“PAX MELIOR EST QUAM IUSTISSIMUM BELLUM. PERDAMAIAN ITU(TETAP) LEBIH BAIK DARIPADA PERANG YANG PALING ADIL”

0
36

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Kekerasan telah menjadi bagian sah dan integral dari perjalanan hidup manusia sejak berabad-abad lamanya. Bahkan kekerasan itu dalam bentuknya yang paling genuine hadir berbarengan dengan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Dalam Alkitab, kitab suci umat kistiani, diceritakan terjadinya tragedi pembunuhan Kain terhadap Habil adik kandungnya sendiri hanya karena soal sepele, ada rasa iri hati Kain terhadap Habil. Sejak peristiwa Kain dan Habil itu cerita-cerita kekerasan hadir dalam berbagai varian, dan diceritakan dalam Alkitab bagaimana peran tokoh masyarakat, tokoh agama untuk melawan sikap dan tindakan kekerasan itu.

Tindakan kekerasan yang dilakukan manusia ternyata tidak mengenal akhir. Bentuk bentuk kekerasan semakin modern seiring dengan makin modernnya zaman. Jika dizaman baheula masih menggunakan panah, pisau, parang, kayu, besi, batu tapi di masa kini digunakan bahan peledak termasuk bom.

Peristiwa paling anyar adalah peledakan bom 12 Nov pkl 10.30 di Gereja Oikoumene Samarinda ketika umat sedang melaksanakan Kebaktian Minggu. Kekerasan dengan peledakan bom yang secara sengaja diarahkan kepada umat beragama yang sedang melaksanakan ibadah kepada Tuhan adalah sebuah tindakan biadab yang dahulu biasa dilakukan oleh kaum barbar dan arkhais yang mencederai NKRI sebagai bangsa beragama dan berPancasila.

Kekerasan terjadi dimana-mana; perkembangan IT, medsos, dunia maya ikut memicu maraknya kekerasan dalam kehidupan nyata. Bagaimana upaya kita bersama mengatasi kekerasan? Menurut Erich Fromm, kekerasan itu pada awalnya integral dengan hidup manusia. Pada saat manusia itu dilahirkan Sang Ibu yang melahirkan itu mengalami kekerasan. Sang Ibu merasakan kesakitan luar biasa, penderitaan yang amat sangat dan yang belum pernah ia alami.

Namun Erich Fromm juga menyatakan bahwa dalam proses waktu, melalui berbagai aktivitas pembelajaran, elemen- element kekerasan itu juga bisa tereduksi dengan menampilkan cinta kasih. Itulah sebabnya sesudah ia menulis buku Akar-akar Kekerasan maka Fromm juga menulis buku Seni Mencintai.

Baca juga  SALIB YESUS: PEMULIHAN BAGI JIWA YANG LESU

Agama-agama memberi imperatif yang jelas bagaimana manusia mesti mengedepankan perdamaian, cinta, kasih sayang dalam kehidupan mereka. Suasana kehidupan kita di negeri ini yang diwarnai oleh nafas kekerasan, jauh dari damai harus diakhiri. Ucapan pejabat, tokoh, aktivis, posting di medsos seharusnya menampilkan kesejukan, trust, apresiasi terhadap kemajemukan, penguatan tali silaturahim sehingga kondisi damai bisa terwujud dalam kehidupan kita. Berbagai kasus yang ada biar kita serahkan untuk diproses secara hukum sehingga kita sebagai warga masyarakat dapat fokus kepada tugas pokok kita masing-masing.

Pepatah kita mengingatkan bahwa perdamaian itu bagaimanapun adalah hal yang sangat penting. Mari kita wujudkan perdamaian.!
Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here