Roh Kudus Menuntun Kita Untuk Bersaksi

0
15

Oleh  : Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Yohanes 15:18-27

(18) “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (19) Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. (20) Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. (21) Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. (22) Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! (23) Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. (24) Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. (25) Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. (26) Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. (27) Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

 

Perikop kita dimulai dengan pemberitahuan Yesus kepada murid-murid-Nya, bahwa dunia akan membenci dan menganiaya mereka. Pada waktu itu Yesus sedang bersiap-siap untuk ditangkap dan dianiaya oleh orang-orang yang membenci-Nya. Yesus sadar bahwa apa yang dialaminya kemungkinan besar akan menimpa murid-murid-Nya juga. Itulah sebabnya Ia berkata, “Seorang hamba tidaklah lebih besar dari pada tuannya.” Artinya, jika murid-murid itu tetap setia kepada-Nya, maka penderitaan yang dialami-Nya akan berimbas kepada mereka.

Sebab itu Yesus menjelaskan tentang Penghibur yang akan diutus-Nya. Dengan ini Yesus mau menekankan bahwa Dia tidak akan meninggalkan murid-murid-Nya tinggal sebagai piatu. Yesus akan mencurahkan Roh Kudus untuk menemani mereka.

Berdasarkan perikop ini kita akan memikirkan tiga hal sebagai kebenaran dari Roh Kudus. Ketiga hal ini sangat asasi dalam kehidupan orang Kristen, terutama dalam memahami Roh Kudus.

Pertama, Yesuslah yang mengutus Roh Kudus. Dengan demikian Roh Kudus melanjutkan dan mewakili pekerjaan Kristus di bumi ini. Juga Roh Kudus inilah yang menjamin kehadiran Yesus di tengah-tengah pengikut-Nya.

Roh Kudus yang diutus Yesus itu bekerja dengan beragam cara. Dalam semua cara itu, tidak satupun akan bertentangan dari sifat Yesus dan Allah Bapa. Terkadang kita mendengar bahwa seseorang mendapat ilham dari Roh Kudus. Tetapi dalam melaksanakan ilham itu, ia memperlihatkan cara-cara yang bertentangan dengan kehendak Yesus. Sudah pasti ilham itu tidak datang dari Roh Kudus! Mengapa? Karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan kehendak Yesus. Tidak semua mimpi, penglihatan dan ilham datang Roh Kudus, terutama jika dalam implementasinya tidak sesuai dengan sifat Yesus Kristus.

Kedua, Roh Kudus yang diutus Yesus itu akan menjadi Penghibur dan akan bersaksi tentang Yesus. Sebagai Penghibur, banyak orang Kristen mendambakan kehadiran Roh Kudus dalam hidupnya. Ia butuh Roh Kudus agar ia tabah dan kuat dalam menghadapi pergumulannya. Tetapi jangan dilupakan bahwa Roh Kudus itu juga hadir untuk bersaksi tentang Yesus. Ia bersaksi tentang Yesus yang Mahapengampun, Mahapenolong dan Mahapengasih. Acap kali orang mengabaikan segi yang kedua ini. Roh Kudus menghibur mereka, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan sifat Yesus. Mereka masih saja suka membenci, tidak peduli terhadap sesama dan bertindak sewenang-wenang. Roh kudus hadir sebagai Penghibur sekaligus mengunkapkan sifat-sifat Yesus dalam hidup kita.

Ketiga, Roh Kudus juga menuntun kita supaya bersaksi tentang Yesus bagi dunia ini. Hal ini tampak dengan jelas pada hari Pentakosta (pencurahan Roh Kudus) ke atas murid-murid (baca Kisah Para Rasul 2: 14-40). Setelah murid-murid dihinggapi Roh Kudus, mereka pun bersaksi tentang Yesus kepada orang banyak sehingga banyak orang yang bertobat.

Dalam tuntunan Roh Kudus kita akan bersaksi bagi dunia ini. Cara kita bersaksi yang paling utama adalah melalui diri kita. Dari perkataan dan perbuatan kita, orang lain akan membaca dan melihat siapa Tuhan yang kita imani. Mungkin kita akan banyak mengalami penderitaan, tapi kita akan tetap bersaksi. Penderitaan adalah ujian terbesar bagi kita untuk membuktikan siapa Tuhan yang kita imani. Jika kita ‘kalah’ oleh penderitaan maka kita kehilangan segi-segi yang datang dari Roh Kudus. Kita kehilangan penghiburannya dan sekaligus kita kehilangan kesaksian kita tantang Yesus.

Yang jelas, Roh Kudus tidak akan membiarkan kita terkapar sampai tidak berdaya oleh penderitaan. Penderitaan yang kita alami tidaklah melewati batas kemampuan kita. Namun jika kita berjuang tanpa Roh Kudus, kita akan berada di ambang ketidakberdayaan. Kita akan mudah melarikan diri. Jika kita hidup dalam keyakinan penuh, maka kita akan dapat melewati setiap rintangan dan penderitaan. Di sanalah orang akan melihat betapa Tuhan yang kita percayai ada dan memberi pertolongan. Ini adalah kesaksian yang indah bagi dunia ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here