PENDIDIKAN KRISTEN PROTESTAN SEBAGAI SPIRIT KEMAJUAN BANGSA

0
76

Hotben Lingga

Universitas jepangSejarah menunjukkan Gereja dan Kekristenan merupakan lembaga yang paling banyak berkontribusi dalam pengembangan pendidikan modern. Protestantisme, misalnya, berjasa besar dalam bidang pendidikan, baik di bidang pemikiran/gagasan (pendidikan untuk semua orang dan sekolah minggu) dan pengembangan sekolah khususnya universitas modern. Denominasi-denominasi Protestanlah yang mempelopori pendirian ratusan universitas terbaik di AS yang saat ini menjadi universitas-universitas terbaik di dunia seperti Harvard, Princeton, Yale, MIT, Cornel, Columbia, Brown, Chicago, Rutgers, Caltech, Boston, USC, Syracuse,Vanderbilt, Duke, Ohio, dll. Di Korea Selatan, Gereja Presbyterian mendirikan Universitas Yonsei yang saat ini menjadi salah satu dari 200 universitas terbaik dunia. Di Indonesia, Gereja juga banyak berkontribusi dalam pengembangan pendidikan. Sekolah BPK Penabur, IPEKA, PSKD, Methodist, Pelita Harapan, Kalam Kudus, Petra, BOPKRI, Harapan Bangsa, Bina Bangsa, merupakan sekolah-sekolah berlatar belakang Protestan. Di tingkat perguruan tinggi, Gereja-gereja dan umat Kristen Protestan mendirikan UKI, UKSW, Universitas HKBP Nommensen, UK Petra, UK Maranatha, UKDW, UKRIDA, UPH, UKIT. UKIM, UKAW, UKIP, dll. Saat ini dimana Protestantisme disebarkan disana pendidikan dimajukan.

Sebagai kelompok kedua terbesar dari segi kuantitas penduduk, partisipasi dan kontribusi Gereja/Umat  Kristen Protestan  di Indonesia dalam bidang pendidikan  masih belum maksimal dan dominan. Gereja HKBP yang memiliki jemaat lebih kurang 4 juta jiwa, hanya memiliki 1 universitas. Idealnya HKBP memiliki 33 universitas. GBI yang memiliki 2 juta jiwa tidak mempunyai 1 universitaspun. Partisipasi Protestan dalam dunia pendidikan tidak mencapai 2 % dari jumlah institusi pendidikan yang ada. Jumlah sekolah Protestan di Indonesia saat ini hanya sekitar 5000-an.

Karena itu, Gereja harus meningkatkan partisipasi dan kontribusi bagi bangsa dan negara  melalui bidang pendidikan. Revitalisasi pendidikan Protestan merupakan solusi dan prasyarat mutlak untuk menjawab tantangan riil problem bangsa, masyarakat dan Gereja di Indonesia saat ini, sebagai bentuk tugas, tanggung-jawab, sumbangsih dan partisipasi konkrit gereja.

Baca juga  1500 Kajian Medis Menyatakan Kuasa Kesembuhan dari Doa Tidak Bisa Disangkal

Revitalisasi Pendidikan Protestan

Partisipasi Gereja dalam bidang pendidikan merupakan salah satu medan pelayanan yang paling strategis, menjanjikan dan terbuka untuk melakukan transformasi dan merekonstruksi bangsa. Saat ini pendidikan  merupakan ladang pelayanan yang paling siap dituai, yang sangat luas, tetapi peluang ini belum begitu banyak dimaksimalkan oleh umat dan Gereja. Masih banyak lembaga Kristen dan Gereja yang belum melek, fokus dan all out untuk memajukan dan membesarkan bidang ini, yang sekedarnya saja menyelenggarakan pendidikan dan juga sedang kembang-kempis, krisis, dan terancam bangkrut.

 

Harus ada konsientisasi dan pencerahan agar Gereja dan umat ‘dibangunkan” dan terlibat dalam transformasi bangsa melalui bidang pendidikan. Sehingga terbangun semangat dan budaya memajukan pendidikan di segala lini. Harus ada  strategi, grand-design dan program yang harus gereja lakukan untuk melakukan revitalisasi dan rekonsolidasi sehingga gereja bisa menjadi “kontributor utama dan terbesar” sekarang ini dan di masa depan.dalam bidang pendidikan.

 

Menurut hemat kami ada 4 prioritas, visi dan action plan urgen yang harus umat dan Gereja lakukan dalam 1 dekade ini sebagai “investasi”  dan “revolusi” dalam bidang pendidikan:

 

  1. Dalam satu atau dua dekade ini, Gereja dan umat harus melakukan kuantifikasi dan massifikasi (multiplikasi) dalam bidang pendidikan. Gereja harus meningkatkan partisipasinya dari hanya sekitar 2 % menjadi 50%. Gereja HKBP, Methodis, Gereja Kristus, GKY, GKJ, GPM, GPIB, GKI, GKP, GBI, GMIM, GSJA, GRII dan 100 sinode besar lainnya serta umat, masing-masing digerakkan untuk mengejar pertumbuhan 100% dalam dekade ini. Di AS, masing-masing sinode besar seperti Lutheran, Presbyterian, Baptis, Methodis memiliki paling sedikit 50 universitas/college. Idealnya masing-masing sinode juga memiliki paling sedikit 1 universitas. Skala lembaga pendidikanpun haruslah besar. Misalnya, Universitas Yonsei di Korsel mempunyai 37.000 mahasiswa. Di Indonesia, tidak ada satu universitas Protestan-pun yang jumlah mahasiswanya mencapai 15.000 orang. Bandingkan dengan banyak Universitas Islam yang memiliki jumlah mahasiswa di atas 20.000. Puji Tuhan, Pak Mochtar Riady akan segera membangun 1000 sekolah di seluruh Indonesia.
Baca juga  Dr. Jonathan Parapak: Pendidikan itu Untuk Mentransformasi Kehidupan

 

  1. Ratusan STT Protestan yang tersebar di seluruh Indonesia agar dikembangkan atau digabungkan menjadi universitas. Gereja Protestan harus mengubah mindset dan kecenderungan untuk mendirikan STT ke pola-pikir mendirikan universitas.Di samping itu, mindset/orientasi penanaman gereja harus diubah menjadi gerakan memajukan/membangun sekolah baru.

 

  1. Lembaga pendidikan Protestan harus berorientasi keunggulan dan kualitas terbaik. Sekolah BPK Penabur telah menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi pendidikan di Indonesia, dimana sekolah-sekolah ini menjadi sekolah yang paling banyak menghasilkan siswa peraih medali olimpiade ilmiah tingkat internasional. Universitas Yonsei yang mempunyai kampus seluas 220 HA di Korsel merupakan 1 dari 3 universitas terbaik. UPH, UKI, UKSW, Petra, Maranatha, Nommensen dll harus bisa menjadi best of the best universities di Indonesia. 1 dan 2 dekade ke depan, harus ada paling sedikit 10 universitas Protestan di Indonesia masuk 100 besar dunia.

 

  1. Lembaga Pendidikan Protestan harus mencari dana abadi yang besar agar bisa berorientasi pelayanan dan sosial (menjadi non-profit organization). Gereja harus mengupayakan agar biaya pendidikan terjangkau, murah dan menyediakan banyak beasiswa. Untuk itu, Gereja harus mengembangkan dirinya menjadi lembaga yang kuat, kaya, kreatif dan inovatif.

 

Jika gereja dan umat mengupayakan keempat hal ini, maka Pendidikan Kristen Protestan di Indonesia akan menjadi spirit bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, serta menjadi sumber inspirasi, pengharapan, berkat dan jembatan emas untuk mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia. Masyarakat dan bangsa akan sungguh-sungguh merasakan kontribusi dan partisipasi gereja dalam bidang pendidikan, sehingga akan membangkitkan apresiasi, sikap penerimaan dan respek terhadap kekristenan; dan akan mempermuliakan nama Tuhan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here