I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand (Konfucius)

0
8

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

 

Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh karena kita manusia diciptakan dengan sangat istimewa. Kita manusia, tidak hanya memiliki tubuh/fisik, dengan segala kelemahan dan kekuatannya, tetapi juga dimensi-dimensi penting lainnya yaitu penglihatan, pendengaran dan kemampuan untuk melakukan sesuatu tindakan. Apa yang didengar, apa yang dilihat, apa yang diperbuat itu mestinya adalah sebuah _kesatuan_ sehingga terjadi penampilan yang sempurna dari sosok manusia.

 

Dari pengalaman empirik kita mengetahui bahwa acapkali kurang atau tidak terjadi keselarasan antara pendengaran, penglihatan dan perbuatan. Bahkan bisa terjadi dalam kasus-kasus tertentu ada inkonsistensi antara apa yang ada dalam pemikiran kita dengan apa yang kemudian kita ungkapkan. Contohnya misalnya Voltaire. Dalam pemikirannya dan semua orang tahu, ia adalah seorang yang atheis, yang tidak percaya kepada Tuhan. Pikiran atheistik yang ia miliki selalu muncul dalam berbagai pandangan yang ia ungkapkan. Pada suatu ketika ia bersama sahabatnya menikmati indahnya mentari  yang terbit membelah pagi sunyi. Voltaire tiba-tiba mengejutkan sahabatnya karena ia merespons keindahan mentari pagi itu dengan berseru : “Oh Tuhan, aku memujiMu!”

 

Inkonsistensi dalam konteks Voltaire ada “makna positif” dari perspektif umat beragama oleh karena seseorang pada suatu saat tak bisa lagi terpasung pada sikapnya yang atheistik, yang abai atau menolak eksistensi Tuhan, tatkala ia berhadapan dengan situasi yang sangat istimewa dan spesifik yang tak mampu dijelaskan dengan argumentasi ilmiah rasional.

 

Kasus-kasus korupsi yang marak di negeri ini dalam beberapa tahun terakhir dalam batas tertentu bisa kita lihat dalam konteks inkonsistensi, ketidaktaatasasan yang ada dalam kedirian manusia. Seseorang merumuskan ketentuan peraturan perundangan dibidang tindak pidana korupsi, ia juga mensosialisasikan peraturan itu kepada masyarakat. Namun ia sendiri yg melawan per

aturan yg ia buat.

 

Sikap inkonsisten, tidak taat asas adalah sikap yang tidak elok untuk dikembangkan dalam kedirian kita. Sikap itu dilakukan hanya untuk kepentingan pribadi, untuk melarikan diri dari kenyataan (pahit). Sikap inkonsisten dalam beragama sangat berbahaya jika diterapkan. Orang yang inkonsisten dalam beragama bisa saja meninggalkan agamanya dalam melakukan sesuatu atau menyelubungi keberagamaannya demi mengejar jabatan.

 

Pepatah dari Konfucius ini cukup penting untuk disimak. Menurutnya ada sisi lemah dari mendengar dan melihat ; pada saat “berbuat” itulah seseorang memperoleh pengertian. Sebab itu mari kita elaborasi pendengaran dan penglihatan kita dengan berbuat, action!

 

Selamat Berjuang! God Bless.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here