Enaknya Terima Gaji Buta!

0
54

 

Oleh: HMT.Oppusunggu

 

Kegaduhan kegiatan politik sekarang ini yang diciptakan pengaduan Sudirman Said, Menteri ESDM, terhadap Setya Novanto, Ketua DPR, sungguh membingungkan dan total menggelisahkan  generasi dewasa ini sedemikian rupa, hingga kita merasa terpisah-sendirian dan tinggal kesal-sedih mengapa kekacauan ini bisa terjadi : Di satu pihak Menko dan Menteri saling gaduh menuduh diri masing-masing bagaikan pemimpin yang kelewat keblinger; di pihak lain, Junimart, Wk. Ketua MKD dari DPR menerima begitu saja pengaduan Menteri ESDM dan melakukan insubordinasi, karena Junimart Girsang  bertujuan hendak mengadili atasannya, Ketua DPR, Setya Novanto. Karena pengaduan tersebut pada dasarnya merupakan delict pidana yang menyangkut pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, maka sedianya kasus tersebut harus ditangani oleh instansi Judisial (Polri atau Jaksa Agung) dan bukan dijadikan Junimart menjadi urusan MKD badan pelengkap DPR  untuk menanganinya dan tanpa terlebih dahulu melaporkan pula kasus tersebut kepada atasannya, Ketua DPR, Setya Novanto.  Artinya: Junimart melakukan blunder fatal 2x: yang satu melanggar Trias Politica dan di lain pihak melakukan insubordinasi terhadap atasannya. Sikapnya tidak lain dan tak bukan hanya kegila-gilaannya untuk memperoleh nama hebat dan tersohor bagi dirinya di Negara ini… Bukan nama, tapi harga diri yang jauh lebih penting!!!

 

Presiden Jokowi –yang melulu ahli-blusukan semata- menyetujui blunder Junimart tadi dan meminta supaya rakyat menyerahkan penyelesaian pengaduan tersebut tadi oleh MKD, sedang Jusuf Kalla –ahli-bungkusan- Megawati- menyatakan Pres. dan Wk Presiden merasa sangat marah melihat Setya Novanto kok sampai hati mencatut nama mereka berdua untuk memperoleh 20% saham Freeport. Padahal, Setya Novanto dengan tegas menyangkal pernah mengajukan pencatutan nama kedua Presiden tsb dan secara gentleman juga menyatakan dirinya memaafkan ketololan pengaduan Menteri Sudirman tadi.

Baca juga  Lawan: Gerakan, Agenda & Propaganda Pro Homo/Lesbi/LGBT

 

Quo Vadis Pimpinan Negara Indonesia dewasa ini.!!! Sudah begitu bobrokkah para pimpinan Negara ini??? Naga-naganya kita sudah kehilangan gairah perjuangan dan pengorbanan menegakkan kebenaran dan martabat bangsa dan melupakan sejarah perjuagan pahlawan-pahlawan kita dulu-dulu yang penuh pengorbanan mereka di masa lampau. Pimpinan kita sekarang sudah kehilangan moralitas sebagai fondasi nilai hidup manusia.

 

Saya sudah menulis tentang kekacauan ekonomi kita yang ditimbulkan oleh bobroknya pimpinan para Menteri -Kerja-Tanpa-Kerjanya Kabinet Raksasa Jokowi, lebih-lebih dari para Menko-Menko yang semuanya –termasuk Jendral Luhut Binsar Panjaitan- sama sekali tidak melaksanaan koordinasi apa-apa antara kegiatan Kementerian-Kementerian yang dibawahi para Menko tadi: Menko-Menko hanya menari-nari dan bersengo-sengko menerima gaji buta belaka. Ya, mereka sampai hati dan merasa sangat bahagia menerima gaji buta!!! Menko Panjaitanlah sepatutnya yang pertama-tama menggusur dirinya segera keluar dari Kabinet.

 

Apa para Menteri masih ingat nyanyian tahun 50-an:

Apa guna malu-malu-kucing bung,                                                                                                          Kalau di belakang suaranya nyaring, bung,

Diam-diam kucing beraksi  menarik perhatian,

Cakar-cakaran  membuat kawan jadi lawan.

 

Sedemikian seperti kucing itulah,  para Menteri Jokowi cakar-cakaran dan berlawanan satu sama lain. Kelihatannya malu-malu-kucing …, tapi segera ibu rumah tangga absen sebentar saja, si kucing segera itu pula meloncat ke atas meja dan lari menyantap paha ayam atau ikan dari piring di atas meja… Mumpung ada kesempatan, karena sibuknya Jokowi blusukan terus di dalam maupun di luar negeri, tidak satupun Menteri yang tidak jingkrak sana jingkrak sini – asalkan dirinya jangan di-reshuffle dari Kabinet raksasa Jokowi… enak, kan, terima gaji buta … biarkan aja para buruh dipecat dan demo … apa gue pikirin …!

Baca juga  PENGEMBANGAN WISATA DANAU TOBA SEBAGAI LOKOMOTIF PENGEMBANGAN WILAYAH DAN SEKTOR LAINNYA DI SUMATRA UTARA.

 

Ada memang suara-suara keras memprotes kebobrokan Kabinet Jokowi seperti dari Bambang Susatyo, Kwik Kian Gie, Johnson Panjaitan, Sahetapy, Cipta Lesmana dll, namun protes-protes tsb dianggap Kabinet Jokowi bagaikan gonggongan-anjing belaka: Blaffende honden bijten niet = Barking dogs never bite. Biarkan anjing menggonggong, khafilah berlalu …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here