-orang yang mengikuti hawa-nafsu sesama jenis mereka.

 

Firman Tuhan merupakan dasar otoritas iman kita. Jangan menggunakan emosi untuk memahami masalah seksualitas manusia. Tetapi gunakan wahyu Alkitab. Dengan demikian kita bisa memisahkan kebenaran dengan kesalahan.

Nilai-nilai Alkitab merupakan prinsip perkawinan manusia. Kita harus tetap menegakkan prinsip-prinsip Alkitabiah ini. Tuhan memanggil kita untuk mempengaruhi orang dan masyarakat tempat kita hidup dengan Firman Tuhan.”

Akan tetapi, aku Frans Ansanay, Gereja-gereja saat ini memang dalam posisi dilematis, di satu sisi, kita harus menghormati kebebasan beragama/berkeyakinan/berekspresi (dalam hal ini kebebasan memilih orientasi seksual). Jadi, kita tidak boleh memaksakan pendapat, doktrin atau “kebenaran” kita kepada pihak lain (kaum LGBT); Dan tidak boleh melakukan diskriminasi kepada mereka dimana saja, kapan saja. Perkawinan sejenis memang merupakan hak  otonom pribadi. Hak menikah (sejenis) merupakan hak dasar yang melekat dalam kemerdekaan seseorang.

Gereja dan agama-agama memang tidak boleh digunakan untuk melakukan diskriminasi atas dasar identitas jender dan orientasi seksual kepada kaum LGBT.

 

Akan tetapi, menurut kita, sebuah kebebasan yang bersifat destruktif, kontra-produktif, aberatif (menyimpang dari kodrat) tidak boleh diltoleransi apalagi dilegalkan.

Yang perlu kita ketahui dari keputusan MA AS tersebut adalah bahwa gereja-gereja dan pendeta-pendeta masih diberi kebebasan untuk melaksanakan perkawinan sejenis atau tidak, sesuai keyakinan teologisnya.

Baca juga  PGPI Menyelenggarakan Seminar Pertumbuhan Gereja dan Konferensi Anak Pendeta

 

Tugas dan kewajiban alkitabiah kita untuk mencerahkan, menuntun, memulihkan atau mentobatkan kembali domba-domba (orang-orang) yang telah dibutakan dan disesatkan oleh ilah-ilah zaman dan pemikiran-pemikiran yang sesat dan mematikan ini. Kita perlu membantu orang agar kembali dan tetap bersandar kepada Firman Allah

 

Kita perlu pendekatan yang lebih baik untuk mempertahankan dan mengimplementasikan visi perkawinan tradisional yang biblikal.

Gereja-gereja harus memutakhirkan dan mempertegas pernyataan imannya tentang isu perkawinan, seksualitas manusia dan jender.

Sekarang adalah waktunya bagi gereja-gereja Protestan di Indonesia untuk mempertahankan dan memperjelas kebenaran biblikal yang tegas tentang  perkawinan, seksualitas manusia dan jender. Gereja-gereja harus mengupdate pernyataan imannya agar umat Tuhan tidak gampang diombang-ambingkan dan ditipu oleh ajaran-ajaran setan tentang isu-isu ini.

 

Saat ini adalah momen penentuan dan penegasan sikap bagi setiap pendeta, setiap gereja, denominasi, umat, pemimpin Gereja dan organisasi Kristen Protestan di Indonesia untuk merapatkan barisan dan kebersamaan untuk melawan agar roh-roh najis, pikiran-pikiran setan dan ajaran-ajaran destruktif tidak masuk dan menyusup ke dalam gereja-gereja Protestan di Indonesia. Tidak ada waktu dan tempat untuk bersembunyi lagi.Kita tidak boleh mengelak atau menghindar lagi. Sekarang saatnya kita mengangkat senjata rohani kita untuk memerangi roh-roh dan ideologi jahat ini. Kita harus mendeklarasikan kesetiaan kita kepada Firman Tuhan dan kepada ajaran Alkitab tentang perkawinan  dan moralitas seksual. Kita harus menolak revolusi seks dari iblis ini.

Kita tidak boleh berdiam diri, pasif. Kita tidak boleh terbawa arus revolusi seks yang bertentangan dengan keyakinan kita bahwa Sang Pencipta telah mendesain, memberi rujukan pada kita tentang seksualitas yang benar, ilahi, normal, produktif dan manusiawi.

Kita tidak boleh gagal mempertahankan perkawinan biblikal. Tanggung-jawab Kristen kita tidak berubah. Kita dituntut untuk menegakkan kebenaran Firman Tuhan bahwa perkawinan merupakan persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Dan menyatakan kebenaran ini dalam kasih.

Kita harus menegakkan kebenaran tentang perkawinan dalam kehidupan kita sendiri, dalam keluarga kita sendiri dan dalam  gereja-gereja kita sendiri.

Kita dipanggil Kristus untuk menjadi orang-orang benar, sekalipun kebenaran Alkitabiah tidak populer lagi atau bahkan bila kebenaran telah disangkal oleh kebudayaan sekitar kita.

Gereja pernah mengalami keadaan seperti ini sebelumnya, kita harus mengalami keadaan ini lagi.

Kebenaran Allah tidak berubah. Alkitab tidak berubah. Injil Yesus Kristus tidak berubah. Misi gereja tidak berubah.Yesus Kristus tetap sama, kemarin  dan selamanya. Kita menolak redefinisi Injil Yesus Kristus.

 

Karena rumah Tuhan adalah kudus, maka gedung  dan mimbar gereja serta fasilitas gereja tidak boleh digunakan untuk pemberkatan perkawinan sejenis, karena hal itu akan menajiskan rumah Tuhan.

Gereja harus senantiasa memproklamasikan Injil kepada kebudayaan-kebudayaan dan masyarakat.

Kita harus memperjuangkan kembali prinsip perkawinan sebagai persatuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.

 

Alkitab membawa kabar baik, pengampunan, kebebasan, pengharapan dan kelepasan bagi semua orang dan para LGBT, tidak akan menghasilkan depresi, penyesatan dan bunuh diri bagi para LGBT.”

 

“Ada kekuatan anti-kris yang mengendalikan revolusi dalam moralitas ini.

Gereja Tuhan yang sejati tidak boleh mengijinkan pelaksanaan perkawinan sejenis kaum LGBT oleh pendeta-pendeta durhaka dan murtad.

Gereja harus menahan dan melawan roh-roh nazis dan pikiran-pikiran setanis LGBT ini, sehingga pikiran, perkataan dan perbuatan kita tetap bisa mempengaruhi dinamika dan institusi-institusi masyarakat.”Seru Frans dengan antusias.

“Karena hanya prinsip-prinsip Firman Tuhan (Alkutab) yang bisa mempengaruhi, mentransformasi dan menstabilkan sebuah masyarakat dan kebudayaan.

Tuhan memanggil kita untuk mendemonstrasikan kuasa transformatifNya, menjadi garam dan terang baik secara individu maupun sosial dan melawan kuasa jahat yang ingin menghancurkan umat manusia dengan ajaran-ajaran yang destruktif di lingkungan sekitar kita.”tegasnya lagi.

 

Sementara itu ketua panitia FGD PCPI, Hotben Lingga, M.Th., menyatakan, “Banyak Gereja/umat Kristen semua aliran (lebih dari 50%) di Eropa dan AS telah disesatkan oleh Iblis untuk menerima dan mengakui praktek, ajaran dan legalisasi tentang perkawinan sejenis.Lebih dari 50% umat Kristen (semua aliran) di Barat telah mengubah definisi perkawinan dengan menambahkan (menerima) perkawinan sesama jenis di dalam AD/ART Gereja mereka.

Kekristenan Protestan harus tetap berdiri di atas Firman Tuhan dan di dalam pikiran Kristus. PCPI menyerukan agar pendeta-pendeta dan organisasi gereja yang menerima perkawinan sesama jenis agar bertobat dan dipulihkan karena telah mengkotbahkan Injil yang palsu.

Rasul Paulus dalam Galatia 1:8 telah memperingatkan bahwa akan ada orang yang mengkotbahkan Injil yang lain.

Untuk mengantisipasi Gerakan dan agenda LGBT menginvasi kekristenan di Indonesia, PCPI akan menyusun sebuah Manifesto tentang perkawinan sejenis dan praktek LGBT. PCPI menyerukan agar hamba-hamba Tuhan di Indonesia berdoa dan melakukan peperangan rohani bagi gereja-gereja di Barat yang telah disesatkan, dilumpuhkan dan diperdaya oleh Iblis karena mendukung praktek LGBT. Tiuplah sangkakala, invasi anti-kris segera sedang mengarah ke Asia dan Indonesia,khususnya.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here