Keadilan dan Kebenaran

0
19

Oleh: Pdt. Dr. M. Frans Ladestam Sinaga

Amos 5:24 “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”

Seorang nabi adalah mulut Allah. Apa yang diucapkannya merupakan sabda Allah. Pengutusan nabi dapat kita pahami dari tema nubuatnya. Amos, disebut nabi keadilan sosial, sebab ia menegur kejahatan sosial umat. Ia menegur ketidakadilan dan keagamaan yang buruk.

Amos bernubuat tahun 805-740 Seb.M di Israel Utara yang sedang menikmati masa damai. Bangsa Assiria dan Siria, musuh mereka tidak cukup kuat menekan. Hampir tidak ada ketegangan politik dan keamanan. Keadaan ekonomi umat amat baik dan makmur. Sebagian hidup berkelimpahan dan cenderung hidup pesta pora dengan makanan dan minuman yang memabukkan. Mereka menikmati hidup ini dengan sesat.

Akan tetapi di balik keamanan dan kemakmuran itu, umat jatuh pada kemerosotan moral, tanpa keadilan dan kebenaran. Hukum tidak berguna karena dapat diperjualbelikan dan dipermain-mainkan. Para imam, hakim, penguasa dan pengusaha tidak melakukan tugasnya dengan benar. Kemewahan menggiring mereka menjadi sangat jahat dan menipu.

Saudaraku. Dengan situasi seperti itu, ibadah dan keagamaan sudah sangat rusak. Mereka melanggar Hukum Tuhan. Persaudaraan tanpa kasih dan kebenaran. Amos menghardik praktek ini. Sebenarnya ia tinggal di Yehuda tetapi ia datang ke Bethel menegur para pemimpin itu. Amos mengingatkan bahwa keadilan akan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir. Itu tidak dapat dihempang atau dimanipulasi. Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban.

Gereja, Pemerintah dan Masyarakat membutuhkan tokoh sekaliber Amos, yang berinegritas, berani dan jujur. Kita merindukan Penegak keadilan yang tidak dapat dibungkam dengan sogok. Kita mendambakan pemimpin atau pendeta yang mempunyai hati nurani dan dapat menilai kejahatan itu sebagai kesalahan. Kita harus menegakkan keadilan dan kebenaran.

Pemimpin yang baik tidak silau dengan harta, tidak nyaman dengan keadaan yang semu, di mana ada tipu daya, penindasan dan perampasan hak-hak. Amos meninggalkan desanya dan pergi ke kota bukan untuk menikmati pesta pora; tetapi menyadarkan bahwa keadilan dan kebenaran harus diperjuangkan dan diwujudkan. Tuhan mengutus kita menjadi pembela orang tertindas dan tertipu. Inilah tugas kita. Selamat merayakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang berkeadilan dan berkebenaran. Amin.

Pdt. Dr. M. Frans Ladestam Sinaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here