Meluruskan Sejarah Nasional Indonesia untuk Memperkokoh Integrasi Nasional

0
79

Oleh: Merphin Panjaitan.

Pengantar.

Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kita tentang perlunya penulisan sejarah yang benar, jujur dan menjadi bagian dari upaya memperkokoh integrasi nasional. Kita sebagai bangsa Indonesia sedang dalam proses menjadi bangsa yang bersatu, maju, demokratis, adil dan makmur; dan sehubungan dengan itu harus selalu menjaga kekompakan di antara sesama komponen bangsa, agar selalu siap bersama-sama menjawab tantangan bangsa untuk mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik di tengah-tengah persaingan antar bangsa yang semakin ketat. Dalam kerangka itu, saya melihat ada banyak koreksi yang perlu kita lakukan terhadap buku Sejarah Nasional Indonesia.

Di bagian awal tulisan ini saya sajikan kesimpulan dari dua pertemuan tentang pekabaran Injil di Tanah Jawa yang diselenggarakan oleh Komisi Pekabaran Injil PGIW DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Sebagai bagian dari persiapan Pagelaran Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung, yang dilaksanakan pada 11 Juli 2018, pada Jumat, 1 Juni 2018, Komisi PI PGIW DKI Jakarta mengadakan bedah buku Eyang Ibrahim Tunggul Wulung, dengan pembicara Pdt. Sukodono, salah seorang penulis buku tersebut, bertempat di Pusat Oikumene Jakarta. Pembicara: Pdt. Sukodono; pembahas: Merphin Panjaitan, MSi; dan moderator: Nikson Lalu, SH, MH. Dan pada hari Senin, 2 Juli 2018 dilanjutkan dengan diskusi bertema Pekabaran Injil di Tanah Jawa, dengan pembicara Pdt. Abednego Utomo Prasetyo, STh, Dr. Martin Sirait dan Pdt. Hosea Sudarna, STh. Dari kedua kegiatan di atas di dapat kesimpulan sebagai berikut:

Muncul beberapa orang Penginjil Jawa.

Di Tanah Jawa muncul beberapa orang Penginjil Jawa, antara lain Ibrahim Tunggul Wulung, Kiai Sadrach dan Paulus Tosari, yang menjalankan pekabaran Injil dengan menggunakan budaya Jawa; dan walaupun pengetahuan mereka tentang Kristen masih sedikit, tetapi mereka berhasil menghimpun banyak pengikut, bahkan lebih banyak dari hasil kerja Penginjil dari Eropa. Ibrahim Tunggul Wulung berasal dari daerah Juwono dekat gunung Muria. Pada masa itu penduduk Jawa Tengah mengalami kesulitan ekonomi, dan Ibrahim Tunggul Wulung berkenalan dengan agama Kristen. Pada tahun 1853 Ibrahim Tunggul Wulung muncul di Mojowarno, dan setelah itu ia mengadakan perjalanan PI ke Pasuruan, Malang, Rembang, kawasan gunung Muria, dan kemudian juga Jawa Barat. Di beberapa tempat ia menjadi perintis jemaat-jemaat Kristen baru, tetapi pemerintah Hindia Belanda dan juga para zendeling sering menilainya negatif. Kekristenan Ibrahim Tunggul Wulung dianggap sinkretis dan berisi unsur-unsur Jawa; misalnya, mengobati orang sakit seperti cara dukun, dengan menggunakan Doa Bapa Kami seperti mantera. Pemerintah Hindia Belanda takut penyiaran agama Kristen oleh Ibrahim Tunggul Wulung akan menimbulkan gangguan keamanan; dan para pengikutnya mengharapkan pembebasan dari kerja rodi. Walaupun menghadapi berbagai hambatan, Ibrahim Tunggul Wulung terus berkeliling menjalankan PI, selama 20 tahun; dan pada waktu ia meninggal dunia, pengikutnya ditaksir lebih dari seribu orang.

Baca juga  PENDIDIK YANG BERSEMBUNYI

Membuka desa baru dan memelihara komunitas Kristen.

Ibrahim Tunggul Wulung berguru dan kemudian menjadi guru; membuka desa baru dan memelihara suatu  komunitas Kristen; dan hasilnya memenangkan banyak jiwa. Berguru kepada Coolen, dan kemudian berguru kepada Pdt. Jellesma, yang kemudian hari membastisnya dan memberi nama baptis Ibrahim, dan namanya berubah lagi menjadi Ibrahim Tunggul Wulung. Setelah 2 bulan berguru kepada Pdt. Jellesma, Ibrahim Tunggul Wulung mengembara sebagai Penginjil mandiri, antara lain ke wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, Jombang dan Malang. Pelajaran bagi kita sekarang ini, kalau ingin menjadi Penginjil tidak harus belajar lama, yang penting bersedia menjalankan pekabaran Injil di tengah masyarakatnya. Ibrahim Tunggul Wulung membuka desa Banyutowo, dan kemudian memimpin dan memelihara persekutuan orang percaya di desa ini, yang kemudian menjadi GITJ Banyutowo. Cara kerja seperti ini terbukti berhasil, dan oleh karena itu perlu dijalankan sekarang ini, tentu dngan mengadakan berbagai penyesuaian dengan kondisi setempat. Misalnya dengan mengembangkan Persekutuan PI di Jakarta, baik dengan keanggotaan berdasarkan kesamaan profesi maupun keanggotaan berdasarkan kesamaan wilayah asal. Direncanakan akan  membuka beberapa Warung Kabar Baik disuatu tempat tertentu, yang melayani masyarakat miskin di sekitarnya dalam persaudaraan Kristiani. Warung ini dikelola oleh para Penginjil, dan diharapkan secara perlahan berkembang menjadi suatu komunitas Kristen.

Kerjasama dan pengutusan.

Dalam menjalankan pekabaran Injil, Ibrahim Tunggul Wulung menjalin kerjasama dengan banyak Penginjil dan mengutus banyak murid. Dia bekerjasama dengan keluarga Philips di Purworejo, Pdt. Hoezoo di Semarang dan Mr. Anthing di Batavia. Ibrahim Tunggul Wulung mengutus murid-muridnya, antara lain: Suwardi dan Yosafat ke Batavia; dan Tengutus Sadrach untuk membantu pelayanan Ny. Steven Philips di Purworejo.  Ibrahim Tunggul Wulung juga pernah membantu misionaris Pieter Jansz di Jepara. Cara kerja seperti ini dapat kita coba lagi, misalnya dengan mengirim para Penginjil ke berbagai wilayah, yang juga menjalankan berbagai pelatihan keterampilan yang kemudian dapat digunakan oleh masyarakat setempat untuk meningkatkan perekonomian mereka.

Baca juga  Peperangan Rohani: Kita Harus Melakukan Serangan Balik!

Penginjilan di Tanah Jawa dihambat oleh warga gereja sundiri.

Pekabaran Injil di banyak wilayah di Indonesia pada abad ke-19 dan 20 selesai, sebaliknya pekabaran Injil di Tanah Jawa belum selesai; dan penyebabnya justru ulah orang Kristen sendiri, antara lain: Pertama, Pemerintah Hindia Belanda justru sering melarang pekabaran Injil di Tanah Jawa, karena dianggap akan menimbulkan perlawanan masyarakat; Kedua, Gereja Hindia Belanda (Indische Kerk) sering tidak mengijinkan pendetanya membabtis orang Jawa; Ketiga, banyak misionaris dari Eropa merendahkan Penginjil lokal, seperti Ibrahim Tunggul Wulung dan Kiai Sadrach, dengan berbagai sebutan, antara lain sinkretis, seperti dukun dan berpengetahuan dangkal. Kebijakan dan sikap seperti ini menjadi penghambat gerakan pekabaran Injil di Tanah Jawa pada abad ke-19 dan 20; dan pada abad ke-21 ini, yaitu abad sending di Asia, pekerjaan yang belum selesai ini perlu dilanjutkan.

Sekolah Kristen dan pekabaran Injil dalam Sejarah Nasional Indonesia.

Tulisan ini saya lanjutkan ke Sejarah Nasional Indonesia, Edisi Pemutakhiran, cetakan tahun 2010, untuk mencari dimana posisi “penyebaran agama Kristen dan atau sekolah-sekolah Kristen yang cukup banyak itu, yang tentu banyak pengaruhnya dalam peningkatan kecerdasan bangsa Indonesia.

Saya mulai dengan Buku V, Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. (1900 – 1942).

Bab. IV, Komunikasi Sosial dan Edukasi.

A. Mendidik Bangsa Sendiri. (halaman 263 – 306).

Isi: 1.Pendidikan Perempuan.

2.Taman Siswa.

3.Sekolah-Sekolah Sarekat Islam.

4.Ksatrian Instituut.

5.Ruang Pendidikan INS Kayutanam.

6.Pendidikan Rakyat.

7.Pesantren.

Saya bertanya, dimana ditempatkan sekolah-sekolah Kristen yang banyak itu, yang tentunya sangat besar perannya dalam usaha peningkatan kecerdasan bangsa Indonesia, di dalam Sejarah Nasioanal Indonesia? Ternyata tidak ada. Peran sekolah Kristen dalam pendidikan masyarakat di Indonesia tidak dicatat dalam Sejarah Nasional Indonesia.

Baca juga  SURAT CINTA DEMOKRASI UNTUK MASYARAKAT MAJALENGKA

Selanjutnya kita beralih ke Buku IV, Kemunculan Penjajahan di Indonesia. ( 1700 – 1900).

Bab. V. Perlawanan Terhadap Kolonialisme.

J. Sumatra Utara. (Halaman 306 – 322).

Tentang penyebaran agama Kristen dimuat dihalaman 309, antara lain menyatakan:

…………..   Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1840 mengirimkan F. Junghun, dan pada tahun 1843 von Kessel, untuk menyelidiki keadaan daerah pedalaman Batak. Hasil-hasil penyelidikannya  ternyata ternyata mendorong usaha untuk penyebaran agama Kristen selanjutnya.  ……………………..

……… , daerah Batak dianggap sebagai tempat yang baik untuk penyebaran agama Kristen, disamping sebagai tempat yang akan ditundukkan Belanda. Dengan demikian terjalinlah kerjasama yang erat antara kedua usaha ni.

Bagian ini memperlihatkan seolah-olah penyebaran agama Kristen di tanah Batak adalah kerja penguasa Hindia Belanda, sebagai bagian dari strategi kolonialisme Belanda di Indonesia, khususnya di tanah Batak. Penulis dan editor buku Sejarah Nasional Indonesia ini, tampaknya lupa dengan apa yang sebenarnya terjadi, atau dengan sengaja melupakannya. Mereka tidak mencatat tentang kehadiran RMG dan Nommensen di tanah Batak, yang telah berhasil menjalankan pekabaran Injil di tanah Batak, membuka dan menjalankan banyak sekolah dan rumah sakit, dan tidak ada hubungan apapun dengan penguasa Hindia Belanda. Dan dibagian akhir dari tulisan ini saya teringat akan suatu diktum dalam Ilmu Sejarah, yang berbunyi: “Siapa mengendalikan masa lampau, dia menguasai masa depan”.

Jakarta, 25 Juli 2018.

Merphin Panjaitan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here