M.Hokli H.Lingga, S.H.,: Kebebasan Sejati Hanya Ada di dalam Kristus Yesus!

0
118

M. Hokli H. Lingga, S.H.:

Kebebasan Sejati Hanya ada di dalam Kristus Yesus

Hokli“Banyak orang yang bilang mereka ingin bebas. Mereka ingin melakukan apa yang mereka mau dan membuat keputusan-keputusan sendiri, bebas dari hukum-hukum Tuhan atau aturan-aturan masyarakat. Menurut Firman Tuhan, keterbebasan dari Tuhan bukanlah kebebasan sejati. Bebas (keterbebasan) dari hukum-hukum Tuhan merupakan kebebasan palsu,-kebebasan yang bersifat ilusi/khayalan. Kalau kita menyatakan diri kita “bebas” dari pengekangan Tuhan, kita menjadi seorang budak dosa dan setan. Bebas dari Tuhan berarti menjadi budak atau hamba dosa dan setan. Keterbebasan dari Tuhan bisa saja kelihatan menarik, tetapi hasilnya adalah ketidakbahagiaan dan pada akhirnya masuk api neraka abadi. (Gal 6:7-8; Roma 6:23)

Di dalam Alkitab kebebasan selalu berarti kemerdekaan untuk menaati Allah, kebebasan untuk mengenal kehendak Allah dan melakukannya. Kebebasan bukan saja merupakan hak, ia merupakan sebuah tugas, kewajiban dan tanggung-jawab. Kita diingatkan oleh Alkitab agar berhati-hati terhadap mereka yang menjanjikan kebebasan/kemerdekaan, tetapi mereka sendiri merupakan budak kejahatan/kebinasaan/kerusakan (2 Pet 2:19). Kita mengakui bahwa Sepuluh Perintah Tuhan merupakan Hukum Allah mengenai Kebebasan yang sempurna. Ketaatan dan kesetiaan kepada Hukum Tuhan melindungi kebebasan beribadah, kebebasan berbicara, kesucian hidup, kesucian keluarga, kepemilikan hak milik pribadi, kebenaran, reputasi dan kebebasan hati nurani. (Kel 20:3-17)

Kebebasan yang sejati kita alami pada saat kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan (membangkitkan) jiwa, peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tidak berpengalaman…” (Maz 19-7-10). “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu. Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31-32). Kebebasan sejati hanya terjadi kalau Tuhan Yesus ditaati sebagai Tuhan. “Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan (2 Kor 3:17). Janji dan hukum Tuhan merupakan kebenaran absolut untuk kehidupan kita”demikian disampaikan M. Hokli H. Lingga, S.H., seorang pengacara muda, kepada Tabloid Tritunggal, di kantornya di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Pembicaraan Tritunggal dengan Hokli adalah sekitar makna kebebasan dalam perspektif iman Kristen Protestan.

Baca juga  Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu: Jangan Lupa Reformasi Protestan!

Menurut Hokli Lingga, yang saat ini sedang menyelesaikan studi S2 di FH UKI, Jakarta ini, Kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk berbuat dosa. Kebebasan sejati adalah kebebasan dari kuasa dosa.Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk merayakan kasih Allah dan hidup penuh sukacita. (Maz 119:32; Maz 119:45; Yoh 10:10).Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk mengasihi dan melayani Allah dan sesama manusia (Gal 5:13). Karena itu kebebasan alkitabiah hanya sampai sebatas hukum-hukum Allah.(Mat 7:21, Yoh 8:32; Rom 8:2; Kej 1:28). Jadi,tidak ada kebebasan absolut. Satu-satunya pilihan kita hanya diatur oleh Allah dan kebenaran atau oleh setan dan dosa. Kebebasan duniawi adalah kebebasan yang membawa kesengsaraan. “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? (Rom 6:16).

Kalau Allah hidup di dalam kita Ia akan mentransformasi kita. Kalau kita berjalan di dalam Roh Kudus, kita mulai melihat apa dosa itu sebenarnya, yaitu sesuatu yang kotor, hina dan memimpin kepada maut. Hidup di dalam Roh akan membuat kita semakin mudah melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Allah. (Roma 6:19-20)

Tambah Hokli lagi, Kebebasan beragama merupakan hak asasi paling dasar, paling suci dan tidak dapat dihilangkan. Hanya negara-negara yang dibangun di atas prinsip-prinsip alkitab ada kebebasan beragama. Hanya pemerintah-pemerintah yang berakar dalam nilai-nilai Judeo-Kristen mengizinkan prinsip-prinsip kebebasan warga-negara. Pemerintahan-pemerintahan non Kristen di Timur Tengah, India dan Cina tidak mengizinkan kebebasan beragama. Karena itu, negara-negara seperti Pakistan, India dan Tibet, secara keseluruhan, tidak toleran terhadap agama-agama yang lain. Pemerintahan atheis, seperti mantan Uni Soviet terbukti juga bersikap memusuhi praktek kebebasan beragama.

Baca juga  Bandul Pendulum Politik Amin Rais Pembawa Petaka!

 

Kekristenan sangat mendukung prinsip-prinsip kebebasan beragama karena, pertama,Tuhan sendiri yang memberikan “kebebasan untuk memilih/percaya/mengikut” atau kebebasan beragama kepada semua orang. Contoh jelasnya dipaparkan dalam Matius 19: 16-23 dan Matius 23:37.

 

Kedua, Kekristenan memandang setiap orang itu berharga, bernilai, agung dan berdimensi ilahi. Kita menghormati citra Allah dalam manusia (Kej 1:26). Salah satu kodrat/citra yang Tuhan berikan kepada manusia adalah kehendak bebas atau kebebasan untuk memilih dan mengambil keputusan secara bebas (Kej 13:8-12; Yosua 24:15). Tuhan sendiri menghormati kebebasan manusia untuk memilih apakah mau taat kepadaNya atau tidak.

 

Ketiga, kita berpendapat bahwa hanya Roh Kudus yang bisa mengubah hati manusia, bukan pemerintah (Yoh 6: 63). Kita menjadi Kristen adalah karena anugerah Allah melalui iman di dalam Kristus Yesus (Ef. 2:8-9). Pemerintah tidak punya urusan soal pilihan orang dalam memilih agama apapun. (Yoh 1:12-13;Yoh 3:5-8). Jadi, masalah kebebasan beragama adalah masalah hubungan pribadi seseorang dengan Allah.

 

Kebebasan beragama harus mencakup kebebasan untuk memproklamasikan Allah Alkitab sebagai satu-satunya Allah yang benar dan hidup (Yoh 14:6; Kis 4:12; 1 Tim 2:4,5; Ul 30; 1 Raj 18:21). Karena itu kebebasan yang dibangun diaatas prinsip-prinsip alkitab senantiasa menghormati persamaan derajat, kasih, keadilan dan kebebasan itu sendiri. Kebebasan beragama juga harus mencakup kebebasan untuk mendidik anak-anak Kristen sesuai dengan Alkitab, baik melalui sekolah negeri, sekolah Kristen maupun home-schooling. (Ef 6:4; Ul 6:1-7; Mat 28:19-20, 2 Tim 3:16, Kol 2:8).

 

Kebebasan sejati hanya bisa datang dari dalam. Dasar untuk menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka/bebas hanya bisa dilandaskan dalam watak, hati, pikiran, hidup dan keluarga yang telah ditransformasi oleh anugerah Allah. (Rom 12:2; Ams 16:32, Mat 15: 19; Maz 1, Yeh 36:26; Yoh 3:3).

Baca juga  Gerakkan Pengusaha Kristen Untuk Mentransformasi Bangsa Kita!

 

Tegas Hokli lagi, tidak boleh membenarkan kejahatan atas nama kebebasan. Tidak boleh ada kebebasan untuk penghujatan, kejahatan, sodomi, kekejaman pada binatang, pemerkosaan, penyiksaan pada anak-anak, perdagangan manusia, pornografi, prostitusi, euthanasia atau aborsi. Kita menegaskan kekudusan hidup dari sejak kehamilan sampai kematian secara alami.

 

Tidak ada negara yang mempunyai hak untuk mengintervensi kebebasan hati nurani, atau kebebasan beragama. Tak seorangpun yang memiliki hak untuk meredefinisikan peraturan gereja dan meminta gereja untuk menerima perkawinan sesama jenis yang dikutuk Alkitab sebagai kejahatan dan kejijikan.

 

Mereka yang mengutuk perdagangan manusia juga harus mengutuk pornografi yang merupakan propaganda untuk budaya perkosaan. Pornografi sebenarnya memasarkan dan menciptakan permintaan untuk prostitusi dan perdagangan manusia. Pornografi merupakan teori, perkosaan merupakan prakteknya. Tidak ada negara yang beradab yang bisa menolerir eksploitasi tubuh wanita untuk mencari keuntungan melalui pornografi dan prostitusi, atau mengambil kehidupan tak berdosa dalam kandungan melalui aborsi. Kehidupan dimulai saat kehamilan. Aborsi dan euthanasia adalah pembunuhan.

 

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Gal 5:13-14).

 

Dua panduan dasar Alkitabiah untuk kehidupan kita adalah pertama, jadikanlah Tuhan sebagai prioritas atau nomor satu dalam hidupmu (Mat 6:33, Maz 37:4, Ams 3:5-6) dan kedua kita harus mengenal Firman Tuhan (Hos 4:6, Hos 6:3, Yoh 14:15) Hokli(Daniel Bagas Naibaho)