Jangan Mampermainkan Tuhan

0
11

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Hosea 1:1-12

(1) Firman TUHAN yang datang kepada Hosea bin Beeri pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel. (2) Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.” (3) Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki. (4) Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: “Berilah nama Yizreel kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel. (5) Maka pada waktu itu Aku akan mematahkan busur panah Israel di lembah Yizreel.” (6) Lalu perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan seorang anak perempuan. Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: “Berilah nama Lo-Ruhama kepada anak itu, sebab Aku tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka. (7) Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda dan orang-orang berkuda.” (8) Sesudah menyapih Lo-Ruhama, mengandunglah perempuan itu lagi dan melahirkan seorang anak laki-laki. (9) Lalu berfirmanlah Ia: “Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu.” (10) Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” (11) Orang Yehuda dan orang Israel akan berkumpul bersama-sama dan akan mengangkat bagi mereka satu pemimpin, lalu mereka akan menduduki negeri ini, sebab besar hari Yizreel itu. (12) Katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki: “Ami!” dan kepada saudara-saudaramu perempuan: “Ruhama!”

 

Dalam Kitab Hosea kita memperoleh gambaran tentang Allah sebagai pribadi yang bisa marah dan bisa sakit hati. Ia memang Allah yang Mahasabar, tetapi kesabaran Allah itu ada batasnya. Jangan kita main-main dengan kesabaran Allah. Kalau suatu waktu kesabaran Allah itu habis, yang ada hanyalah malapetaka!

Dalam ayat 2 bacaan kita kali ini Tuhan berfirman kepada Hosea, “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi Tuhan.” Tampaklah dari ayat ini suasana hati Tuhan yang sedang marah. Kenapa? Karena umat-Nya telah membelakangi-Nya. Mereka telah menduakan Tuhan dalam hidupnya.

Apa yang terjadi kalau Tuhan sakit hati? Yang terjadi adalah keadaan yang mengerikan. Keadaan itu tergambar dalam 2 nama.

Pertama, Tuhan akan menyebut kita Lo Ruhama. Artinya: tidak adalah lagi rahmat. Tidak ada lagi pengampunan.

Kedua, kita akan disebut Lo Ami. Artinya: kita bukan lagi umat-Nya. Tuhan membuang kita sehingga kita bukan lagi anak-anak-Nya. Ia menolak kita karena kita telah membelakangi (menolak) Dia.

Karena itu biarlah kita ingat akan satu hal ini: Jangan mempermainkan Tuhan! Kalau kita mau Tuhan serius dengan kita, maka kita juga harus serius dengan Dia. Kita harus setia!

Tetapi syukur, meskipun Tuhan sakit hati Ia tetap setia. Ia tetap berpengasihan. Beda dengan manusia, kalau ia sakit hati yang ada kemudian hanya dendam yang membara, kebencian dan perlawanan. Tuhan tidak demikian. Tidak selamanya Ia sakit hati. Ia memang bisa marah, tetapi tidak selamanya begitu.

Pada akhirnya Tuhan kembali berfirman: “Katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki: Ami! dan kepada saudara-saudaramu perempuan: Ruhama!” Yang dulunya disebut Lo Ami (= bukan umat-Ku), sekarang menjadi Ami (= umat-Ku). Yang dulunya Lo Ruhama (= tidak ada rahmat), sekarang menjadi Ruhama (= ada rahmat).

Tapi jangan karena Tuhan dapat berbaik hati lalu kita berkata: “Ah biarkan saja Tuhan marah, nanti toh pasti baik lagi!” Jangan! Ini namanya mengeraskan hati. Dan dosa mengeraskan hati sangat dibenci Allah.

Dalam bacaan ini kita melihat Allah yang bisa marah, namun tetap memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat. Dan jika kita mengakui kelemahan kita dan datang lagi kepada-Nya, Ia akan menyambut kita. Kebaikan Allah ini mengingatkan kita pada kisah anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32. anak itu pergi ke tempat yang jauh, di mana ia bisa berbuat apa yang dia suka. Ia hidup dalam dosa. Di saat ia tidak berdaya lagi, ia rindu pulang. Bapanya memberi kesempatan. Ia disambut dan diterima kembali. Keadaannya yang Lo Ruhama menjadi Ruhama, yang Lo Ami menjadi Ami. Orang yang mau bertobat dikasihi-Nya kembali!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here