Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman: Gereja dan Keluarga Kristen Harus Membuat Indonesia Lebih Kuat!

0
33

Mulyadi

Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman

(Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI)):

Gereja dan Keluarga Kristen Harus Membuat Indonesia Lebih Kuat

“Kita sedang hidup di masa perubahan nilai-nilai yang begitu cepat. Nilai-nilai takut akan Tuhan, kerendahan hati, kasih dan kekeluargaan semakin meluntur. Sikap materialistik dan egoisme telah mengubah keluarga dan dunia. Saat ini, erosi nilai semakin fenomenal: semakin banyak keluarga yang berantakan; semakin banyak anak-anak yang lahir di luar pernikahan, masyarakat semakin toleran terhadap praktek free-sex, kumpul-kebo, bahkan homoseks. Jelas sekali gaya-gaya hidup seperti itu merupakan hasil dari memburuknya nilai-nilai dan semakin terkikisnya moralitas. Semakin tingginya angka perceraian, semakin maraknya praktek kumpul kebo, perjinahan dan homoseksual, semakin banyaknya anak-anak yang lahir di luar ikatan pernikahan dan kecenderungan semakin banyaknya orang-tua tunggal telah mengakibatkan kerusakan pada banyak keluarga. Sehingga, semakin banyak keluarga yang sedang goyah dan tidak stabil.

Dibandingkan dengan masa lalu, arus perubahan nilai yang terjadi saat ini terasa lebih cepat dan lebih luas. Salah satu aspek kehidupan yang kita lihat mengalami perubahan besar adalah masalah nilai-nilai keluarga sebagai unsur dasar masyarakat. Selama 30 tahun belakangan ini, nilai-nilai telah berubah secara signifikan. Rasa takut akan Tuhan semakin menghilang di dalam masyarakat. Padahal, dasar untuk moral dan pengajaran moral adalah Firman Tuhan dan rasa takut akan Tuhan,”demikian disampaikan Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman, Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI), kepada Tabloid Tritunggal dan Suara Kristen di kantornya di daerah Pal Merah Barat, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

“Keluarga, sebagai institusi pertama yang Tuhan ciptakan agar manusia bisa berkembang dan bertumbuh secara dinamis dan natural,- merupakan unit sosial dasar atau bangunan dasar sebuah masyarakat. Rumah tangga (keluarga) merupakan fondasi masyarakat. Tuhan sendiri yang merancang keluarga sebagai unit sosial yang paling dasar dari sebuah masyarakat,- sebagai tempat untuk belajar, bersekutu, beribadah dan untuk menghumanisasi manusia. Firman Tuhan merupakan dasar untuk kehidupan dan keluarga Kristen dan dasar untuk nilai-nilai Kristen. Nabi Mikha telah menuliskan dasar-dasar untuk sistim nilai kita,”Hai Manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). ,”tegas Pdt. Mulyadi.

Baca juga  PENDIDIK YANG BERSEMBUNYI

Menurut Pdt. Mulyadi, masyarakat mencerminkan keluarga. Kalau keluarga bermasalah maka masyarakatpun akan bermasalah. Kalau kita menghancurkan keluarga-keluarga maka kita menghancurkan sebuah masyarakat dan bahkan menghancurkan sebuah peradaban. Keluarga yang kuat menciptakan masyarakat yang kuat. Keluarga yang sehat, bermanfaat dan yang kuat adalah kekuatan sebuah masyarakat. Masyarakat membutuhkan keluarga-keluarga yang kuat.

Karena itu, tegas Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI) ini, di tengah-tengah krisis nilai dan moral saat ini, maka tugas kita sebagai umat Kristen adalah untuk menyatakan nilai-nilai Kerajaan Allah bagi dunia dan masyarakat. Gereja harus senantiasa menanamkan tatanan-tatanan moral kepada masyarakat. Kita harus terus menyaksikan dan mengajarkan Firman Tuhan kepada komunitas atau bangsa kita karena kita mengasihi bangsa dan negara kita dan karena kita percaya penghormatan dan ketaatan terhadap Firman Allah akan mendatangkan berkat Allah. Gereja harus memimpin dan menuntun umat agar bisa membangun keluarga dan kehidupan yang stabil dan kuat. Gereja yang kuat akan membuat keluarga menjadi kuat. Gereja harus memperkuat perkawinan keluarga. Keluarga, gereja dan masyarakat bergantung pada perkawinan yang stabil. Kehadiran ke gereja merupakan kunci keberhasilan keluarga.

Orang yang dibesarkan dalam perkawinan keluarga yang stabil biasanya secara fisik dan emosional akan lebih baik. Sedangkan mereka yang tinggal dengan ibu tunggal 14 kali kemungkinan besar akan mengalami gangguan fisik dan psikis. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang stabil lebih banyak yang masuk perguruan tinggi, sedikit yang terlibat dalam pergaulan seks bebas, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan sedikit juga yang kalau mereka berkeluarga akan bercerai. Perkawinan yang stabil bisa membantu gereja dan masyarakat. Perkawinan stabil merupakan salah satu solusi keluar dari masalah kemiskinan.

Lebih jauh papar Pdt. Mulyadi, “Nilai-nilai Kristen sangat penting dan sangat diperlukan untuk membangun sebuah masyarakat yang beradab, tenteram, pluralis, tertib, demokratis dan progresif. Nilai Nilai-nilai Kristen seperti tanggung-jawab (sosial), integritas, kekudusan hidup, kerja-keras, karya-amal, kasih, kerendahan hati sangat diperlukan masyarakat. Kualitas dan stabilitas kehidupan keluarga akan langsung mempengaruhi aspek-aspek religius, moral, pendidikan dan pemerintah. Praktek keagamaan berpengaruh pada stabilitas sosial. Karena biasanya basis untuk nilai-nilai masyarakat adalah kepercayaan-kepercayaan religius. Di negara-negara Barat misalnya, karakter masyarakatnya didasarkan atas prinsip-prinsip iman Kristen.

Baca juga  Mengatasi Defisit Bernegara, Melawan Korupsi

Kalau tidak ada nilai-nilai dan pengajaran Firman Tuhan yang benar, maka sebuah keluarga lebih gampang jatuh kedalam godaan-godaan duniawi, dosa, kejahatan, dan kecurangan. Anak-anak yang tidak dibesarkan dalam Firman Tuhan sangat rentan mengikuti perubahan-perubahan dan gaya-gaya hidup yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Kita harus lebih percaya diri tentang iman, panggilan dan status kita sebagai duta-duta Kristus, agar kita bisa sungguh-sungguh mengubah kehidupan orang dan memperbaiki keadaan rohani, fisik dan moral negara kita dan bahkan dunia. Kita harus lebih berambisi memajukan peran organisasi-organisasi Kristen di tengah-tengah masyarakat dan kita harus semakin Injili agar kita bisa tampil beda dan membuat perbedaan dengan kuasa Injil.

Kita sebagai umat Allah harus sadar bahwa rumah-tangga atau keluarga Kristen atau orang-orang benar yang bisa membuat agung dan membuat hebat bangsa kita! “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Ams. 14:34). Tuhan ingin rumah tangga Kristen menjadi keluarga yang hebat sehingga kita bisa mempengaruhi masyarakat.”

 

Menurut Pdt. Mulyadi, ada 9 cara kita sebagai keluarga Kristen memberi dampak yang besar bagi masyarakat, yaitu:

Pertama, melalui (pemilihan) pekerjaan. Kej. 3:19, II Tes 3:10 dan Ef. 4:28 menunjukkan pada kita bahwa Allah memerintahkan kita untuk bekerja selama kehidupan kita. Kita harus menjadi “kepala” bukan ekor.

Kedua, kita bisa mempengaruhi masyarakat dengan menunjukkan perbedaan pendidikan Kristen dalam rumah, sekolah dan dalam gereja dengan produk pendidikan yang lain. Anak-anak yang dididik dengan nilai-nilai pendidikan Kristen yang Alkitabiah akan tampil lebih cerdas dan lebih berhikmat (Luk 2:52).

Ketiga, Kita bisa mempengaruhi masyarakat dengan memilih teman-teman pergaulan yang baik (1 Kor. 15:33, I Tes 5:21-22; Rom. 12:1-2)

Keempat, kita bisa mempengaruhi masyarakat dengan cara mengikuti standar-standar Alkitabiah saat memilih pasangan hidup (Mat. 6:33, Kol. 3:1-2, Yoh. 4:24, II Tim. 3:16-17, I Pet. 4:11, II Pet. 1:3, 21, Mat. 5:3-16).

Kelima, kita bisa mempengaruhi komunitas lingkungan hidup kita apabila segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk menyenangkan hati Tuhan (2 Kor 5:9-10, Mat. 6:24, Mat 12:30)

Keenam, kita bisa mempengaruhi masyarakat apabila kita berbuat dan bersikap baik kepada semua orang, dengan menjadi teladan dan contoh warga masyarakat yang baik. Kita harus hidup suci dalam pikiran dan perbuatan kita. Kita harus menjadikan Kristus sebagai Tuhan atas kehidupan kita di dalam segala hal barulah kita bisa tampil beda (Mat. 5:13-16, Fil. 4:8-9, Fil. 1:27, 2 Kor: 3:2-3, Gal. 5:22-26. Kita harus memiliki kedamaian hidup. (Fil. 4:6-7)

Baca juga  Keselamatan Rakyat Adalah Hukum Tertinggi

Ketujuh, Kita bisa memberi dampak pada masyarakat apabila kita bisa mempengaruhi, membesarkan, mendidik dan mengajarkan anak-anak dengan Firman Tuhan, sehingga anak-anak kita bisa bertumbuh dalam roh takut akan Tuhan. (Rom 14:12, Tit. 2:11-12, II Kor. 5:10, II Tim 2:2, Maz. 78:6-7, Ul. 6:6-7, Ams. 22:6).

Anak-anak kita jangan terlalu sering keluar rumah sendirian ke rumah temannya atau ke mal. Anak-anak harus diajar untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi di rumah. Sementara itu orang tua harus menghabiskan dan menciptakan waktu yang berkualitas, dan harus mampu berkomunikasi dengan baik antar sesama anggota keluarga, seiring kesibukan seorang bapak dan ibu. Kita harus saling menghargai dalam sebuah keluarga. Mampu menerapkan keterampilan memecahkan masalah yang baik di saat-saat krisis. Berdoa untuk keluarga setiap hari.

Keluarga kita akan menjadi keluarga yang hebat apabila kita menjadikan Kristus sebagai pusat di rumah kita (Mat. 6:33). Seorang bapak dalam rumah tangga adalah landasan disiplin, kekuatan kasih dan contoh teladan. Seorang ibu di rumah harus menjadi sumber sukacita, kesenangan, kasih dan rasa manisnya keluarga.

Kedelapan, kita bisa mempengaruhi masyarakat apabila kita bisa membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Gereja, keluarga-keluarga dan pengusaha-pengusaha Kristen yang inovatif dan pemberani harus menjadi sumber sejati kekuatan bangsa kita, untuk membantu pemerintah memecahkan masalah-masalah sosial. Gereja harus membangun lebih banyak karya-karya sosial untuk membantu kaum marjinal.

Kesembilan, Gereja-gereja harus membangun dirinya menjadi organisasi yang kuat, besar dan progresif. Gereja-gereja yang kuat biasanya memiliki semangat kerja-sama tim yang kuat dengan cara merumuskan tujuan bersama dan membangun komunikasi yang baik. Gereja harus berfungsi sebagai pelayanan tim.

Karena itu, kita harus merestorasi atau memperbaharui keluarga Kristen secara biblikal agar bisa menjadi garam, terang, ragi, inspirasi dan teladan bagi komunitasnya sehingga bisa memperkuat masyarakat. Akan tetapi, kita harus memahami bahwa keluarga-keluarga Kristen tentunya tidak sempurna,”tegas Pdt. Mulyadi Sulaeman, ketika mengakhiri wawancara singkat dengan Tritunggal dan Suara Kristen (Hotben Lingga).