Saat Timur-Tengah Melirik China

0
80

Oleh: Zuhairi Misrawi

Ada ungkapan yang sangat populer di Timur-Tengah dan dunia Islam pada umumnya, “Carilah ilmu walaupun di negeri China.” Ungkapan ini juga sangat populer di pesantren-pesantren. Di masa lalu, hubungan antara Timur-Tengah dan China sangatlah kuat, terutama di sektor perdagangan yang kemudian berperan dalam penyebaran dakwah Islam sejak masa-masa awal Islam. Bahkan ada yang berpandangan bahwa penyebaran Islam ke kawasan Asia yang lain tak luput dari eksistensi Islam di China yang umurnya sudah mencapai lebih seribu tahun.

Kini genderang akselerasi kerja sama Timur-Tengah dan China terus ditabuh bersamaan dengan kemajuan China dalam berbagai sektor kehidupan. Dalam delapan tahun terakhir, negara-negara Timur-Tengah semakin mengukuhkan kerja sama tersebut, bahkan terlihat semakin erat.

Dalam pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri dalam Forum Kerja Sama Dunia Arab dan China yang digelar di Beijing yang dihadiri oleh 18 Menteri Luar Negeri dari kawasan Timur-Tengah pada awal Juli disepakati kerja sama dalam tiga hal. Yakni, sektor energi, impor barang-barang murah produk China, dan sektor teknologi. Timur-Tengah mulai melirik China sebagai aktor penting dalam pengembangan energi nuklir, energi terbarukan, dan siber.

Menurut Xi Jinping, hubungan antara China dan Timur-Tengah bisa dilacak pada 60 tahun silam dalam Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung. China mendukung penuh perjuangan negara-negara Arab dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Setelah itu, negara-negara Arab juga menjadi pendukung penuh keanggotaan China di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Negara-negara Arab merupakan yang pertama kali mengulurkan bantuan ke China di saat terjadi musibah gempa bumi yang sangat dahsyat.

Secara umum hubungan antara negara-negara Arab dan China berjalan secara inklusif, dialogis, bahkan tanpa kecurigaan dan konflik. Kita hampir tidak pernah melihat konfrontasi antara negara-negara Arab dan China. Padahal mereka mempunyai perbedaan yang sangat mencolok dari segi ideologi, sistem sosial, agama, tradisi, dan kebudayaan.

Baca juga  Potensi Ancaman menuju PEMILU 2019

Maka dari itu, menurut Xi Jinping, tidak adanya masalah yang mengganjal antara China dan negara-negara Arab akan mempermulus ambisi Jalur Sutera yang sedang dibangun oleh China, terutama jalur maritim yang menjadikan Timur-Tengah sebagai salah satu kawasan yang sangat penting yang dapat menyambungkan antara satu kawasan ke kawasan yang lain.

Ketergantungan China pada negara-negara Timur-Tengah dalam sektor energi, khususnya minyak dan gas sangatlah besar. Bahkan, Arab Saudi ingin menjual saham minyak ke China dalam bentuk mata uang Yuan, yang menandakan era baru dalam hubungan antara China dan Timur-Tengah. Di samping itu, China juga tidak mau tunduk pada embargo Amerika Serikat terhadap Iran. Artinya, China juga siap membeli minyak dan gas dari Iran, yang jumlahnya juga sangat besar.

Satu hal yang membuat negara-negara Arab sangat nyaman dengan China, karena di mata mereka China tidak berambisi untuk menguasai dan mencaplok kawasan lain. Berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang identik dengan imperialisme. China fokus pada kerja sama bisnis yang saling menguntungkan dan saling menghormati (mutual interest and mutual respect). China juga melakukan investasi di sektor ekonomi yang turut mempercepat pembangunan di kawasan Timur-Tengah. Karena itu, kita tidak menemukan benturan yang tajam antara China dengan negara-negara Timur-Tengah.

Bahkan, negara-negara Timur-Tengah sedang merancang kerja sama dalam bidang kebudayaan. Dalam beberapa tahun ke depan, negara-negara Arab akan mengirimkan ribuan seniman dan budayawan untuk belajar ke China, yang menandakan adanya kerja sama yang riil dalam bidang tersebut.

Negara-negara Timur-Tengah juga mulai melirik China sebagai salah satu industri teknologi yang berkembang pesat. Bahkan, China merupakan produsen teknologi yang sekarang dan dalam beberapa tahun ke depan dapat mengalahkan kedigdayaan Amerika Serikat dan Eropa. Bagaimanapun China akan menjadi aktor penting dalam sektor industri teknologi di jagad raya.

Baca juga  GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA (GMKI JAKARTA): 72 TAHUN KEMERDEKAAN SEMU BANGSA INDONESIA

Hubungan mesra antara China dengan negara-negara Arab harus dilihat dari kuatnya akar komunisme di kawasan itu. Dari dulu hingga sekarang, kita akan mendapatkan partai-partai komunis dan partai-partai sosialis masih bertengger kuat di sebagian besar negara-negara Arab. Di Suriah, sejak akhir dekade 1960-an ada Partai Komunis Arab yang secara eksplisit mempunyai hubungan dekat dengan China. Begitu pula di negara-negara lain, seperti Mesir, Turki, Iran, Tunisia, Maroko, Aljazair paham komunisme dan gerakan politiknya masih terus hidup.

Bahkan, sayap komunis di Timur-Tengah dengan leluasa menyebarluaskan pandangannya melalui media dan buku-buku. Bahkan dialektika antara keislaman dan pikiran-pikiran kiri tumbuh. Hassan Hanafi pernah meluncurkan pemikiran “Islam Kiri” yang menandakan upaya sintesis antara keislaman dan paham kiri.

Maka dari itu, kita tidak menemukan sentimen anti-China di Timur-Tengah, yang secara faktual berbeda dengan apa yang kita lihat di negeri kita dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara Timur-Tengah relatif bisa menerima China karena faktor sejarah yang panjang dan hubungan yang terus membaik tanpa ada rintangan yang berarti.

Setidak-tidaknya, kita tidak menemukan pihak-pihak yang menggunakan sentimen anti-China sebagai instrumen politik di Timur-Tengah. China tidak dianggap sebagai ancaman bagi negara-negara Arab yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam.

Tentu saja hal tersebut dapat menjadi pembelajaran yang sangat berharga, bahwa sentimen anti-China yang berembus di negeri ini pada hakikatnya hanya isu politik semata yang diembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka menggunakan justifikasi Partai Komunis Indonesia di masa lalu untuk menghambat kerja sama antara pemerintah dengan China.

Jika melihat hubungan mesra antara negara-negara Timur-Tengah dengan China dalam delapan tahun terakhir dapat menjadi bukti nyata, bahwa sebenarnya tidak ada persoalan yang serius antara dunia Islam dan China, bahkan antara Islam dan komunisme. Negara-negara Arab justru semakin mesra dengan China, dan hampir tidak ada rintangan hambatan yang dapat menghambat kerja sama di antara mereka. []

Baca juga  *BUNUH DIRI MASAL PERGURUAN TINGGI - MENUJU PENDIDIKAN ASEMBLING* SUDARYONO Kompas 29 Agustus 2017 Akhir-akhir ini di media sosial sedang hangat didiskusikan dan diperdebatkan perihal universities disruption yang dipicu artikel Jim Clifton, ”Universities: Disruption is Coming”. Isinya secara garis besar mempertanyakan dan mengkhawatirkan peran masa depan pendidikan tinggi dalam menyuplai tenaga kerja industri di dunia. Pemicu ditulisnya artikel tersebut adalah iklan Google dan Ernst & Young yang akan menggaji siapa pun yang bisa bekerja dengannya tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari perguruan tinggi (PT). Iklan dari Google dan Ernst & Young tersebut seperti halilintar di siang bolong. Ia mengejutkan dan menyambar kemapanan yang telah dinikmati oleh PT di seluruh dunia dalam perannya sebagai penyuplai tenaga ahli, hasil riset, dan pemikiran-pemikiran yang dibutuhkan dunia industri. Namun, peran penting PT saat ini seakan telah dinihilkan oleh Google dan Ernst & Young, yang sebentar lagi barangkali diikuti oleh perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang lain. Lonceng kematian PT seakan telah didentangkan oleh kedua perusahaan raksasa tersebut, menyusul artikel yang ditulis oleh Terry Eagleton, berjudul ”The Slow Death of the University” (2015). Artikel Eagleton memberikan gambaran bahwa PT sedang melakukan bunuh diri massal melalui pengabaian pada tugas utamanya, yakni ”pendidikan”, karena telah bergeser lebih mengutamakan ”riset dan publikasi”. Lebih menyedihkan lagi, tradisi hubungan dosen dan mahasiswa yang seharusnya berbasis ”guru dan siswa” telah bergeser menjadi ”manager dan pelanggan”. Khusus di Indonesia, fenomena bunuh diri massal ini ditambahkan oleh keluhan bahwa para dosen saat ini lebih mementingkan meng-updateLKD (laporan kinerja dosen) karena berkaitan dengan tunjangan kinerja dosen daripada meng-update materi kuliah yang diampunya. Pertanyaan menarik untuk diajukan adalah apakah eksistensi pendidikan tinggi akan segera berakhir ataukah tetap akan ada tetapi arahnya akan berbelok tajam tidak mengikuti garis linier lagi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu: (1) melihat lagi ke belakang sejarah kaitan antara pengetahuan, sains, dan teknologi; (2) tahap-tahap perkembangannya; (3) esensi dan sifat dasar kaitan ketiganya dalam perspektif kekinian; dan (4) pengaruhnya pada arah pendidikan tinggi kita di masa depan. Sejak kelahirannya pada abad ke-17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi. Pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains, yang untuk selanjutnya sains akan berperan sebagai ibu kandung dari kelahiran teknologi. Pengetahuan tentang benda-benda di langit yang didasarkan pada pengamatan yang berulang, pada akhirnya telah melahirkan prinsip-prinsip serta dalil-dalil di bidang sains. Kemudian disusul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipotesis yang dibangun oleh abstraksi sains. Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber berpikir atau guru bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak di kemudian hari, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasi dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkannya melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit. Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, yang usianya sampai saat ini baru sekitar 200 tahun, tetapi pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa. Perkembangan selanjutnya Revolusi industri ternyata bukan saja hasil puncak dari perkembangan sains modern, melainkan juga awal terciptanya alam (buatan) baru. Tradisi cara berpikir manusia kemudian berubah dari linier jadi siklikal karena produk-produk teknologi yang dihasilkan manusia tidak saja hanya dilihat sebagai ”hilir” dari pengetahuan dan sains, tetapi juga sebagai ”hulu” pengetahuan untuk melahirkan sains dan produk-produk teknologi baru. Pergeseran cara berpikir ini dapat kita kenali dari berubahnya cara berpikir yang semula disebut sebagai discovery menjadi innovation. Cara berpikir ”inovasi” telah meremas pengetahuan, sains, dan teknologi ke dalam satu genggaman tangan untuk kemudian dibentuk jadi bentukan-bentukan baru yang lebih mudah dipahami, lebih canggih, lebih mudah untuk memudahkan manusia, dan tentu saja lebih memesona. Namun, yang sangat mengejutkan, ternyata dalam waktu hanya sekitar 15 tahun terakhir ini cara berpikir manusia modern sudah bergeser dari ”inovasi” menjadi ”hiper-inovasi” atau tepatnya ”hiper-siklikal”. Artinya, inovasi tidak lagi sekadar dijalankan di atas ”produk tunggal” untuk menambah nilai kebaruan dari produk tersebut, tetapi inovasi dilakukan di atas ”banyak produk” (multiproduk) untuk dilipat jadi satu produk. Alhasil, ia bukan saja melahirkan nilai kebaruan pada produk lama, melainkan sekaligus melahirkan produk-produk baru atau benda-benda baru yang sebelumnya belum pernah ada. Cara berpikir seperti ini kemudian melahirkan panggung-panggung perlagaan di dunia industri untuk saling bunuh dan saling mengalahkan. Akhirnya, kita banyak menyaksikan perusahaan-perusahaan raksasa dunia terjungkal tanpa membuat kesalahan manajemen maupun produksi hanya karena munculnya benda-benda industri baru yang mengambil teritori pasarnya lantaran para pelanggannya dengan sukarela meninggalkan produk-produknya karena dianggap kuno alias tidak gaul lagi. Dalam payung berpikir seperti itu (hiper-inovatif), baik produsen maupun konsumen hidup dalam perlagaan-perlagaan yang sangat ketat, sibuk, dan cepat karena ”kegaulan” produk-produk teknologi saat ini jadi berusia amat pendek. Cara berpikir asembling Untuk melahirkan benda-benda baru serta jasa-jasa baru tersebut di atas dalam payung berpikir ”hiper-inovasi”, sesungguhnya kita telah mereduksi cara berpikir kita dari discovery ke innovation lalu ke asembling. Cara berpikir yang terakhir ini adalah cara berpikir yang menggunakan ilmu gathuk (Jawa). Meng-gathuk-kan orang yang punya sepeda motor atau mobil dengan orang yang memerlukan jasa transportasi melalui IT. Meng-gathuk-kan orang yang perutnya lapar dengan pemilik produk makanan dengan pemilik sepeda motor yang mau disuruh dengan upah melalui IT. Dengan ”ilmu gathuk”, saat ini banyak orang bisa mendapatkan rezeki tanpa harus bekerja di kantor atau di pasar, dan juga banyak orang malas tetapi punya duit yang dimudahkan. Saat ini, cara-cara berpikir dengan ”ilmu gathuk” telah tumbuh dengan pesat dan subur serta telah melahirkan karya-karya jasa ataupun produk benda-benda yang sangat nyata dan dibutuhkan oleh masyarakat. Ilmu semacam ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari PT. Cara berpikir seperti inilah barangkali salah satu yang dibaca dan ditangkap Google dan Ernst & Young untuk berani merekrut siapa pun tanpa ijazah apa pun untuk bekerja dengannya. Sistem pendidikan asembling Atas dasar kondisi seperti itulah barangkali Jim Clifton merasa gelisah dan khawatir akan masa depan eksistensi PT dalam perannya sebagai penyedia tenaga kerja industri. Keahlian ilmu gathuk seperti itu ternyata ”tak pernah” dan ”tak perlu” diajarkan PT. Ilmu seperti itu dapat dipelajari siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Kekhawatiran Jim Clifton barangkali ”sangat berguna” untuk mendefinisikan ulang peran pendidikan tinggi dalam perubahan-perubahan alam dan kehidupan manusia di masa depan. Paling tidak, ada dua arus utama pendidikan tinggi yang dapat ditawarkan kepada masyarakat. Pertama, pendidikan tinggi yang diselenggarakan atas dasar semangat discovery. Artinya, pendidikan tinggi semacam ini mengorientasikan kegiatannya untuk dapat meraih ”penemuan-penemuan” besar yang berguna bagi perubahan-perubahan kehidupan manusia di masa depan. Riset-risetnya dilakukan atas dasar ”kerja kolektif” untuk diarahkan pada ”penyelesaian masalah-masalah besar” dan ”penemuan-penemuan besar” sehingga PT semacam ini jumlahnya memang harus dibatasi, termasuk jumlah mahasiswanya juga dibatasi pada mereka yang memang memiliki kemampuan dasar luar biasa (melalui seleksi yang ketat). Untuk perguruan tinggi semacam ini, idealnya diselenggarakan atas basis subsidi, dalam arti mahasiswa tidak dipungut biaya alias gratis karena mereka kelak akan jadi pemandu perubahan kehidupan manusia. Setelah lulus mereka tidak dibiarkan mencari pekerjaannya sendiri, tetapi sudah dikaitkan dengan tugas-tugas besar yang harus dilakukan. Kedua, pendidikan tinggi yang diselenggarakan atas semangat berpikir asembling, atau pendidikan yang diselenggarakan untuk melembagakan cara berpikir ”perakit”, sehingga tugas utamanya melahirkan sebanyak-banyaknya tenaga ahli perakit yang sangat dibutuhkan oleh industri. Pendidikan seperti ini mungkin mirip pendidikan vokasi, tetapi bedanya terletak pada ”cara berpikir” yang luas, melintas disiplin, dan kompetensi yang dihasilkannya mampu melahirkan produk-produk baru, baik berupa barang maupun jasa. Mungkin pendidikan semacam ini tepat disebut ”pendidikan vokasi plus”. Taiwan, Korea, dan China tampaknya telah memberi perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan semacam ini. Dengan menyelenggarakan dua arus utama pendidikan tinggi semacam itu (discovery dan asembling), kekhawatiran atas kemungkinan bangkrutnya pendidikan tinggi tidak beralasan lagi. Selain eksistensi pendidikan tinggi tetap dapat dipertahankan, maka pendidikan tinggi dikembalikan lagi perannya sebagai pemandu atau penuntun peradaban manusia, bukannya sebagai pembebek (pengekor) apa saja yang telah dilakukan oleh dunia industri. Sudaryono, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

DETIK, 19 Juli 2018

Zuhairi Misrawi | Intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here