Saksi Mata akan Kebesaran Tuhan

0
38

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

2 Petrus 1:16-21
(16) Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. (17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (18) Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. (19) Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. (20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Surat 1 Petrus mengandung penjelasan mengenai iman Kristen yang benar. Sang penulis, rasul Petrus, perlu menyajikannya mengingat pada zaman itu banyak bermunculan ajaran-ajaran sesat. Malah, ada upaya untuk membangun opini masyarakat bahwa apa yang diberitakan para rasul hanyalah dongeng isapan jempol semata. Khususnya mengenai ajaran tentang Yesus Kristus yang berkuasa dan penantian akan kedatangan-Nya kembali, tak perlu didengarkan. Semua itu adalah tahkyul belaka.

Petrus melawan ajaran sesat tersebut dengan menekankan bahwa dirinya adalah saksi mata dari kebenaran tersebut (ay. 17). Itu bukanlah kabar angin melainkan berita yang dibawa dan disampaikan oleh orang-orang yang telah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Dirinya adalah salah satu dari antara mereka itu. Petrus juga menekankan bahwa apa yang disampaikannya tidak berasal dari manusia. Sebagai rasul, ia menyampaikan nubuat yang berasal dari Allah. Allah telah berkenan menggunakan dirinya sebagai alat untuk menyampaikan rencana dan kehendak-Nya (ay. 21).

Baca juga  Iman Perlu Ditambah Tujuh Elemen Dasar

Jadi, tidak mungkin Petrus menyampaikan dongeng. Dongeng tidak bersentuhan dengan kebutuhan kita. Tentu juga, kabar angin sudah pasti tidak akan relevan dengan keberadaan manusia. Semua itu tidak nyata. Tetapi bila kita bicara mengenai keselamatan, itu berhubungan langsung dengan kebutuhan manusia. Setiap orang merindukannya. Lagi pula, keselamatan yang datang dari Allah adalah nyata. Yesus Kristus adalah wujud konkretnya. Ia telah rela menderita dan mati untuk merealisasikan rencana penyelamatan Allah. Proses realisasi ini masih berlangsung hingga kedatangan Yesus kembali. Dengan demikian nubuat dan berita keselamatan Allah ada untuk menjawab kebutuhan manusia yang merindukan keselamatan.

Gereja, yang diutus ke tengah dunia sebagai saksi Tuhan, harus terus menyampaikan berita keselamatan kepada umat manusia. Ini adalah tugas bersama. Namun demikian, Tuhan memanggil, memilih dan mengutus orang-orang tertentu untuk mengemban tugas-tugas khusus dalam pekerjaan-Nya yang kudus. Dalam Efesus 4:11 dikatakan, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” Dalam konteks pelayanan gereja sekarang, pengemban pekerjaan khusus telah meningkat sampai kepada Majelis Gereja dan beberapa jabatan lain, yang ditetapkan berdasarkan pemanggilan Kristus. Mereka bekerja sebagai saksi dari kebenaran dan kebesaran Yesus Kristus sebagai Penyelamat dunia.

Setiap saksi Tuhan harus benar-benar mengenal dan telah mengalami “perjumpaan” dengan Kristus. Kalau tidak, kesaksian mereka akan menjadi kabur dan mudah digoyahkan oleh pengaruh-pengaruh dunia yang muncul di setiap zaman. Mereka harus belajar menghambakan diri bagi Yesus dan menaati kehendak-Nya. Dengan kata lain, harus sungguh-sungguh “bergaul” dengan Kristus sehingga kesaksian mereka menjadi kudus dan benar. Mereka layak dipercaya, bukan karena reputasi tertentu, melainkan karena bersedia dituntun oleh Roh Kudus. Bandingkan dengan murid-murid Yesus. Mereka hanyalah orang biasa, tapi telah menjadi “besar” karena mau belajar taat kepada Yesus dan setia melakukan kehendak-Nya.

Baca juga  Pdt. Weinata Sairin: "He is a wise man who does not grieve for the things which he has not, but rejoices for those which he has". (Epictetus)

Banyak orang mengaku sebagai pengikut dan saksi Kristus, tetapi sesungguhnya mereka sedang memperjuangkan maksud pribadinya. Ada orang yang fasih berbicara tentang firman Tuhan, tetapi sesungguhnya ia sedang “menjual” firman untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Pelayanan yang dibangun atas prinsip seperti ini tidak akan memajukan kehidupan beriman. Karena itu, jangan mudah percaya dan diperdaya oleh kebesaran lahiriah. Ingatlah: seorang saksi Kristus yang sejati bekerja dalam semangat rela menderita dan siap berkorban bagi orang lain, tanpa memperhitungkan diri dan nyawanya sekalipun. Itulah teladan yang diberikan Yesus kepada kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here